It'S That You? (Kamu Yang Kutunggu)

It'S That You? (Kamu Yang Kutunggu)
Part 66


__ADS_3

🌺Happy Reading🌺


Ara yang melangkah perlahan langsung merangkul lengan sang suami yang tengah berdiri tegak dengan berkacak pinggang sembari mengamati mesin mobil di depannya.


“Astaghfirullah….” Pekik Hafa kaget, hendak mengipatkan lengan yang merengkuhnya, namun ia urungkan begitu ia melihat siapa pelakunya.


“Ya Allah Yang, bikin kaget tau” ucap Hafa gemas, sementara sang pelaku hanya nyengir memperlihatkan gigi putihnya, tangannya masih bergelayut manja, tak ingin melepas rengkuhannya.


“Ara kangen sama mas” rengek Ara dengan lirih namun masih mampu di dengar sang suami.


“Lepas dulu ya, mas cuci tangan dulu” ucap lembut dan tersenyum senang kala mendengar rengekan manja sang istri.


Dengan berat hati Ara pun melepas rengkuhannya, dan membiarkan suaminya beranjak membersihkan tangannya. Namun ia tetap mengikuti langkah suaminya yang menuju kran depan bengkel dan menunggu di belakangnya.


“Ara pun mengeluarkan tissue dalam tasnya dan menyerahkan pada suaminya untuk mengeringkan tangannya.


“Makasih dek” Setelah mengeringkan tangannya, Hafa pun mengacak gemas rambut sang istri. Lalu menggandeng tangannya “ke sini sama siapa?”


Keduanya melangkah masuk ke bengkel dan Hafa menuntun istrinya untuk masuk ke dalam ruangannya,


“Sama mama mas, tuh mama nunggu di sana” tunjuk Ara pada sang mama yang tengah duduk dan berbincang dengan salah satu pelanggan yang menunggu kendaraannya.


“Hmm…. Kamu tunggu sini kalau gitu, mas panggil mama dulu”


Sekali lagi dengan berat hati Ara melepas tangan sang suami. Hafa pun melangkah mendekati sang mama dan mengajaknya ke ruang istirahatnya bersama sang istri.


Sikap mesra yang Hafa tunjukan pada sang istri tak luput dari pandangan karyawannya dan juga beberapa pelanggan yang tengah duduk menunggu di sana.


Bisik-bisik karyawan yang memang belum mengenal keluarga bos mereka terdengar karena penasaran.


“Tadi istri mas Hafa ya?”


“Sepertinya, mesra banget mereka”

__ADS_1


“Bikin iri aja sih”


“Kayanya istrinya lagi hamil deh, perutnya kelihatan agak buncit”


Hafa yang tak mendengar obrolan mereka pun tetap menggandeng tangan istrinya menuju ruangan yang memang khusus ia siapkan.


“Mau ke sini kok gak bilang dulu sih?” tanya Hafa saat mereka memasuki ruangan.


“Gak kepikiran tadi, pas di rumah mbak Tuti tiba-tiba aja pengen ke sini” jawab Ara santai namun tangannya tak lepas dari lengan sang suami.


“Kalau mau ke sini kan mas gak akan pegang mobil dek, itu udah terlanjur mas buka”


“Ih… Ara kan kangen sama mas ih” rengek Ara lalu bersandar manja di lengan suaminya.


Keduanya telah duduk di sofa yang ada di sana. Sementara mama Hesti hanya tersenyum melihat tingkah menantunya.


Hafa pun terkekeh pelan, kemudian mengecup kening istrinya. “iya, mas juga kangen Yang…. tumben ih manja banget gini?” ledek Hafa pada sang istri sembari menoel hidungnya.


“Jadi Ara gak boleh manja?” Ara mengerucutkan bibirnya, namun tak urung tetep merengkuh lengan sang suami.


“Oh ya, Ara tadi beli kue sama mama, itu tadi di bawa mama” seketika Ara bangkit dari duduknya dan mendekati sang mama yang tengah membuka kotak kue yang di bawanya.


“Loh bukannya beli buat mbak Tuti?”


“Udah, Ara juga beli buat sendiri, tadi waktu lihat kue yang di pajang di etalase, rasanya pengen makan semuanya, ya Ara beli deh, gapapa kan?”


“Ya gak papa dek, mas malah seneng kamu doyan makan” Ara terkekeh melihat Ara yang begitu antusias membuka kotak demi kotak yang sudah tertata di atas meja.


“Istrimu borong semua itu Fa, sepertinya cucu mama bakal nurun doyan ngemil kaya mamanya” timpal mama Hesti yang ikut terkekeh senang.


“Gak papa ma, lebih baik gini dari pada gak mau makan” jawab Hafa yang bersyukur di masa kehamilan sang istri tak terlalu merasakan mual atau menolak makanan yang masuk.


“Mas mau apa?” kini Ara mengambil salah satu kotak dan menyodorkan pada suaminya agar memilih apa yang ingin di makan, karena memang dalam satu kotak ada beberapa jenis kue yang sudah di kemas.

__ADS_1


Hafa pun mengambil salah satu dan segera memakannya, pun melihat kedua wanita kesayangannya juga tampak menikmati kue yang mereka beli.


“Kamu tunggu sini dulu ya sama mama, mas mau benerin mobilnya tadi, udah di tungguin tadi” ucap Hafa setelah menghabiskan kue di tangannya.


“Ara kan masih kangen mas”


“Bentar doang dek, ya? kamu tunggu sini ya, atau duduk depan ruangan, nanti lihat mas sambil benerin mobil ya, mas harus selesai segera, biar pelanggannya nanti gak complain”


Ara tampak berpikir sejenak, masih dengan bibir manyunnya, lalu ia pun menghela nafas, entah kenapa memang hari ini ia ingin selalu dekat dengan suaminya.


“emang gak bisa di kaerjain sama anak-anak?”


“anak-anak udah ada kerjaan masing-masing Yang, lagian mas yang udah bongkar tadi, dan pelanggannya emang minta mas yang kerjain, tunggu bentar ya?”


“Iya… Ara tunggu depan aja kalau gitu..” jawab Ara akhirnya,


“Hmm… makasih sayang” Hafa pun kembali mengecup kening istrinya sebelum keluar ruangan untuk menyelesaikan pekerjannya.


“Habiskan kue di tangan mu dulu, mas keluar dulu ya”


Ara hanya mengangguk, kemudian kembali menikmati kue di tangannya, lalu ia pun menatap mertuanya yang juga tampak menikmati kue yang tadi mereka beli.


“Mama gak papa tunggu di sini?” tanya Ara yang sedikit merasa tak enak hati pada mertuanya.


“Iya… gak papa” mama Hesti tersenyum, ia mengerti akan sikap sang menantu yang ingin selalu dekat dengan suaminya, mungkin memang karena bawaan bayi yang di kandungnya ingin selalu dekat dengan papanya.


“Ara keluar ya ma” ucap Ara seraya mengambil dua bungkus kue untuk di bawa keluar ruangan, ia pun duduk di kursi yang memang di sediakan di depan ruang istirahat Hafa. Benar saja ia bisa melihat dengan jelas bagaimana suaminya bekerja memperbaiki mobil yang masuk ke bengkelnya.


Ara tak mempedulikan bisikan dari beberapa orang yang sedang membicarakan dirinya, pandangan matanya selalu tertuju pada sang suami yang berada tak jauh darinya. Sesekali ia pun menyuapkan kue yang tadi ia bawa untuk mengganjal perutnya yang sudah terasa lapar, padahal waktu makan siang masih agak lama, tapi dirinya sudah merasa lapar.


Selama kurang lebih 1 jam Ara tak berpindah dari duduknya dan hanya mengamati sang suami yang tengah menyelesaikan pekerjaanya, sesekali ia hanya mengubah posisi duduknya namun enggan untuk beranjak.


Hingga waktu makan siang, Hafa telah selesai dengan mobil yang dia perbaiki. Setelah menyelesaikan urusannya dengan pemilik mobil, Hafa pun segera mencuci tangan lagi dan menghampiri sang istri yang tampak menopang dagu dengan kedua tangannya.

__ADS_1


“Capek Dek?”


Tbc


__ADS_2