
🌺Happy Reading🌺
Hingga waktu makan siang, Hafa telah selesai dengan mobil yang dia perbaiki. Setelah menyelesaikan urusannya dengan pemilik mobil, Hafa pun segera mencuci tangan lagi dan menghampiri sang istri yang tampak menopang dagu dengan kedua tangannya.
“Capek Dek?” Hafa mengusap lembut pucuk kepala sang istri, lalu mengajaknya berdiri untuk masuk kembali ke ruang istirahat di mana sang mama berada.
“Kita makan siang dulu ya?” tawar Hafa pada dua wanita kesayangannya “pengen makan apa?”
“Ara pengen nasi padang” jawab Ara yang tampak sudah terlihat lelah.
“Samakan aja Fa, dekat sini ada ndak?”
“Ada ma, jalan dikit tapi, mau makan di sana, atau mas belikan saja”
“makan sana aja mas” jawab Ara yang di angguki mama mertuanya.
“Ya sudah, bentar, mas ganti baju dulu”
Hafa pun melepas gandengan tangan istrinya dan segera mengganti kaos dan celananya dengan pakaian yang ia kenakan tadi saat berangkat.
Setelahnya ia mengajak dua wanita kesayangannya untuk berjalan ke rumah makan padang yang tak jauh dari bengkelnya. Cuaca yang cukup terik membuat dahi Ara pernuh dengan peluh saat sampai di lokasi.
“Terlalu jauh dek?” tanya Hafa saat melihat sang istri terlihat begitu lelah, dengan peluh bercucuran dari wajah cantiknya.
“Hmmm gak.... tapi panas” lirih Ara kemudian mengusap wajahnya dengan tissue yang selalu ia bawa dalam tasnya.
Hafa hanya mengangguk, kemudian menanyakan sang mama menu apa yang ingin di makan, begitupun dengan sang istri yang masih tampak lelah.
Setelah memesan makanan, Hafa beralih mengambil air mineral yang berada di mesin pendingin di sudut depan ruangan. Ia pun menyerahkannya pada sang istri dan juga mamanya.
“Habis makan pulang ya, istirahat di rumah” pinta Hafa setelah istrinya menguk air mineral dingin yang baru saja ia sodorkan.
“Sama mas pulangnya” rengek Ara yang masih enggan berjauhan dari suaminya.
“Iya, mas antar” jawab Hafa dengan penuh kesabaran. “Tapi habis itu mas ke bengkel lagi, nanti sore baru pulang sekalian jemput Rindi, hmmm?”
“Mas ikut pulang… sama Ara”
__ADS_1
Hafa menghela nafas, bersamaan dengan piring berisi menu yang mereka inginkan di sajikan di atas meja, “makan dulu ya, nanti bicarakan lagi setelah makan ya”
Ara pun mengangguk, matanya berbinar menatap piring yang telah berisi nasi beserta lauk pauk pilihannya.
***
Ara yang tampak lelah pun hanya bersandar di kursi saat perjalanan pulang ke rumah dengan di antar suaminya. Hafa mengemudi dengan kecepatan sedang hingga sampai ke rumahnya. Saat sampai di rumah terlihat Ara sudah tertidur dengan lelapnya.
“Mama bisa tolong bawa kuenya, Ara ketiduran, mau Hafa gendong aja”
“Iya,... duh kasihan mantu mama, kaya kecapean gitu”
“iya ma”
“pasti ini bawaan bayi kalian yang bikin cepet lelah mamanya kaya gini, kamu harus extra jaga dia ya Fa”
Hafa mengangguk, dan membopong istrinya menuju kamar mereka, sementara mama Hesti menuju dapur untuk meletakan kantong berisi sisa kue yang mereka beli tadi.
“Tidur yang nyenyak sayang, mas kembali ke bengkel ya?”
Pamit Hafa sembari mengecup dahi dan perut sang istri, setelahnya ia keluar dari Kamar dan menemui mamanya yang masih berada di dapur.
“Nanti kalau Ara cari gimana?”
“gakpapa ma, di cabang kan masih kurang orang, jadi Hafa mesti bantu handle dulu” jawab Hafa meyakinkan mamanya, ia juga yakin istrinya nanti akan mengerti.
“Ya sudah, kamu hati-hati” jawab mama Hesti mengerti tanggung jawab putranya. Soal Ara nanti ia akan membantu memberi pengertian jika Ara mencari suaminya. Mood dan keinginan ibu hamil memang susah di tebak. Jadi mereka harus sabar menghadapi tingkah Ara yang kadang terlihat manja.
“Ya ma”
Tak ingin membuang waktu Hafa segera melajukan mobilnya menuju ke bengkel cabang yang masih terlihat ramai saat di tinggal tadi.
Hafa ingin segera menyelesaikan pekerjaannya hari ini dan secepatnya pulang ke rumah agar bisa menemani istrinya.
“Yang tadi ke sini istrinya mas Hafa ya?” tanya salah satu karyawan yang membantu Hafa memperbaiki mobil sesaat setelah ia sampai kembali di bengkel.
“Iya, kenapa?”
__ADS_1
“Gak papa sih mas, pantes kok kelihatan manja gitu”
“Iya, lagi hamil muda, akhir-akhir ini jadi manja banget” jelas Hafa namun tak mengalihkan padangannya dari mesin mobil yang ia otak-atik.
Rasa penasaran karyawan baru Hafa itu pun akhirnya terjawab, karena mereka belum pernah di perkenalkan dengan istri dari pemilik bengkel tempat mereka bekerja. Sebenarnya ada karyawan dari bengkel pusat yang di pekerjakan di cabang, cuma kebetulan saat ini sedang cuti, jadi tidak ada yang bisa menjawab rasa penasaran mereka kecuali Hafa sendiri yang menjawabnya.
Setelah berkutat beberapa jam di bengkel, akhirnya Hafa dan karyawan barunya bisa pulang dengan hasil yang cukup puas. Pelanggan yang datang hari ini cukup ramai dan kendaraan yang memang bisa langsung di perbaiki sudah selesai mereka perbaiki, dan hanya ada 1 mobil yang belum selesai mereka kerjakan karena tingkat kerusakan cukup parah.
Hafa pun melajukan mobilnya ke tempat kerja sang adik, ia tak ingin adiknya menunggunya terlalu lama karena terlambat menjembut.
Saat tiba di depan gerbang kantor adiknya, ia melihat adiknya tengah asyik mengobrol dengan rekan kerjanya yang di katakana sang istri beberapa waktu lalu, kalau pria itu memiliki rasa dengan adiknya.
“Huff… cepet banget sih dia dewasa” keluh Hafa saat melihat adik kecilnya kini sudah menjelma menjadi gadis dewasa yang cantik.
Tin!! Tin!!
Hafa membunyikan klakson untuk memanggil adiknya, ia pun memperhatikan keduanya yang menolah dan terlihat Rindi melambaikan tangannya meninggalkan rekan kerjanya yang telah menemaninya menunggu sang kakak tiba.
“Sudah nunggu lama dek?” tanya Hafa saat adiknya sudah masuk dan duduk di kursi sampingnya.
“Gak sih mas, paling 5 menitan aja kok”
“hmm.. langsung pulang ya”
“iya, Rindi juga capek, gerah,... pengen cepat mandi”
Hafa mengangguk, kemudian melajukan mobilnya membelah jalan ramai kendaraan yang melintas dengan padat karena bertepatan dengan jam pulang kerja karyawan.
“Kalau ke depannya Rindi belajar motor aja gimana mas? Jadi Rindi bisa berangkat kerja sendiri, mas gak perlu antar jemput”
Deg!
Seketika Hafa menoleh, pembicaraan yang cukup lama tak mereka bahas, kembali di ucapkan oleh adiknya.
“Kamu sudah gak mau di antar jemput sama mas?” tanya Hafa dengan anda yang begitu dingin.
“Ndak, bukan gitu mas, hanya Rindi gak mau mas jadi lebih kerepotan, apalagi kalau besok mbak Ara sudah melahirkan” jelas Rindi tak ingin kakaknya itu murka dengan keinginannya.
__ADS_1
“Ndak! Kakak gak akan ijin kamu belajar motor dek”
Tbc