
🌺Happy Reading🌺
Sore harinya kediaman Hafa terlihat ramai karena beberapa kerabat dari keluarga besar papa Ilham maupun mama Mira datang untuk menjenguk Ara yang sudah pulang dari rumah sakit.
Beberapa sepupu yang cukup dekat dengan Ara juga merasa tekejut saat mendapatkan kabar bahwa Ara terlibat dalam kecelakaan beruntun tempo hari. Mereka tak bisa langsung menjenguk di rumah sakit karena memang di larang papa Ilham dengan alasan agar Ara bisa berisitirahat dan fokus dengan kesembuhannya dulu, dan sebagai gantinya kerabatnya akan di beri tau waktu Ara pulang dari rumah sakit.
“Kamu baik-baik aja kan Ra?” tanya salah satu sepupu Ara setelah menyalami semua orang yang ada di sana. Kerabat yang baru datang pun menatap Ara yang menjadi objek utama.
“Alhamdulillah mbak, Ara sudah baik”
“Gimana ceritanya bisa terlibat kecelakaan beruntun sih Ra?” pertanyaan yang membuat beberapa kerabat penasaran selama beberapa hari ini akhirnya ada yang menanyakan kronologi kejadian yang menimpa Ara dan adik iparnya tempo hari.
“Ara cuma kesenggol kok mbak, Alhamdulillahnya gak parah, waktu itu kan Ara lagi jalan pulang sama adik ipar, naik motor, kecepatan sih sedeng aja, karena emang jalan agak ramai kan, posisi juga gak di tengah, sudah di pinggir, tapi ya emang lagi musibahnya aja, mobil yang agak jauh di belakang Ara ada rem blong, sepertinya emang sempat menghindar jadinya Ara cuma kesenggol aja, yang parah malah yang berada di depan Ara” papar Ara menjelaskan kejadian yang menimpanya.
“Tapi katanya kamu gak sadar waktu di bawa ke rumah sakit?”
“Iya, Ara gak inget apa-apa setelah jatuh, hanya samar-samar denger suara ribut, terus gak inget lagi”
“Yang luka mana aja Ra? Selain kepala?”
“Badan sakit semua mbak waktu bangun tidur, mungkin karena jatuh terbentur, kepala sama tangan ada lukanya, lecet aja”
“Tapi kata om Ilham kamu harus bedrest?” timpal sepupu yang lain.
“Iya mbak, soalnya dokter khawatir kalau kandungan Ara kenapa-napa, jadi harus bedrest dulu kemarin” jawab Ara pelan, tubuhnya sedari tadi bersandar pada suami karena semuanya duduk lesehan di ruang keluarga dengan alas tikar.
“Kamu hamil?” tanya salah satu di antara mereka, pasalnya keluarga besar Ara belum mengetahui kondisi Ara yang tengah mengandung. Papa Ilham hanya menjelaskan singkat kondisi Ara dan meminta untuk tak menjenguknya selama di rumah sakit.
Ara hanya mengangguk, wajahnya sudah terlihat lelah karena sedari tadi menyambut keluarganya yang datang hilir mudik.
__ADS_1
***
Menjelang maghrib keluarga Ara berangsur meninggalkan kediaman Hafa, mereka pun kembali ke rumah masing-masing setelah melihat kondisi Ara yang telah membaik, di tambah kabar bahagia yang mereka dengar tentang kehamilah Ara.
Kerabatnya yang tadinya julid lantaran mengira Ara mandul pun akhirnya hanya terdiam, saat ikut menjenguk pun tak banyak bicara, hanya sekedar menyapa dan menikmati cemilan yang di hidangkan untuk mereka.
Saat suasana lebih sepi, Rindi pulang bersama dengan dua orang rekan satu divisinya. Saat terdengar adzan maghrib berkumandang, ketiganya masuk ke dalam rumah yang tampak lengang.
“Bang Ghani! Rizal!” pekik Ara setelah mendengar ucapan salam dari ketiga orang yang memasuki ruang tengah.
“Hai… mbak? Sudah sehat?” tanya Rizal yang memang cukup akrab dengan Rizal.
“Alhamdulillah” jawab Ara kemudian mempersilakan kedua rekannya duduk, sementara Rindi ke kamarnya untuk meletakan tasnya.
Hafa dan kedua orang tua Ara pun menyapa kedua rekan Ara yang telah duduk di depan mereka. Mereka berbincang sebentar sebelum papa Ilham mengajak semuanya untuk ibadah berjamaah.
Setelah beberapa saat menjalankan ibadah maghrib, mereka kembali duduk lesehan. Kali ini Rindi sudah ikut bergabung setelah mengganti pakaiannya, dan juga mama Hesti yang baru saja kembali dari dapur untuk membuatkan teh hangat untuk kedua rekan menantu juga anak bungsunya.
“Meong!!!!”
Tiba-tiba terdengar Amoy yang mengeong dan mendekati Rindi yang duduk paling pinggir. Tubuhnya ia duselkan pada kaki Rindi, membuat Rindi berteriak kencang.
“Mama!!!!”
Rindi pun terlonjak kaget dan berdiri menghindari kucing gembul bermata bulat itu. Rindi pun bergidik geli dan naik di atas sofa yang tak jauh dari sana dan menaikan kedua kakinya.
“Kucing siapa itu ma?” tanya Rindi terbata dengan wajah gelinya, tubuhnya meringkuk dengan tangannya mencengkram sandaran sofa.
“Amoy sini” panggil Farhan pada kucing sang kakak yang kini berkeliaran di ruang tengah,
__ADS_1
“Kucing mbak dek” jawab Ara yang hendak meminta kucing gembulnya yang telah mendusel di pangkuan Farhan.
“Jauhkan dari sini sih mbak” Rengek Rindi yang masih belum barani turun dari sofa membuat semua orang terkekeh melihat tingkah Rindi.
“Ini lucu tau mbak, jinak kok” timpal Farhan yang tak mau menyerahkan kucing gembul di pangkuannya pada sang kakak, karena posisi duduk Ara tak begitu jauh dari Rindi yang sedang meringkuk di atas sofa, sedangkan posisinya duduk cukup jauh dari keduanya.
“Lucu, tapi geli…. “ ucap Rindi yang masih bergidik.
“Coba pegang aja dek, malah nanti bikin gemes” timpal Hafa yang ingin adiknya itu tak lagi menghindari kucing gembul yang terlihat menggemaskan itu.
“Gak mau!” pekik Rindi yang melihat Farhan berdiri dengan menggendong binatang gembul menggemaskan itu.
Farhan yang hendak melangkah ke kamar yang telah di siapkan untuknya pun tiba-tiba mendekati adik ipar kakaknya dan menggoda dengan mendekatkan kucing gembul itu ke arah Rindi yang masih berpegangan pada sandaran sofa.
“Aaaaa!!!” sontak saja Rindi histeris dengan kelakuan jahil dari Farhan. “Mama!!!”
Farhan yang sudah lama tak bersikap jahil karena sang kakak tak tinggal satu atap dengannya pun menemukan sasaran baru sebagai objek kejahilannya.
Kedua rekan Ara yang tadinya berbincang dengan Ara pun seketika menoleh ke arah Rindi yang heboh di atas sofa, tangannya bergerak mengibas seolah mengusir kucing yang masih dalam gendongan Farhan.
Mama Hesti yang melihat pun hanya terkekeh melihat tingkah keduanya, rasanya rumah ini terasa begitu ramai karena tingkah kekanakan keduanya.
Sementara papa Ilham dan mama Mira hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah jahil anak bungsu mereka, sudah hafal dengan tingkah putra kesayangannya itu.
“Mama…. Mas Hafa…. Jauhin kucingnya ma” rengak Rindi yang begitu panik, padahal Farhan hanya berdiam diri di dekatnya, tak lagi menyodorkan kucing gembul itu pada adik dari kakak iparnya itu.
“Kucingnya masih di pegang Farhan dek” bukannya membantu sang adik, Hafa malah berucap santai dengan terkekeh pelan.
“Masukin kandang aja dek” pinta Ara akhirnya tak tega setelah melihat wajah Rindi yang masih bergidik karena kucing gembul kesayangannya.
__ADS_1
Tbc