
🌺Happy Reading🌺
Beberapa hari di rawat di rumah sakit, akhirnya Ara di ijinkan pulang dengan catatan tak boleh melakukan aktivitas terlalu berat, dan di anjurkan untuk control secara berkala. Sementar Rindi sudah masuk kerja sejak 3 hari yang lalu, karena memang kondisinya yang sudah memungkinkan untuk beraktivitas seperti biasa, meski ada perban yang membalut tangan dan kakinya.
“Rin, Ara sudah di ijinkan pulang rumah sakit?” tanya bang Ghani yang memang setiap hari mengupdate perkembangan kesehatan rekan paling senior di antara 2 orang lainnya.
“Sudah bang, siang ini sudah boleh pulang”
“Ara beneran mau resign ya Rin?”
“Sepertinya bang, apalagi mbak Ara lagi hamil, pasti gak di bolehin kerja sama mas Hafa”
“hmmm… sayang banget kalau harus resign” desah bang Ghani yang akan sangat kehilangan rekan kerja yang begitu bisa ia andalkan. Tapi dirinya pun juga tak bisa memaksa agar Ara tetap bekerja, sementara alasan utamanya adalah soal kesehatannya, terlebih karena kondisi hamil.
“ya mau gimana lagi bang” timpal Rindi yang juga merasa kehilangan, tapi setidaknya ia masih bisa bersama sang kakak saat di rumah.
“Nanti sore jenguk mbak Ara bang?” timpal Rizal yang memang sedari tadi fokus dengan pekerjaannya, namun masih bisa menyimak obrolan kedua rekannya.
“Iya boleh, nanti kamu pulang sama kita aja Rin, gak usah minta jemput, atau pesen taksi” jawab Bang Ghani berunding mengajak keduanya berdiskusi tentang kemungkinan pencarian kandidat pengganti Ara, karena selama beberapa hari Ara tak masuk, pekerjaannya di limpahkan ke Rizal dan Bang Ghani yang menghandle langsung.
Tentu saja hal tersebut tak bisa berlanjut terus menerus, karena ada masa-masa mereka begitu padat dengan perkerjaan mereka sendiri sehingga akan sangat kuwalahan menghandle pekerjaan yang biasa di kerjakan Ara.
Bila di kantor Rindi tengah sibuk dengan pekerjaan di timnya, di rumah sakit tampak Ara juga sibuk bersiap untuk pulang, sementara Hafa masih mengurus administrasi kepulangannya.
Senyum tak lepas dari bibir Ara saat mengemasi barang-barangnya. Ia sungguh senang akhirnya bisa kembali ke rumah setelah satu minggu di rawat. Kondisinya sudah jauh lebih baik, dan tak lagi merasa pusing meski plaster perban masih menghiasai dahinya.
Cklek!
Ara pun menolah ke arah pintu ruangan yang terbuka dan melihat suaminya masuk dengan senyum manis yang menghiasai bibirnya meski wajahnya terlihat lelah.
“Sudah bisa pulang sekarang mas?” tanya Ara dengan antusias.
“Tunggu obat kamu dulu dek” Hafa mendekati sang istri mengusap pelan pipinya yang terlihat chuby.
__ADS_1
Keduanya berbagi senyuman, dan saling menatap dengan mata binar mereka.
“Jangan sakit lagi ya dek” ujar Hafa kemudian mendekap erat sang istri yang masih berdiri menatap sang suami.
“InsyaAllah mas, do’akan Ara dan baby kita selalu sehat”
“Aamiin.. pasti sayang, mas akan selalu mendo’akan kalian” Hafa pun melepas rengkuhannya, mendaratkan kecupan sayang di dahi istrinya kemudian beralih ke perut sang istri yang terlihat rata, namun terasa kencang.
“Baby baik-baik di perut mama yang sayang”
“iya papa” jawab Ara mewakili calon anaknya kemudian menusap lembut kepala Hafa yang kini bersandar di perutnya.
“Makasih sayang”
Hafa tak bisa menjabarkan bagaimana rasa bahagianya kini, begitu pun dengan Ara yang sangat bersyukur, penantiannya selama ini di balas Tuhan dengan sangat manis, ia diberikan jodoh yang seperti suaminya kini, sosok pria yang bertanggung jawab, penuh perhatian dan begitu menyayangi keluarganya. Dan kini mereka menanti buah hati mereka, yang dalam beberapa bulan lagi akan melengkapi kebahagiaan mereka.
Setelah beberapa waktu menunggu, keduanya akhirnya bisa keluar dari rumah sakit. Keduanya berjalan beriringan dengan Hafa yang menggandeng sang istri, tanpa barang bawaan mereka, karena sebelumnya Hafa sudah meletakannya di dalam mobil.
“Mama papa gak ke sini kan mas? Ara belum kasih tau mereka kalau Ara pulang lho” tanya Ara saat mereka menyusuri lorong rumah sakit.
Ara pun mengangguk, perlahan mereka akhirnya sampai ke mobil dan melajukan mobilnya menuju kediaman mereka.
“Besok Ara masuk kerja ya mas, ajuin resign?” pinta Ara saat dalam perjalanan pulang.
“Yakin sudah bisa buat kerja dek?”
“Hmmm, Besok Ara ajuin resign mas, tapi emang ga bisa keluar besok juga, harus nunggu pengganti dulu, kecuali kalau Bang Ghani sudah siap di tinggal tanpa ada pengganti Ara”
“yang penting kamu jangan capek-capek dek, mas cuma khawatir kondisi kamu dan baby dek”
“InsyaAllah gakpapa mas, mas juga dengar sendiri dokter bilang apa habis di periksa kemarin”
Hafa pun mengangguk, kemudian mengusap lembut kepala istrinya, “Makasih ya sayang, udah mau resign dari kerjaan kamu”
__ADS_1
“Hmm, ini juga kemauan Ara kalau Ara hamil mas, di tambah kecelakaan kemarin, alasan resign makin kuat juga kan,” Ara tersenyum pada sang sang suami yang masih fokus mengemudikan mobilnya. Mereka pun sudah membicarakan hal ini di awal menikah, jadi tak ada alasan lagi bagi Ara untuk menunda resignnya.
Tak berapa lama kemudian, mereka telah sampai di rumah dan benar saja, kedua orang tua Ara telah berada di sana menunggu kedatangan mereka.
“Alhamdullillah, akhirnya kamu pulang juga nak” ucap mama Mira seraya memeluk putri sulungnya saat Ara dan Hafa memasuki ruang tamu.
“Ara gak betah di rumah sakit ma, lebih nyaman di rumah”
Semua orang tersenyum mendengar jawaban yang Ara lontarkan. Mereka pun duduk di sofa setelah saling menyapa dan menyambut kedatangan menantu rumah itu.
“Mungkin keluarga besar nanti pada ke sini kak, jenguk kamu nanti”
“Ya ma, mama sama papa tetep di sini kan nanti?”
“Iya, nanti kami di sini”
“Mama papa nanti nginep sini dek, mbak tuti udah beresin kamar tamu buat papa mama” timpal Hafa menyampaikan hasil permintaannya tadi pagi pada kedua mertuanya, untuk menginap di rumah mereka.
“Wah, beneran?”
“iya, suamimu minta kami nginep, mertuamu juga bilang gitu jadi ya gapapa sesekali nginep sini” jawab mama Mira yang tersenyum melihat putrinya sudah terlihat ceria meski dahinya masih tertutup plaster untuk menuntup lukanya.
“Farhan juga nginep nanti?”
“Belum tau, mas belum tanya sama Farhan”
“Nanti tanyakan saja, mungkin bentar lagi adekmu sampai sini” timpal papa Ilham yang sedari tadi menyimak denga mengotak-atik ponselnya.
“Iya pa”
“mbak Ara… alhamdulillah mbak sudah pulang” pekik mbak Tuti yang tanpak senang melihat majikannya itu telah duduk di rumah setelah beberapa hari tak kelihatan lantaran di rawat di rumah sakit.
Mbak Tuti yang tadi pergi untuk berbelanja baru melihat Ara yang telah duduk di samping suaminya saat dirinya masuk ke dalam rumah dengan menenteng kantong besar belanjaannya.
__ADS_1
“Iya mbak, Alhamdulillah…”
Tbc