
🌺Happy Reading🌺
Pagi harinya, setelah membantu sang mama menyiapkan sarapan, Ara pun mengajak suaminya untuk berjalan-jalan di sekitar rumahnya. Udara yang masih seger dan terasa dingin membuat Hafa melipat kedua lengannya di dada.
“Mas kedinginan?”
“Sedikit dek, kamu kenapa ga bilang kalau bakal sedingin ini?” ucap Hafa merapatkan tubuhnya di sisi Ara yang mengenakan jaketnya.
“Ya kan Ara udah pakai jaket, Ara kira mas sudah paham kalau udaranya dingin.”
Hafa pun meraih lengan sang istri, kemudian meminta Ara merangkulnya, “mas juga ga bawa jaket dek, kamu sendiri yang taruh baju mas kemarin di lemari kan, gak ada jaket”
“Ya kan Ara bisa pinjam punya Farhan mas”
“Rangkul lengan mas, agak hangat kalau gini”
“Mas banyakin gerak, kayak olahraga itu, nanti lama-lama gak dingin”
“Gini aja dek, lebih hangat dan romantis”
Pipi Ara merona, masih cukup malu dengan sikap mesra sang suami apalagi ini di jalan umum, meskipun belum banyak warga yang melintas. Namun tak urung, Ara tetap melingkarkan lengannya di lengan kokok suaminya.
Keduanya berjalan bergandengan, menyusuri jalan-jalan di tengah sawah, merasakan hawa sejuk yang menerpa kulit mereka. Beberapa warga yang sudah terlihat beraktivitas menyapa pengantin baru itu, dan sesekali menggoda mereka.
“Lingkungan di sini enak dek, seger” celetuk Hafa saat tak lagi merasa kedinginan.
“iya mas, apalagi kalau lagi musim tanam sawah kaya gini, padinya masih hijau, seger banget”
“hmmm….. mau jajan di pasar gak mas?”
“jajan apa? Bukannya tadi kamu sudah masak?”
“Hmm,.. iya sih, ya sudah lain kali saja, takut mubazir nanti, dekat sini ada pasar pagi, jualnya aneka makanan, untuk sarapan gitu”
Hafa hanya mengangguk mendengarkan cerita Ara yang menceritakan tempat-tempat di desanya.
Setelah cukup lama berjalan, Ara mengajak suaminya untuk kembali ke rumah.
Saat memasuki teras tampak mama Mira dan Papa Ilham tampak duduk bersantai dengan teh hangat dan pisang goreng yang sepertinya masih hangat tersaji di hadapan mereka.
“Wih, mama goreng pisang?” pekik Ara girang kemudian melangkah ke dalam untuk pergi ke dapur.
Sementara Hafa memilih duduk di samping papa mertuanya. Ketiganya kini duduk di atas tikar, dan tak lama kemudian Ara kembali ke teras dengan nampan berisi dua cangkir teh dan sekotak tissue di atas nampan.
__ADS_1
“Mas gak cuci tangan?” tanya Ara yang melihat suaminya telah duduk di samping sang papa.
“Udah, di kran depan tadi”
“Oh, ini teh untuk mas”
“Terimakasih dek” Hafa menerima teh itu kemudian meneguknya perlahan.
“Jalan-jalan sampai mana tadi?” tanya mama pada sang putri yang baru saja mencomot pisang goreng dalam piring di depannya.
“Cuma sampai pertigaan depan rumahnya pak Mus ma, udah capek”
“Gak sampai pasar?”
“Gak ma, lain kali aja sekalian cari sarapan di sana”
“Farhan mana pa?” tanya Hafa yang tak melihat adik iparnya.
“Anak itu, kalau libur ya habis subuh tidur lagi” celetuk papa Ilham yang begitu hafal kebiasaan putra bungsunya.
“Capek mungkin pa” celetuk Ara membela sang adik, padahal biasanya ia ikut marah saat dan berkoar-koar membangunkan sang adik bila di saat jam segini masih tidur.
“Ya mungkin, tapi ya ga elok aja jam segini masih tidur”
“Adek sudah bangun ya” pekik seorang yang menjadi bahan pembicaraan. Ternyata pria yang mau menginjak usia dewasa itu telah berdiri di ambang pintu meski dengan muka bantalnya.
“Adek mau susu dong kak” rengeknya kemudian melangkah turun daru teras dan mencuci mukanya.
Tak ingin banyak berdebat, Ara pun bangkit dari duduknya. Melangkahkan kakinya ke dalam dan tak lama kemudian kembali dengan segelas susu coklat di tangannya.
“Nih…”
“Makasih kak” pekik Farhan girang dan segera mengambil gelas yang di sodorkan untuknya.
Hafa yang baru pertama kali melihat sisi manja adik iparnya itu menggelengkan kepala, dan ia pun merasa nyaman dengan kehangatan yang ada dalam keluarga istrinya.
“Jangan kaget melihat mereka ya Fa, mereka itu ada kalanya kaya tikus dan kucing yang ga ada akur-akurnya, tapi ada kalanya juga gini.” Celetuk papa Ilham yang melihat menantunya menggelengkan kepala.
“iya pa, Hafa sama Rindi juga kaya gitu kok”
Kelimanya kemudian menikmati pisang goreng yang masih tersaji di depan mereka, seraya berbincang beberapa hal. Hingga saat pisang goreng yang tersaji habis, Ara mengajak suaminya untuk membersihkan diri sebelum makan bersama di ruang makan.
Setelah sarapan bersama, papa Ilham kedatangan tamu dari beberapa tetangga, sementara mama Mira duduk untuk menemani sang suami, sembari menyajikan berbagai cemilan.
__ADS_1
Farhan yang bosan pun memilih duduk di ruang keluarga dengan laptop di pangkuannya.
“Ngerjain apa dek?” tanya Hafa yang baru saja keluar dari kamar dan melihat adiknya duduk lesehan sembari bersandar di sofa.
“Eh, laporan mas, nyicil”
“Ohw, laporan KKN kemarin?” tanya Hafa yang ikut duduk di samping adik iparnya.
“hmm, besok senin kalau bisa udah di kasih ke dosbingnya mas,”
“kata Ara tempat KKN mu kemarin terpencil banget ya”
“Iya mas, aksesnya pun agak ngeri, Cuma udaranya enak, sejuk”
“Hmmm, ga ada cerita cinlok nih di sana?’ goda Hafa, yang sepertinya penasaran dengan kisah asmara sang adik.
Farhan yang di tanya pun terkekeh “gak lah mas, kalau teman satu team sih ada, tapi kalau adek ga lah”
“Masa? Atau udah punya pacar dek?”
“Belum mikirin kaya gitu sih mas, jujur sih ya, adek pengen kaya kakak, ga ada pacar, langsung nikah”
“Iya kah? Ara belum pernah pacaran?” Hafa yang tadinya menyakan hal pribadi adik iparnya kini malah tertarik dengan kehidupan sang istri sebelum bertemu dengannya.
Farhan pun menggelengkan kepala membenarkan ucapan kakak iparnya. “Yang deketin ada beberapa? Tapi ya itu ga serius”
“Wah, mas beruntung dong” gumam Hafa girang.
“hmm…. Setau adek emang prinsip yang kak Ara pegang juga sih, emang kakak gak mau pacaran, kalau ada yang serius yang bener-bener berjuang ngajak nikah gitu”
“hmm…. Bagus juga sih, kalau kamu mau pegang prinsip kaya gitu juga?”
“Ya kalau bisa mas, lagian adek kan belum punya apa-apa, uang aja masih minta, malu dong udah punya cewek, masak ngajakin jajan aja minta dulu ke papa atau kakak, yang ada malah kena ceramah panjang lebar kak, tugas kuliah aja udah bikin pusing kak, belum kepikiran buat nambah pusing dengan pacar juga, hehe”
“Hmm, bagus, jempol buat kamu” Hafa pun mengacungkan kedua jempolnya untuk sang adik ipar.
“Kalau mas sudah pernah pacaran?”
Deg!
“Eh”
Tbc
__ADS_1
Terimakasih dukungannya 🤩🤩🤩
Love you All 😍😍😍