It'S That You? (Kamu Yang Kutunggu)

It'S That You? (Kamu Yang Kutunggu)
Part 46


__ADS_3

🌺Happy Reading🌺


“Loh kamu mau kerja Ra? Bukannya masih cuti?” mama Hestu cukup terkejut saat menantunya akan ikut pergi bersama suaminya, pasalnya ia sudah membayangkan menghabiskan waktunya seharian ini bersama sang menantu.


“Nggak ma, Ara mau ikut mas Hafa ke bengkel” timpal Ara yang kemudian mencuci tanggannya dan mendekati sang suami yang menunggunya.


“kamu sudah mau kerja Fa?”


“iya ma, ada alat masuk, jadi Hafa harus handle dulu”


“Kenapa harus ajak menantu mama?”


“hmm…. Hafa kan juga pengen menghabiskan waktu sama istri Hafa dong ma, mumpung masih cuti, besok-besok kalau udah masuk kan jarang. Lagian biar Ara tau kerjaan Hafa di bengkel gimana”


Mama Hesti menghela nafas, sementara ini ia harus mengalah dulu. Membiarkan menantunya pergi dengan suaminya.


“Kami pergi dulu ma” ucap Ara kemudian melangkah ke kamar untuk bersiap secepat mungkin agar tak terlambat mengantarkan adik iparnya terlebih dulu.


“Mas tunggu sini aja ya dek” teriak Hafa sembari duduk di ruang keluarga yang berada di dekat tangga.


“Iya”


Tak berapa lama kemudian, Rindi pun datang menghampiri sang kakak setelah berpamitan pada mamanya, bersamaan dengan om Radit beserta anak istrinya yang keluar dari kamar tamu.


“Om mau berangkat sekarang?”


“Iya Fa, mumpung masih pagi, kami pulang dulu ya”


“Iya om, terimakasih banyak atas bantuan om dan keluarga”


“sama-sama, sudah jadi kewajiban kami Fa, semoga keluarga yang baru kamu bangun ini akan menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah”


“Aaamiin, terimakasih om”


Satu persatu om Radit beserta anak istrinya berpamitan pada keluarga kakaknya itu, meninggalkan kediaman yang selama beberapa hari ini mereka tempati untuk kembali ke kota tempat tinggalnya selama ini.


“Kami juga berangkat ma” pamit Hafa pada sang mama yang masih berdiri melihat mobil keluarga adik iparnya meninggalkan halaman rumah.

__ADS_1


Ara pun mengikuti sang suami membuat Rindi mengerutkan dahi,


“Mbak Ara mau ikut antar Rindi?”


“iya”


Rindi yang mengerti sang kakak ipar akan ikutpun membuka pintu mobil belakang, ia akan duduk di belakang sopir.


“Ara di belakang sama Rindi ya mas?” pinta Ara sebelum memasuki mobil.


“Loh, kok gitu sih dek, mas sendiri dong di depan”


“bentar doang ih, nanti sampai kantor Ara pindah depan deh”


“Ribet banget sih dek, langsung duduk depan ya, samping mas” ucap Hafa dengan nada tak ingin di bantah, kemudian ia masuk dan duduk di balik kemudi, membuat Ara akhirnya menurut dan duduk di samping sang suami.


“Mbak Ara ikut masuk sekalian sih” celetuk Rindi saat mereka sudah dalam perjalanan.


“Eh, enak aja kamu dek” bukan Ara yang menjawab, melainkan Hafa yang tak terima. Pasalnya jika istrinya akan terus di monopoli sang adik jika mereka sudah bersama. Gak rela dong, kita kan pengantin baru. Hehe


“ya gak bisa dek, kan udah pengajuan cuti. Kerjaan mbak di handle dulu ya, sama bang Ghani”


Tak butuh waktu lama mobil Hafa pun tiba di depan gerbang tempat kedua wanita kesayangannya bekerja. Hanya Rindi yang turun dari mobil sementara Ara tetep diam di tempat sementara Hafa melanjutkan perjalanan menuju bengkelnya.


“Bengkel mas bukanya jam berapa biasanya?” tanya Ara saat susana hening melanda setelah Rindi turun dari mobil, menyisakan sepasang pegantin baru itu.


“Jam 8 dek sampai jam 16.30 biasanya, cuma kadang bisa lebih tergantung pelanggan juga”


“hmm… mas juga ikut bantu benerin mobil atau motor?”


“Iya, kalau anak buah mas kuwalahan dan tak bisa mengatasi ya mas bantu dek”


“Rindi atau mama juga sering ke bengkel mas?”


“Gak sih, jarang banget. Apalagi semenjak Rindi kerja dek, makin jarang, kalau mama sesekali aja sih, mas yang larang mama buat sering-sering ke sini, takut kecapean aja nanti”


“oh iya, mas belum jelaskan ya, di rumah ada yang bantu bersih-bersih sama nyuci dek, namanya mbak Tuti, cuma orangnya pulang pergi, tidak menginap di rumah.” Lanjut Hafa “Biasanya mbak Tuti yang nemenin mama dari jam 8 sampai jam 4 sore.”

__ADS_1


“Kamar mas juga di bersihin sama mbak Tuti?”


“Hmm, iya, selama ini mbak Tuti juga yang bersihkan, dan lagi itu kamar kita dek, mulai biasakan sebut kamar kita ya, bukan hanya kamar mas”


“Iya, kamar kita, kalau gak keberatan untuk kamar kita biar Ara sendiri yang bersihkan ya mas, baju mas juga Ara saja yang cuci. maaf mas, Ara kurang nyaman jika ada orang lain masuk kamar pribadi mas”


“Hmm… ya gapapa sih, kemarin-kemarin kan emang mas gak sempet beres-beres kamar sendiri dek, jadi ya mama minta mbak Tuti bersihkan semua ruangan, dan karena sudah ada kamu yang nempatin kamar juga, jadi ya kamu berhak ngaturnya juga dek, nanti mas bilang sama mbak Tuti, asal kamu tak kelelahan ya dek”


“Terimakasih mas, setidaknya biarkan Ara menjalankan tugas Ara sebagai istri ya mas, kebutuhan mas biar Ara yang melayani, dan lagi kamar pribadi kan privacy ya, Ara tak mau kamar kita jadi tempat publik selama Ara masih bisa mengatasinya”


Hafa tersenyum mendengar penuturan sang istri, merasa bersyukur karena mendapatkan istri yang benar-benar bisa mengurusnya.


“Mas yang harusnya berterimakasih dek” diraihnya telapak tangan Ara dan dia genggam lalu mendaratkan kecupan manis di punggung telapak tangan sang istri.


“Seperti yang mama bilang rumah itu juga rumah mu, atur sesuai keinginan mu dek, mas percaya kamu bisa mengatur rumah tangga kita dengan baik nantinya.”


“Aamiin,, kita saling kerja sama ya mas”


Hafa mengangguk menyetujui permintaan sang istri, dan di kecupnya sekali lagi punggung tangan Ara.


“Soal pembagian tugas di rumah nanti bicarakan sama mama dan mbak Tuti ya, biar sama-sama enak nantinya” lanjutnya kemudian menepikan mobilnya yang ternyata sudah memasuki halaman bengkel, ia pun memarkirkan mobilnya di pinggir agar tak mengganggu akses kendaraan lain yang lalu lalang keluar masuk bengkel.


“Iya, nanti kita bicarakan sama mama” Ara pun melepas sabuk pengaman dan megikuti suaminya yang lebih dulu turun dari mobil.


“Yuk sayang, kita masuk, mas kenalkan dulu sama anak-anak mas, kemarin kan baru ketemu doang”


Ara mengangguk dan meraih uluran tangan sang suami. Ikut melangkah memasuki bengkel yang sepertinya sudah ramai dengan karyawan karena sebentar lagi jam buka bengkel.


“Widih, aura pengantin baru emang beda nih” celetuk salah satu karyawan.


“gandeng terus”


“gak mau kalah sama truk ya mas”


Ledekan demi ledekan terdengar dari beberapa karyawan yang bersahutan saat Hafa menggandeng Ara memasuki bengkel. Bahkan terdengar beberapa karyawan bersiul menggoda mereka.


“Ya harus dong, truk aja banyak yang gandengan, kalau gak di gandeng, takut ilang nanti. Apalagi di sini, kalian itu mengkhawatirkan”

__ADS_1


Tbc


__ADS_2