It'S That You? (Kamu Yang Kutunggu)

It'S That You? (Kamu Yang Kutunggu)
Part 48


__ADS_3

🌺Happy Reading🌺


Setelah menyebutkan jumlah yang akan dia beli, Ara kembali duduk di kursi plastik yang di sediakan sembari menunggu pesanannya. Tak berapa lama kemudian, terdengar deru motor mendekatinya dan berhenti di samping Ara yang tengah memperhatikan bagaimana es pesanannya di racik.


“dek…” panggil Hafa lembut saat melihat sang istri tengah duduk santai menunggu pedangan es doger, sementara dirirnya kalang kabut sedari tadi.


“Mas sudah sampai?” Ara pun berdiri terlihat dua kantong plastic yang berukuran agak besar berada di tangan kirinya.


“Astaga dek, beli apa aja itu?” tanya Hafa saat Ara mendekatinya dan menggantungkan kantong yang di bawa ke gantungan depan motor.


“Nanti mas juga tau, tunggu bentar, es Ara belum jadi” jawab Ara dengan senyum lebarnya, tak ada rasa bersalah sam sekali karena meninggalkan bengkel cukup lama.


Tak berapa lama kemudian, Ara mendekat dengan beberapa kantong bersisi es doger pesanannya. Membuat Hafa tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


“Ayuh mas, berat ini” ajak Ara dengan sedikit mengeluh karena merasa berat membawa beberapa cup es doger yang di masukan dalam kantong plastic.


Melihat sang istri yang terlihat kebaratan, membuat Hafa mengurungkan untuk menyalakan motornya, ia pun turun dan meminta kantong di tangan sang istri.


“Kamu yang kemudi dek, biar ini mas yang bawa”


“Oke” jawan Ara dengan cepat kemudian duduk di depan untuk mengemudikan motor matic yang di bawa suaminya.


***


Hafa pun membantu sang istri membawa beberapa kantong hasil berburu sang istri setelah lebih dari 1 jam meninggalkan bengkel, ia pun meletakan kantong itu di atas meja di ruangannya.


“Berpetualang ke mana aja dek?”


Ara pun dengan antusias menceritakan ke mana saja ia pergi dan apa saja yang ia beli, kemudian menyebutkan satu per satu apa saja yang akan dia bagi untuk karyawan suaminya.


“Pantes aja betah banget perginya, lebih dari 1 jam lho dek” ucap Hafa dengan gemasnya.


“Hehe, maaf mas, Ara ga lihat waktu, tau sendiri Ara suka jajan jadi asyik aja beli ini itu”


Hafa pun menggelengkan kepalanya kemudian memanggil salah satu karyawannya yag terlihat sudah luang karena baru saja menyelesaikan motor yang harus diperbaiki.


“Tolong bagikan ke temen-temen ya” pinta Hafa sembari menunjuk bebebapa makanan yang telah di pilah sang istri untuk di bagikan.


“wah…. Asyik nih pak”


“Semoga suka ya, semuanya masing-masing satu ya” ucap Ara yang tengah menikmati cilok ditangannya.

__ADS_1


“Wah… siaappp bu, terimakasih banyak lho”


Ara pun hanya mengangguk, kemudian mempersilakan karyawan suaminya itu keluar dengan membawa makanan yang ia pisahkan tadi.


Setelah karyawannya keluar, Hafa pun duduk di depan sang istri, tersenyum senang dengan kelakuan Ara yang terlihat menggemaskan saat menikmati cilok yang terlihat pedas.


“Kamu ini banyak makan, tapi kok ndak gendut-gendut ya dek” celetuk Hafa yang memperhatikan tubuh sang istri. Ia sudah mengetahui kalau istrinya ini suka ngemil, makannya cukup banyak tapi tetap saja meski makanan banyak yang masuk, tubuh istrinya ini tetap kurus.


“hehe, gak tau mas, emang udah dari sononya kali, susah gemuk, gak cuma mas yang bilang kaya gitu. Tapi ada yang bilang mungkin Ara bakal gendut kalau udah punya anak”


“wah benarkah?”


“Hmmm…..” Ara mengangguk, kemudian menyuapi sang suami agar ikut makan bersamanya.


“Kalau gitu kita usaha lebih keras agar segera punya anak” ujar Hafa sembari mengerlingkan matanya, membuat Ara tersedak dengan cilok yang baru saja di telannya


“Mas…..” rengak Ara setelah meneguk minuman yang di sodorkan sang suami untuknya.


***


Setelah semua makanan yang Ara beli tandas habis tak bersisia, Hafa mengajak sang istri untuk pulang karena urusannya di bengkel telah selesai, dan ia ingin menghabiskan waktunya hanya berdua dengan sang istri.


“Motornya bawa pulang mas” pinta Ara sebelum keluar dari ruangan.


“beneran ya…?”


“Iya sayang… beneran nanti di antar Dimas sampai rumah, tapi inget ya, jangan ajarin Rindi”


Ara pun mengangguk kemudian merangkul lengan sang suami dan mengikuti langkah sang suami menuju mobilnya terparkir setelah berpamitan pada karyawannya.


“Kalau Ara kerja berarti gak boleh bawa motor mas?” tanya Ara saat keduanya dalam perjalanan pulang ke rumah.


“Kalau mas bisa antar, mas antar ya dek?”


“Mas gak capek bolak balik?”


“Gak dek, kan sekalian anterin Rindi, lagian kantor kamu kan se arah dengan bengkel mas, jadi ga masalah dek”


Ara mengangguk, dan akan menurut ucapan sang suami. Setidaknya ada motor di rumah, dia tak perlu bingung saat hendak pergi sementara suaminya tak berada di rumah.


Jarak bengkel dan rumah yang tak terlalu jauh membuat keduanya tak terlalu lama untuk sampai di rumah. Kediaman Hafa tampak sepi, hanya ada mama Hesti yang kini duduk di ruang keluarga sembari memainkan ponselnya.

__ADS_1


“Assalamu’alaikum ma” ucap Ara saat keduanya masuk


“Wa’alaikumusalam, kalian sudah pulang?” mama terluhat berbinar menyambut anak dan menantunya.


“iya ma, kan cuma ngurus kedatangan alat aja ma” Hafa yang menjawab saat keduanya duduk di depan sang mama.


Mama Hesti mengangguk, lalu ketiganya larut dalam obrolan ringan. Membuat sang mama yang tadinya kesepian kini tampak lebih ceria.


“Oh ya ma, mbak Tuti nya di mana ya?” tanya Hafa yang tak melihat orang yang biasa membantu sang mama mengurus rumah.


“Lagi mama minta beliin sabun, tadi mau cuci sabunnya habis, cucian udah numpuk habis acara kalian kemarin, mama lupa kalau stock sabun udah habis”


“Kenapa cari mbak Tuti?”


“Ada yang pengen kita bicarakan soal kerjaan dia aja ma”


“Kamu gak akan pecat dia kan?”


“ih mama ya gak lah ma, nanti siapa yang temenin mama kalau mbak tuti gak kerja di sini lagi” ceplos Hafa membuat seseorang yang tengah mereka bicarakan bernafas lega.


“Kirain…. “ ucap mama Hesti lalu menolah ke arah pintu keluar dan melihat Wanita dewasa yang telah memiliki 2 orang anak itu berdiri di sana.


“Eh sini Tut, kebetulan kamu sudah datang” teriak mama Hesti memanggilnya.


“Iya bu,”


“dek, ini mbak Tuti yang selama ini bantu mama bersih-bersih rumah dan nemenin mama kalau mas dan Rindi kerja”


Ara pun menyalami dan menyambut ramah wanita yang kini duduk tak jauh darinya.


“Kemarin kok Ara gak lihat ya mas waktu acara pernikahan kita?”


“Mohon maaf mbak, kemarin kebetulan anak saya sedang sakit, jadi gak bisa bantu di sini” Tuti menjawab langsung pertanyaan yang Ara tujukan pada suaminya.


“Ohw, sekarang anaknya sudah sembuh mbak?”


“sudah mb, Alhamdulillah, sudah mau sekolah juga”


Ara mengangguk, kemudian menolah ke arah sang suami untuk memulia membicarakan pekerjaan mbak Tuti yang membereskan kamarnya.


“Hmm, begini mbak Tuti, maaf nih sebelumnya, untuk ke depanya, kamar saya tidak perlu di bersihkan ya, mulai sekarang istri saya yang akan membersihkannya, dan untuk pakaian kami berdua pun istri saya juga yang kan mengurusnyna.” Ucap Hafa dengan perlaham agar tak menimbulkan kesalah pahaman. “Tugas mbak Tuti tetap sama, hanya mulai sekarang berkurang dengan hal yang berkaitan dengan saya”

__ADS_1


Tbc


__ADS_2