It'S That You? (Kamu Yang Kutunggu)

It'S That You? (Kamu Yang Kutunggu)
Part 68


__ADS_3

🌺Happy Reading🌺


Setelah ucapan tegas Hafa tadi, hanya ada keheningan selama sisa perjalanan mereka ke rumah. Ingin sekali Rindi membujuk kembali kakaknya, namun sepertinya Hafa terlihat begitu marah dan tak ingin bicara sama sekali, membuatnya merasa takut untuk berbicara lagi.


Hafa pun masuk ke dalam tanpa menunggu Rindi yang keluar dari mobil setelahnya. Ia melangkahkan kakinya langsung menuju kamarnya. Mengabaikan sang mama yang tengah menikmati teh sorenya di ruang keluarga.


Brak!!


Terdengar pintu di tutup dengan keras membuat wanita cantik yang berada di kamar terlonjak kaget.


‘Astaghfirullah!!!’ pekik Ara saat melihat suaminya membanting pintu dan segera melangkah menuju kamar mandi, tak menyapa dirinya. Niat hati ingin menyampaikan kekesalannya karena di tinggal pergi saat tidur, eh malah melihat pemandangan yang mengerikan. Suaminya datang dengan wajah tegang dan dinginnya, namun tatapannya tersimpan kesedihan yang mendalam, hingga ia mengurungkan niatnya menegur sang suami.


Hingga kumandang Adzan maghrib terdengar, Hafa masih berada di dalam kamar mandi, dan hanya terdengar suara kran yang menyala.


Tok!! Tok!!


“Mas…!! Mas!!! Masih belum selesai?” teriak Ara setelah mengetuk pintu kamar mandi.


Tak terdengar sahutan dari dalam, namun tak berapa lama pintu terbuka dan sosok tinggi tegap itu berdiri di dengan rambut dan tubuh yang masih basah.


“Mas kenapa?” tanya Ara lirih melihat suaminya yang terlihat sedih.


Bukannya menjawab pertanyaan istrinya, Hafa langsung mendekap erat sang istri yang terlihat kebingungan.


“Mas ganti baju dulu, abis itu kita bicara” lirih Ara sembari mengusap punggung suaminya.


Hafa hanya mengangguk, lalu melepas rengkuhannya pada sang istri, ia pun segera menuju lemari di mana bajunya di simpan, di ikuti sang istri yang akan mengambilkan dan juga ia harus mengganti bajunya karena ikut basah saat Hafa mendekapnya.


“Mas sudah ambil wudhu?”


“Sudah dek”


Ara menghela nafas lega, lalu tersenyum, “kalau gitu Ara ganti baju dulu, sekalian wudhu, tungguin Ara dulu”


“Hmm” Hafa tak banyak bicara dan segera mengganti pakaiannya, sementara Ara menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya dan mengambil wudhu.


Setelahnya kedua nya menunaikan kewajiban mereka, dengan Hafa yang menjadi imamnya.


Hafa tampak termenung dalam doanya, wajahnya menunduk begitu dalam, hingga tanpa terasa air mata mengalir dari kedua pipinya.


Ara yang melihat suami termenung pun mendekat kemudian mendekap erat sang suami yang ia yakini dalam kondisi sedih saat ini.

__ADS_1


“Mas takut dek” lirih Hafa dalam dekapan sang istri.


Ara hanya mendengarkan tanpa ingin menyela ucapan suaminya. Ia akan membiarkan suaminya bercerita tanpa di minta.


Cukup lama Hafa terisisak dalam dekapan istrinya. Jika bersama istrinya ia tak akan segan menunjukan sisi lemahnya, ia tak sekuat yang terlihat, ada kalanya ia juga merasa rapuh dan begitu lemah saat ada hal yang tak bisa di tahannya.


Keinginan sang adik yang ia dengar sore tadi saat dalam perjalanan pulang membuatnya kembali merasa takut. Bayangan kejadian beberapa tahun silam, saat Rafif, adik laki-lakinya meninggal dan juga kejadian beberapa minggu lalu terus terngiang dalam pikirannya.


Ara mengusap pelan punggung sang suami, berharap bisa menyalurkan rasa nyaman dan kasih sayangnya agar sang suami merasa lebih tenang.


Ara tau sang suami dalam kondisi tak baik-baik saja, selama beberapa bulan menikah, beberapa kali memang Hafa telah menunjukan sisi lemahnya, namun biasanya itu tak berlangsung lama, dan dengan dekapan hangat seperti ini, suaminya akan segera merasa membaik.


***


Setelah menjalankan ibadah isya berjamaah, Hafa memilih berbaring tanpa ingin turun untuk makan malam.


Ara pun membiarkannya dan berniat akan mengambilkan makan malam untuk suaminya agar makan di kamar saja.


“Hafa mana Ra?” tanya mama Hesti yang melihat menantunya ke ruang makan seorang diri.


“Lagi gak enak badan ma, Ara akan mengambilkan makanannya untuk makan malam.”


“Mas Hafa belum cerita apa-apa dek, kenapa kamu berpikir seperti itu?”


Rindi menghela nafas kemudian menatap mama dan kakaknya bergantian.


“Tadi Rindi minta di ajarin naik motor mbak”


Ara dan mama Hesti menghela nafas mendengar ucapan yang baru saja Rindi lontarkan, sepertinya sudah bisa menebak penyebab Hafa tak ingin makan malam dan juga langsung pergi ke kamarnya tadi saat pulang.


“Kenapa ingin belajar naik motor?” tanya Ara pelan, tak ingin memancing amarah dari adik iparnya yang memang beberapa kali merengek di ajari naik motor, sebelum kecelakaan beberapa waktu lalu terjadi.


“Rindi ingin berangkat ke kantor sendiri mbak, Rindi udah dewasa mbak, kedepannya juga kalau mbak udah lahiran, mas Hafa pasti akan lebih repot, makanya itu Rindi pengen belajar motor”


Deg!


Ara terpaku mendengar penjelasan, jadi karena dirinya, adik iparnya ingin belajar motor,


“Kan bisa naik taksi dek” bujuk Ara dengan lembut.


“Mbak Ara aja di ijinkan kok aku gak di ijinkan naik motor, mas Hafa mulai pilih kasih” ucap Rindi dengan nada biacara yang terdengar begitu kesal.

__ADS_1


“Bukan gitu dek, mbak kan udah bisa dari dulu”


“Ya makanya Rindi juga pengen mbak!”


Ara kembali menghela nafas sementara mama Hesti memilih diam, ia tau kenapa anak sulungnya itu melarang Rindi belajar motor, kilasan kejadian masa lalu masih terekam jelas dalam ingatan mama Hesti, dimana ia kehilangan putra keduanya, dan juga membuat putra sulungnya terpuruk beberapa waktu.


“Mas Hafa hanya tak ingin kamu kenapa-napa dek?”


“Tapi itu bikin Rindi seperti terkekang mbak, Rindi gak bisa ke mana-mana kalau tidak di antar” celetuk Rindi menyerukan isi hatinya selama ini.


“Kalau kamu mau, bisa pakai transportasi lain dek, tidak harus naik motor”


“Tapi Rindi pengen mbak, Rindi pengen kayak mbak, pengen kaya temen-temen kantor yang begitu santai naik motor, sedangkan Rindi, pulang pergi selalu di jemput, kalau kondisi jalan padat gak bisa bergerak cepat seperti motor mbak”


“Maksud mas Hafa baik dek, dan lagi mas Hafa punya alasan tak mengijikanmu naik motor”


“Tapi Rindi sudah dewasa mbak, seharusnya tak masalah kalau belajar motor”


“Masalah kalau kamu belum begitu mahir dek” timpal mama Hesti yang akhirnya menyahut, tak ingin anak bungsunya itu terus mencecar menantunya.


“Makanya Rindi perlu belajar ma” rengak Rindi yang masih bersikap keras kepala, dan meminta dukungan dari sang mama.


“Kamu kan bisa pakai mobil dek, bukankah kamu sudah bisa?” timpal Ara kembali


“Rindi pengen motor mbak!!”


“mas Hafa tak akan pernah mengijikanmu dek, mama juga tak akan mengijinkannya, kalau kakakmu tak menginginkannya” jawab mama tegas,


“Mama pilih kasih sekarang?”


“Bukan gitu dek, mama hanya tak ingin kakakmu kembali terpuruk karena traumanya dek”


Deg!!


Tbc


Hallo semua 🤗🤗🤗


Mohon dukungannya 🙏🙏🤩🤩🤩


Love you All 😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2