It'S That You? (Kamu Yang Kutunggu)

It'S That You? (Kamu Yang Kutunggu)
Part 23


__ADS_3

🌺Happy Reading🌺


Siang itu setelah pulang dari rumah gadis pujaan hatinya, Hafa memutuskan pergi ke bengkel untuk mengurai ketakutannya, rasa takut akan penolakan dari gadis pujaannya. Ia memutuskan membantu anak buahnya hingga sore hari, dan pulang ke rumah saat waktu makan malam tiba.


“Baru pulang mas?” tanya Rindi yang melihat sang kakak baru saja masuk ke ruang makan setelah membersihkan dirinya.


“Hmmm, abis dari bengkel kakak”


“Bukannya tadi dari rumah mbak Ara?”


“Iya, habis makan siang tadi terus ke bengkel, lagi penuh banget bengkel”


Rindi pun hanya mengangguk, tak ada pertanyaan apapun lagi, bahkan soal hasil dari niatan sang kakak kepada rekan kerjanya itu. Rindi yang tak mengetahui rencana sang kakak pun hanya bersikap biasa dan melanjutkan makan malamnya.


Sementara sang mama mengamati wajah putra sulungnya yang tampak sangat lelah, entah lelah karena urusan bengkel atau karena rencana baiknya mendapatkan jawaban yang tak sesuai keinginannya.


Setelah malam kian larut, Hafa pun kembali ke kamar setelah sang adik menuju kamarnya untuk beristirahat.


Tok!! Tok!!


“Mas, sudah tidur? Mama masuk boleh?”


Hafa yang masih bersandar di ranjang pun beranjak saat mendengar pintu kamarnya di ketuk, ia pun membuka pintu dan mempersilakan mamanya masuk.


“Mas kenapa?”


“Gapapa ma, Hafa hanya capek aja”


“benarkah? Bukan karena Ara?”


“Bukan ma.. Hafa hanya capek aja, tadi pelanggan bengkel penuh, dan Hafa ikut bantu perbaiki kendaraan tadi, jadi capek aja”


“Alhamdulillah kalau bengkel kamu ramai,” timpal mama Hesti dengan senyum teduhnya, bersyukur usaha yang di rintis putranya makin berkembang dan mampu mencukupi kebutuhan keluarganya.


“Lalu bagaimana dengan Ara? Apa jawabannya?” lanjutnya.


Hafa menggelengkan kepalanya, “Ara masih belum jawab ma, Ara minta waktu 3 hari untuk menjawab pinangan Hafa ma”


Mama Hesti mengangguk mengerti, “hmm, ya sudah tunggu saja, mungkin memang ini terlu cepat untuknya, kalian juga belum lama kenal, tapi mama yakin akan ada jawaban yang baik untuk di dengar”


“Semoga saja ma, Hafa tak pernah merasakan seperti ini sebelumnya, doakan Ara menerima Hafa ma”


“Aamiin, doa mama selalu menyertaimu mas, yang penting jangan menyerah dulu, masih ada peluang, tetap jaga komunikasi dengan Ara, perempuan itu paling suka di perhatikan, perhatian kecil saja akan membuatnya senang dan bisa meluluhkan, kamu mengerti maksud mama kan?”


“Iya ma, Hafa mengerti, terimakasih telah merestui keinginan Hafa ma”

__ADS_1


Pelukan hangat mama Hesti berikan pada putra sulungnya, putra kebanggannya. Sosok putra yang begitu peduli dengan keluarga dan mampu menjadi sandaran keluarga. Sudah saatnya putra sulungnya ini menyongsong kebahagiaannya, memikirkan dirinya sendiri, bukan hanya kebahagiaan mama dan adiknya. Mama Hesti berharap sang putra bisa berbahagia dengan gadis pilihan hatinya, karena sudah sangat lama mama mendengar sang putra tertarik dengan gadis, semenjak sang adik meninggal dia terlalu fokus terhadap pekerjaan dan adiknya hingga mengabaikan dirinya sendiri, seolah lupa kalau dia juga butuh sosok pendamping.


***


Esok harinya, Hafa bangun seperti biasa dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim, namun entah mengapa ada rasa yang mengganjal dalam hatinya. Sejak bangun ia merasa gelisah, dan pikirannya hanya tertuju pada gadis pujannya.


Tak ingin berpikiran negatif, ia pun melakukan aktivitas seperti biasa, dan bersiap mengantarkan adiknya terlebih dulu sebelum berangkat ke bengkel.


Sembari menunggu sang adik bersiap, ia pun memainkan ponselnya dan mengirim pesan pada gadis pujaan hatinya,


^^^‘Assalamu’alaikum dek…'^^^


^^^'udah siap berangkat kerja belum nih?'^^^


^^^'jangan lupa sarapan dulu ya,'^^^


^^^'hati-hati kalau berangkat kerja’^^^


terdengar pesan yang langsung di balas membuatya segera membuka kembali ponselnya, melihat apliksi chat dan membaca pesan yang masuk,


'Wa’alaikumusalam mas,'


'Ara udah siap mas'


'sarapan nanti mas'


Deg!!


Rasa khawatir seketika menyelimuti Hafa, apakah ini jawaban dari rasa gelisahnya sejak tadi? Ia pun segera menekan tombol telpon dan berharap bisa berbicara dengan gadis pujaannya secara langsung.


“Iya mas” jawab Ara dengan nada biasa.


“Siapa yang sakit dek?”


“Ara mas, luka habis jatuh kemarin nyeri mas, tadi bangun juga badan Ara sakit semua”


“di klinik mana? Mas ke sana ya?” tawar Hafa yang masih diliputi rasa khawatir.


“ga usah mas, abis dari klinik Ara langsung ke kantor kok” Ara masih saja mengelak, tak ingin merepotkan pria yang telah meminangnya itu.


“kok ga di pakai istirahat dulu sih?”


“Kerjaan udah numpuk mas, Ara masih bisa kok”


“kasian badannya dek, jangan di paksain kalau emang lagi sakit, buat istirahat dulu”

__ADS_1


“iya mas, nanti kalau Ara ga kuat baru ijin pulang”


“hmmm,…” Hafa pun gemas sendiri dengan jawaban keras kepala dari gadis pujaan hatinya “sekarang di klinik mana? Sama siapa?” tanya Hafa beruntun ingin rasanya segera menemui pujaan hatinya, memastikan sendiri kondisinya.


“sama Farhan, itu lagi ambil nomor antrian”


“Di klinik mana dek?” ucap Hafa ikut keras kepala


“deket rumah mas, ga usah ke sini mas, Ara gapapa kok. Emang nya mas ga antar Rindi kerja?”


“Mas mau jalan antar Rindi trus ke sana, klinik mana dek?”


“deket rumah mas”


“Dek….” Gemas Hafa yang tak kunjung mendapatkan jawaban,


“Mutiara Husada mas”


“Oke, kabarin mas gimana nanti, mas jalan antar Rindi dulu”


Hafa pun segera bangkit dan memanggil sang adik yang teryata memang suah siap dengan setelan kerjanya.


“Berangkat sekarang mas?”


“Hmm, ayuh” Hafa pun mengajak sang adik berangkat setelah berpamitan pada sang mama tercinta, tanpa menceritakan kondisi Ara saat ini.


Setelah memastikan sang adik masuk ke dalam gedung tempat kerjanya, Hafa pun segera memacu mobilnya ke klinik yang di sebutkan gadis pujaan hatinya. Saat memasuki halaman klinik, terlihat beberapa orang masih mengantri untuk di periksa. Ia edarkan pandangannya mencari sosok gadis yang telah bersemayam dalam hatinya.


“Dek….” Panggilnya saat menemukan sosok gadis pujannya ternyata masih duduk mengantri di ruang tunggu.


“Mas beneran ke sini?” pekik Ara terkejut karena tak menyangka sosok pria yang kemarin telah meminangnya ini benar-benar berdiri di depannya dengan raut penuh rasa khawatir.


“sudah di periksa dokter?” bukannya menjawab pertanyaan Ara, Hafa pun malah berbalik bertanya, ia kumudian mengedarkan padangannya mencari sosok pria yang mengantar gadis pujannya.


“Belum, masih antri”


“Farhan mana? Katanya tadi sama Farhan?” tanya Hafa lagi sembari duduk di samping Ara,


“Lagi ke toilet mas, tuh udah jalan ke sini” tunjuk Ara dengan dagunya pada sosok pria yang mengenakan kaos oblong putih dengan jaket bewarna hitam yang tak di tutupkan resletingnya, dan tengah berjalan ke arah mereka.


“Loh mas Hafa?” pekik Farhan ikut terkejut saat melihat sosok pria yang kini duduk di samping sang kakak.


“Iya…”


“Mas kok di sini?” tanya Farhan merasa heran, sepagi ini pria yang ia gadang akan menjadi kakak iparnya itu sudah berada di sini, apakah kak Ara yang memberi tau kalau kak Ara sedang priksa di sini?

__ADS_1


“Saudari Humaira Mentari!!”


Tbc


__ADS_2