
🌺Happy Reading🌺
Keesokan harinya setelah Ara menyiapkan sarapan untuk mertua dan adik iparnya, ia segera mengajak sang suami untuk berangkat ke rumah papa Ilham.
Dalam perjalanan Ara pun meminta berhenti beberapa kali untuk membeli cemilan dan juga oleh-oleh untuk keluarga budhe Rosi.
“Katanya mau sarapan di rumah papa dek, kok itu beli banyak banget?” tanya Hafa Heran, bukankah semalam sudah bilang Farhan untuk membelikannya sarapan, ini malah beli lagi, siapa yang mau makan?
“Nanti makan sama-sama mas” celetuk Ara dengan santainya, kemudian mencicipi kue pukis yang baru saja ia beli dan masih hangat.
“Mas mau?” tanya Ara sembari menyodorkan kue pukis di depan sang suami yang tengah mengemudi.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan di suapi sang istri, ia pun mengangguk dan membuka mulutnya agar Ara segera menyuapinya. Ia pun sesekali melihat sang istri yang terlihat sangat lahap menikmati kue pukisnya, ia pun merasa heran, pasalnya beberapa hari terakhir memang porsi makan sang istri lebih besar dari biasanya.
Hingga keduanya tiba di kediaman papa Ilham, kue pukis yang di beli Ara telah habis tak bersisa membuat Hafa semakin menggelengkan kepalanya.
‘katanya tadi mau makan sama-sama, lha ini habis, Ya Allah Yang, mana aku cuma di kasih 2 biji doang’ tentu saja Hafa hanya bisa mengatakannya dalam hati, tak ingin membuat Ara ngambek padanya karena celetukannya. Ia pun hanya bisa menghela nafas kemudian mengikuti langkah sang istri yang telah lebih dulu masuk ke dalam rumah.
Mama Mira yang mengetahui anak dan menantunya datang pun segera mengajaknya sarapan bersama.
“Wah, pesenan ku ada semua, kamu yang beli dek?” girang Ara saat melihat beberapa menu yang ia inginkan telah tersaji di atas meja makan.
“Iya lah kak, Adek bela-belain bangun pagi buat beliin kakak ini”
“ah,,, kamu emang adik kakak yang paling the best” puji Ara kemudian duduk di samping sang adik, dan mulai mengambil tempe mendoan yang terlihat menggiurkan.
Papa Ilham dan Hafa pun bergabung setelah berbasa-basi sebentar di ruang depan. Mereka melihat kakak beradik itu tengah menikmati tempe mendoan dengan begitu lahapnya.
“Wah, kok papa gak di sisain sih?” protes papa Ilham yang melihat tempe mendoan yang tersaji tinggal 2 biji.
“Hehe, maaf pa, tuh masih 2, papa satu, mas Hafa satu” jawab Ara yang masih memegang tempe mendoan di tangannya.
“Lapar banget dek?” tanya Hafa yang kini ikut duduk di samping sang istri.
Ara hanya mengangguk sambil menikmati sisa tempe mendoan di tangannya, membuat Hafa tersenyum sambil mengacak rambut sang istri.
‘Padahal tadi habis kue pukis banyak banget’
Setelah Ara menghabiskan mendoannya, ia pun segera melayani sang suami dengan mengambilkan nasi beserta lauk pauk untuk sarapannya.
__ADS_1
“Jangan heran Fa, Ara dan Farhan emang doyang banget sama tempe mendoan, mau ada sebanyak apapun bisa langsung ludes sama mereka” timpal mama Mira yang tak heran dengan kelakuan dua anaknya.
“Iya ma, mereka kan emang doyan makan, cuma Hafa heran, mereka kok gak gemuk ma”
Semua yang berada di meja makan terkekh pelan mendengar celetukan Hafa yang mulai menyendok makanan yang telah di siapkan untuknya.
“Mama juga heran, padahal dari dulu makan mereka itu banyak, tapi ya gitu, lihat sendiri mereka”
“Yang penting kan Ara sehat sih ma, ya bagus dong tubuh kita tetep langsing, gak obesitas” timpal Ara yang memang agak sensitive akhir-akhir ini.
***
Setelah menyelesaikan sarapan mereka, kelima orang beda usia itu segera bersiap untuk ke tempat budhe Rosi yang tengah menggelar acara tujuh bulanan untuk putrinya.
Seperti biasa Hafa yang mengemudikan mobilnya, dan kedua orang mertuanya duduk di belakangnya.
“Skripsi mu udah sampai mana Han?” tanya Hafa pada adik iparnya untuk memecah keheningan saat mereka dalam perjalanan.
“Sudah sampai bab 4-5 mas, dosen masih minta revisi”
“Hmm, gak lama lagi selesai dong?”
“Do’akan aja mas, pengennya sih bulan depan udah kelar, dan bulan depannya ikut wisuda”
Tak lama kemudian mobil hitam yang Hafa kemudikan memasuki halaman yang telah ramai dengan bebarapa kendaraan yang telah parkir di sana.
“Wah sudah banyak yang datang” pekik mama Mira saat melihat beberapa kerabatnya telah duduk di teras sembari bercengkrama.
Kelimanya pun turun, kemudian Ara segera membuka bagasi untuk mengambil buah tangan yang ia siapkan sebelumnya.
“Mas bawa aja dek, berat itu” tawar Hafa yang begitu perhatian dengan istrinya.
Kemudian mereka melangkah beriringan menyusul kedua orang tuanya yang telah melangkah masuk ke rumah lebih dulu.
Setelah menyerahkan buah tangan yang mereka bawa, Ara mengajak suaminya untuk duduk bergabung dengan kerabat yang lain.
“Wah ini nih pasangan suami istri yang terlihat romantis dimana aja” goda salah satu sepupu Ara yang memang cukup dekat dengan Ara.
“Suami mu gak akan hilang Ra, gak perlu di gandeng terus” timpal yang lain menggoda.
__ADS_1
Pasangan suami istri itu pun tersenyum menanggapi godaan para kerabatnya yang di lontarkan untuk mereka, pasalnya bukan kali ini saja mereka menggoda, setiap kali ada acara kumpul keluarga mereka selalu menjadi bahan godaan, mentang-mentang mereka adalah pengantin baru dan cukup menggemparkan keluarga besarnya.
Acara demi acara yang di gelar budhe Rosi untuk Desi pun berjalan dengan lancar, hingga sore hari setalah acara telah selesai, tampak beberapa kerabat masih berdiam diri di sana sekedar untuk mengobrol atau membicarakan beberapa hal lainnya.
“Terimakasih ya sudah datang semuanya” ucap budhe Rosi yang baru saja kembali dari mengantar besannya yang berpamitan pulang.
“sama-sama budhe”
“Semoga lancar sampai lahiran mbak” timpal salah satu budhe Ara yang memang julid pada keluarga papa Ilham.
“Aaminn” ucap semua yang duduk di sana mengaminkan do'a yang baru saja terucap.
“Gak lama lagi Rosi menimang cucu nih, Mira kapan menimang cucu?”
“Do'akan saja mbak, semoga Ara segera isi” timpal mama Mira masih dengan senyum ramahnya.
“Kamu belum ada tanda-tanda Ra?” timpal Budhe Rosi
“Belum budhe”
“Semoga aja segera nyusul ya, udah 6 bulan ya kalian nikah?”
“Hmmm, iya budhe, doakan saja” jawab Ara dengan senyum ramahnya, meski dalam hati ia juga merasa khawatir karena tak kunjung hamil.
“Sabar aja Ra, emang ada yang cepet ada yang lama” timpal salah satu sepupu Ara yang duduk di sampingnya. “Kalian gak nunda kan?”
“Iya mbak, ndak kok kami gak berencana menunda”
“Mau nunda gimana Lis, yang ada nanti keburu tua banget kalau nunda lagi” timpal budhe Ara yang sedari tadi gatal ingin menyindir Ara dan keluarganya.
“ya barang kali aja budhe” timpal Lisa membela Ara yang tengah menudukan kepalanya.
“Sudah periksa belum Ra? Kamu gak mandul kan?”
Tbc
Hallo semua 🤗🤗🤗
Maafkan othor yang kemarin tak sempat update 😊
__ADS_1
Mohon dukungannya 🤩🤩🤩
Love you All 😍😍😍