
🌺Happy Reading🌺
Setelah selesai dengan persiapannya Ara pun segera mengenderai motor maticnya menuju tempatnya mengais rezeqi, mengabaikan keresahaan hatinya dan mencoba untuk tetap tersenyum di hadapan semua orang, untuk meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja dan selalu bahagia.
Semua aktivitas Ara berjalan dengan lancar hingga sore hari, kali ini tak harus ada lembur untuk menyelesaikan pekerjaannya.
“Sudah di jemput Rin?”
“Sudah mbak, mas Hafa udah di bawah”
“hmm, syukur kalau gitu, ayuh pulang”
Keduanya pun beriringan menuju loby kantor sembari mengobrol, kemudian berpisah di depan loby. Terlihat mobil hitam telah terparkir di depan gerbang, membuat Rindi segera bergegas menghampirinya.
“Rindi duluan ya mbak!” teriak Rindi sembari berjalan ke arah mobil sang kakak terparkir.
“hmm, hati-hati” Ara melambaikan tangannya sembari menenteng jaketnya di lengan kiri, kemudian melangkah menuju parkiran tempat motornya berada.
Saat sampai di parkiran terdengar notice pesan di ponselnya. Ia pun mengambil ponselnya dalam tas dan melihat siapa yang mengirim pesan.
‘Kak, mama sama papa sudah ke tempat budhe ya, nanti kamu nyusul sama adek’
Pesan dari mama itu nyatanya membuatnya menghela nafas panjang.
“Kenapa mbak?” tanya seorang tiba-tiba yang berada di dekat Ara, saking fokusnya melihat ponselnya ia tak menyadari kalau sesorang sudah berada di sana.
“Eh, gapapa Zal”
“Kok hela nafas gitu, ada masalah mbak?”
“Ndak kok, gapapa,” Ara pun nyengir, kemudian memasukan ponselnya ke dalam tas dan segera mengenakan jaketnya. Sementara Rizal hanya mengangguk, menghargai jawaban teman satu timnya, tak ingin bertanya lebih lanjut lagi karena privacynya.
“Mbak duluan ya Zal” ucap Ara saat melihat rekannya itu masih bersiap di atas motor sementara dirinya telah siap melajukan kendaraannya.
“Hmm, hati-hati mbak” jawab Rizal sembari memakai helmnya.
***
Saat sampai di rumah, terlihat Farhan sudah siap dan menunggu Ara di depan televisi sembari memainkan ponselnya.
“Assalamu’alaikum” ucap Ara sembari memasuki rumah
“Wa’alaikumusalam, udah pulang kak?”
“hmm, kamu udah siap ternyata”
Dengan sigap Farhan pun berdiri menyambut sang kakak, mencium takzim tangan sang kakak kemudian duduk kembali setelah sang kakak berkata akan bersiap.
“Kakak okay kan?” tanya Farhan saat melihat sang kakak tampak murung.
__ADS_1
“it’s okay dek, santai aja, ayuh berangkat” ajaknya agar sang adik tak khawatir dengannya.
“kakak jadi mau ambil cuti acara mbak Desi besok?” tanya Farhan saat mereka berada di perjalanan.
Dengan kecepatan sedang Farhan mengemudikan motornya bersama dengan kendaraan laiinya.
“Belum tau dek, sepertinya iya, ga enak kalau ndak ambil cuti dek”
“iya sih, budhe pasti bakal ngomong ini itu, besok kalau ada yang bikin kakak ga nyaman ga usah dengerin kak”
“hmm, iya” jawab dengan tersenyum “kakak gapapa kok”
“kita mampir makan mie ayam dulu dek, laper kakak” lanjut Ara melihat ada warung tak jauh di depan.
“Eh, boleh kak, Aku juga laper”
Farhanpun menepikan motornya kemudian mencari tempat parkir untuk kendaraannya di samping warung.
“Wih, baunya enak, kamu mau apa dek?” celetuk ara saat memasuki are warung.
“Mieso kak”
“Oke, cari tempat duduk sana, kakak pesan kan”
“Siap!!!”
Ara pun mendekati penjualnya yang tengah berdiri di belakang gerobaknya sementara Farhan mencari tempat duduk yang sekiranya nyaman untuknya dan sang kakak.
“Kak, mama chat adek nih, nanyain kakak pulang belum”
“Ya jawab aja” jawab Ara dengan santainya sembari mengambil kerupuk yang di sajikan dalam toples.
“udah, adek bilang kita mampir makan dulu lho ya, biar mama ga nunggu lama”
“hmm,” jawab Ara sembari mengunyah krupuk yang telah ia cocol ke dalam sambal super pedas di depannya.
Sejenak hening terasa karena tak ada percakapan di antara mereka, Farhan yang sibuk dengan ponselnya sementara Ara sibuk dengan krupuk dan cemilan lainnya sembari menunggu Mie Ayam mereka matang.
“Haish….” gerutu Farhan dengan kesal setelah melihat pengumuman di grup kampusnya.
“Kenapa dek?” tanya Ara sembari menoleh pada sang adik, kemudian melihat ponsel sang adik yang menampilkan chat grupnya.
“Besok minggu ada acara kampus kak”
“Ya sudah berangkat sih, kenapa emang?”
“hehe, bagi duit kak” jawab Farhan dengan cengirannya.
“Emang buat acara apa sih?”
__ADS_1
“persiapan buat KKN kak, survey lokasi gitu agak jauh lokasi penerjunannya, bilangnya kemarin agenda surveynya minggu depan, tapi karena ada beberapa hal, dosen pendamping minta kita survey minggu besok, adek kan belum dapat jatah bulanan dari papa kalau minggu besok”
“Lha emang uangmu udah abis?”
“Ya masih, tapi buat jaga-jaga sih kak, ya… ya….” Farhan menggerakan alisnya merayu sang kakak,
Ara pun tersenyum kemudian menyeruput es jeruknya yang kebetulan baru saja di antar ke meja mereka,
“hmmm”
“Beneran lho kak, ya… ya”
“Iya, besok kakak kasih”
“Ah,... love you kak!!,” ucap Farhan girang sembari merangkul sang kakak, mengabaikan tatapan pelanggan lain yang melihat tingkah manjanya.
“udah ih, malu tuh di lihatin orang” ucap Ara dengan tersenyum, sembari melihat beberapa orang,
“Biarin sih kak, peluk kakak sendiri juga, ga ada masalah dong” jawab Farhan cuek sembari melepas rangkulannya bersamaan dengan pesanan mereka yang di letakan di atas meja.
“Silakan mbak, mas,”
“Makasih pak” jawab Ara lalu mendekatkan mangkoknya.
Mereka pun segera menikmati mie ayam yang masih panas terlihat dari uap yang mengepul di atasnya.
Sesekali mereka terlihat asyik mengobrolkan banyak hal, dan Ara pun tak sungkan untuk mengambil sayuran hijau yang berada di mangkok sang adik lantaran adiknya itu tak suka, membuat orang-orang mengira mereka adalah sepasang kekasih yang sedang berkencan.
“Kakak kok lupa sih aku ga suka sayurnya itu” gerutu Farhan sembari memilah sayur di mangkoknya,
“maaf, lupa dek, nih gantinya bakso kakak kamu makan”
“kakak nanti kurang?”
“Ndak, kakak udah kenyang, porsinya banyak banget ini” jawab Ara kemudian kembali mengunyah mie yang masih tersisa di mangkoknya.
Tak berapa lama kemudian mereka menyelesaikan makan mereka dan segera melanjutkan perjalanan menuju rumah budhe Rosi di mana kedua orang tuanya sudah menunggu.
Keduanya kembali berboncengan seolah membenarkan pikiran orang-orang bahwa mereka adalah sepasang kekasih.
Tingkah keduanya itu pun tak luput dari sepasang mata yang tak sengaja melihat mereka keluar dari warung dengan berboncengan yang terlihat cukup mesra.
“Kapan-kapan ke situ lagi kak” ucap Farhan dengan sumringah dengan perutnya yang telah kenyang.
“Hmm, boleh, recommended banget rasanya, porsinya juga banyak banget”
“Heem, enak banget”
“Eh, udah jam segini dek, buruan gih”
__ADS_1
Keduanya terlihat asyik mengobrol hingga tak sadar waktu acara di tempat budhe mereka akan segera di mulai.
Tbc