
🌺Happy Reading🌺
Setelah bersiap-siap Hafa pun mengajak istrinya untuk berangkat ke dealer tempat dulu ia membeli mobilnya. Hafa kembali menghubungi pihak marketing yang dulu menanganinya saat membeli mobil, dan mereka telah membuat janji temu di dealer nanti.
Jarak yang cukup jauh membuat perjalanan sedikit lebih lama. Saat keduanya telah sampai, ia pun menemui seseorang yang ia hubungi tadi pagi. Ara yang tak begitu paham dengan spesifikasi mobil hanya mengikuti sang suami, ia hanya menemani suaminya dan memberikan pendapatnya jika sang suami menanyakan beberapa hal padanya.
“Bagusnya warna apa dek?” tanya Hafa setelah menentukan jenis dan merek mobil yang akan dia beli.
“Warna yang cerah aja mas, jangan hitam, mobil mas kan udah warna hitam”
“Merah gimana?”
“Bagus sih, cocok juga sama Rindi yang ceria gitu”
“Ya udah deh, ambil yang merah ya”
Ara mengangguk, kemudian mendengarkan Hafa kembali berbicara dengan pihak dealer yang akan membantu mengurusi pembelian mobil baru untuk adiknya.
Setelah semua urusan pembayaran dan persyaratan dokumen sudah beres, Hafa pun mengajak istrinya keluar dan menuju mobil mereka.
“Capek dek?” tanya Hafa saat melihat istrinya langsung bersandar saat ia melajukan mobilnya.
“Lumayan mas” jawab Ara yang memang merasa sedikit lemas, “Ara laper mas”
Hafa terkekeh mendengar keluhan istrinya, ia pun mengusap kepala sang istri dengan lembut, kemudian kembali fokus dengan kemudinya.
“Kamu mau makan apa?" Hafa menoleh lagi "Anak papa ingin makan apa?” lanjutHafa dengan tangan kirinya mengusap perut sang istri.
“Ara pengen ramen boleh?” tanya Ara hati-hati, khawatir suaminya tak mengijikannya makan mie.
“Boleh, asal jangan pesan yang pedas ya”
Ara mengangguk dengan antusias, wajahnya seketika berubah segar dengan mata berbinar. Ia pun sudah bisa membayangkan mie dengan kuah kental panas dengan topping chicken katsu yang banyak. Hmmm, air liurnya seakan ingin keluar. Hehe
“Ara mau topping chicken katsunya yang banyak ya mas”
“Iya”
“Ara juga mau di banyakin sayurnya.”
__ADS_1
“iya…”
“Ara mau 2 mangkok, dan Mas gak boleh minta punya Ara nanti”
“Iya…. Eh” Hafa langsung menoleh saat menyadari ucapan terakhirnya.
“No sayang! satu porsi aja ya, nanti kalau belum kenyang makan yang lain”
“Ih, Ara mau dua mas, kan yang makan Ara sama dedek” Ara mencebikan bibirnya karena tak di ijikan suaminya. Mode manja dan kekanakan sedang on.
“Satu mangkok dulu ya sayang, mas nanti juga pesan sendiri, nanti kamu cicip sedikit punya mas gapapa, yach?” bujuk Hafa dengan lembut, tak ingin mood makan istrinya hancur karena tak ia ijinkan makan ramen 2 mangkok.
Ara terdiam sesaat kemudian mengangguk setuju, ia pun meminta suaminya segera memacu laju mobilnya agar cepat sampai ke restaurant yang menyediakan menu makanan jepang.
***
Sesuai permintaan bumilnya, Hafa memesakan ramen untuk sang istri dengan topping special, tidak sesuai dengan porsi aslinya. Ia pun memesan 2 porsi ramen dengan topping yang sama, satu untuk sang istri dan satu lagi untuk istrinya.
Setelah menunggu beberapa lama, satu mangkok ramen dengan topping special tersaji di depan Ara. Mata cantiknya terlihat begitu berbinar melihat makanan berbentuk mie tersebut. Ara terlihat begitu menikmati setiap suap mie yang masuk ke dalam mulutnya.
“Enak sayang?” tanya Hafa saat melihat istrinya kembali menyuapkan mie ke dalam mulutnya.
“Masih belum kenyang?” tanya Hafa saat melihat mengkok sang istri telah habis, dan terlihat memandang mangkok miliknya, sementara di mangkoknya masih tersisa setengahnya, ia yang tak begitu suka ramen memang agak lambat makannya.
“Mau mas suapi?” lanjutnya dengan menyodorkan sumpit dengan mie yang sudah tercapit di sana.
Tanpa menolak Ara pun menerima suapan yang di sodorkan suaminya. Namun saat Hafa menyodorkan suapan kedua, Ara menggelengkan kepala.
“Udah kenyang mas” ucap Ara yang mengusap perutnya,
“Bener udah gak mau lagi?”
Sekali lagi Ara menggelengkan kepalanya, kemudian bersandar di sandaran kursi sembari menunggu suaminya menghabiskan makanannya.
'Huff..... untung gak jadi pesen 2 porsi, siapa yang mau habisin coba, satu suap aja udah, kemauan bumil emang beda . ya Allah, inikah yang namanya ngidam?' Gumam Hafa dalam hati sembari menyuapkan sisa ramen ke dalam mulutnya.
Setelah selesai dengan makannya, Hafa megajak istrinya untuk pulang ke rumah, karena cuaca yang begitu terik, dan ia kahwatir istrinya akan merasa sangat lelah kalau memaksakan diri untuk pergi lagi. Awalnya mereka berencana ingin membeli kado untuk adik mereka, Farhan yang akan diwisuda minggu depan.
“Kita pulang dulu ya dek, beli kadonya besok minggu aja”
__ADS_1
Ara mengangguk dengan kondisi yang sudah lelah, ia menyandarkan punggungnya sementara Hafa kembali fokus dengan kemudinya. Ia pun segera memacu mobilnya di tengah jalan yang cukup padat dengan kendaraan roda empat maupun roda dua.
“Segitu lelahnya ya dek” gumam Hafa pelan saat sudah menghentikan mobilnya di depan rumah, dan melihat istrinya yang telah memejamkan matanya.
Karena tak tega membangunkan istrinya, ia pun menggendong sang istri menuju kamarnya. “Maafkan mas yang membuatnya lelah ya sayang” ucap Hafa kemudian mengecup dahi sang istri. Kali ini ia ikut berbaring di samping sang istri dan mendekapnya erat. Hingga tak lama kemudian ia juga tebuai kea lam mimpi.
***
Setelah satu jam mereka berbaring, Ara mulai membuka matanya, dan merasakan benda berat melingkar di perutnya. Rasa lelah yang sebelumnya ia rasakan kini tergantikan dengan rasa segar setelah memejam matanya beberapa lama. Ia pun semakin terasa nyaman karena bersandar di dada bidang suamianya. Bukannya memindahkan lengan sang suami yang melingkar di perutnya, ia pun malah menduselkan kepalanya mencari kenyamanan yang lebih. Gerakan kepala yang di lakukan Ara membuat Hafa yang semula masih memejamkan matanya , mulai mengerjap karena merasa terganggu.
“Maaf membangunkan mas?” cicit Ara saat melihat mata suang suami sudah terbuka sepenuhnya.
“Hmmm… gapapa sayang” Hafa mengeratkan dekapannya, dan memberikan kenyamanan pada istrinya yang merengkuhnya.
“Tidur lagi kalau masih leleh dek” ucap Hafa sembari menghirup aroma rambut sang istri. Segar dan wangi.
“Ara cuma pengen gini mas, udah gak ngantuk lagi”
“hmm….” Tak ingin merusak kenyamanan sang istri, ia pun memejamkan matanya lagi karena masih teras mengantuk, sejujurnya ia juga merasa nyaman saat istrinya bersikap manja seperti ini.
“Mas masih ngantuk ya?”
“hmmm”
Hari masih siang, namun sebentar lagi adzan ashar akan berkumandang, namun Hafa terlihat enggan untuk membuka matanya. Begitu pun Ara yang terlihat enggan untuk bangun dari posisi nyamannya. Dekapan suaminya adalah tempat ternyamannya, ada rasa hangat dan merasa terlindungi saat berada dalam rengkuhan sang suami.
“Mas…” panggil Ara sekali lagi.
“hmmm…” sekali lagi Hafa hanya membalas dengan gumaman saat istrinya memanggilnya.
“Mas..” panggil Ara lagi sembari mengusap dada sang suami dengan gerakan pola acak.
“hmmm”
“Mas…”
“Kenapa sayang?” tanya Hafa akhirnya setelah Ara kembali memanggilnya.
“Ara lapar”
__ADS_1
Tbc