
đșHappy Readingđș
âSabar aja Ra, emang ada yang cepet ada yang lamaâ timpal salah satu sepupu Ara yang duduk di sampingnya. âKalian gak nunda kan?â
âIya mbak, ndak kok kami gak berencana menundaâ
âMau nunda gimana Lis, yang ada nanti keburu tua kalau nunda lagiâ timpal budhe Ara yang sedari tadi gatal ingin menyindir Ara dan keluarganya.
âya barang kali aja budheâ timpal Lisa membela Ara yang tengah menudukan kepalanya.
âSudah periksa belum Ra? Kamu gak mandul kan?â
Pertanyaan yang terlontar membuat semua orang menatap sosok wanita paruh baya yang dengan teganya menanyakan hal seperti itu,
âAstaghfirullah mbak, mbak doâain Ara mandul?â pekik mama Mira tak terima dengan pertanyaan kakak sepupunya itu.
âbener-bener ya, tega banget ngomong kaya gituâ
âAku gak doâain Mir, cuma nanya ajaâ jawab sepupu mama Mira itu dengan santainya, tanpa rasa bersalah sama sekali.
Sementara Ara hanya beristighfar pelan, hatinya yang akhir-akhir ini begitu sensistif membuat matanya berkaca-kaca.
âDoâan Ara aja budhe, semoga Ara tidak mandulâ ucap Ara akhirnya setelah menenangkan hatinya, kemudian ia pun mengajak sang mama berpamitan untuk pulang.
Sepanjang perjalanan mama Mira maupun Ara hanya terdiam tanpa mengajak para pria yang tengah menatap mereka heran.
âKamu kenapa dek?â tanya Hafa yang melihat istrinya tampak murung dan menatap ke arah jendela.
âGak papa mas, Ara hanya capek ajaâ jawab Ara berusaha setenang mungkin agar sang suami tak mengkhawatirkan dirinya.
Hingga mobil yang di kemudikan Hafa memasuki halaman, tak ada yang bersuara untuk sekedar berbasa-basi mengajak masuk ke dalam rumah.
âmama mu kenapa Dek?â tanya papa Ilham yang melihat mama Mira masuk ke dalam rumah dengan wajah cemberutnya.
âGak tau pa, apa di tempat budhe Rosi tadi ada kejadian gak enak?â jawab Farhan mengendikan bahunya, karena tak mengetahui hal yang terjadi.
Papa Ilham pun menghela nafas kemudian menyusul sang istri yang telah masuk ke dalam kamar. Sementara Hafa telah lebih dulu menyusul sang istri.
__ADS_1
âKamu kenapa dek?â tanya Hafa yang menemukan istrinya berbaring di atas ranjang tanpa mengganti pakaiannya.
âAra capek masâ lirih Ara tanpa menatap sang suami.
âOke, kalau belum mau cerita, mas mandi dulu, habis itu kamu, biar lebih segeranâ
Tak ingin memaksa sang istri, Hafa pun segera membersihkan dirinya untuk memberikan ruang kepada Ara yang tampaknya tak ingin di ganggu. Ia pun berharap setelahnya kondisi sang istri jauh lebih tenang dan siap untuk menceritakan apa yang terjadi. Hafa meyakini kalau kejadian yang membuat Ara jadi terlihat lesu seperti ini, bahkan tadi ia melihat mata cantik sang istri terlihat memerah dan memancarkan kesedihan yang di rasakan.
***
Selepas ibadah maghrib berjamaah, Hafa menghadap sang istri yang masih duduk dengan mukenanya. Kali ini ia tak berangkat ke masjid dan memilih menjadi imam untuk istrinya di rumah, hal yang jarang ia lakukan jika berada di rumah papa mertuanya.
âKamu ada masalah dek?â tanya Hafa lembut, membuat Ara seketika meneteskan air matanya.
Ara hanya menunduk, tak berani menatap sang suami yang kini merengkuhnya erat.
âhei⊠kenapa? Ada masalah apa hmmm?â
Ara pun semakin terisak, sementara Hafa masih mencoba menenangkan sang istri, ia rengkuh istrinya erat dan sesekali kecupan ringan ia daratkan di puncak kepala sang istri.
âMinta maaf kenapa Yang?â
âMaafâŠ.â
Setelah beberapa saat membiarkan sang istri agar tenang, Hafa pun melepaskan rengkuhannya, kemudian mengusap air mata yang membasahi pipi tembemnya.
Hafa pun tersenyum, kenapa ia baru menyadari pipi sang istri yang saat ini terlihat memerah terlihat lebih cubby dari sebelumnya. Kini terlihat semakin menggemaskan.
âCerita sama mas, ada apa sebenarnya? Kenapa kamu minta maaf terus?â tutur Hafa dengan tatapan teduhnya.
âMaaf karena sampai saat ini Ara belum hamilâŠâ
Hafa pun tersenyum kemudian mengecup kening sang istri begitu lama, menyalurkan rasa sayang dan juga ketenangannya, agar sang istri tak lagi berpikiran negatif karena tak kunjung hamil.
âUsia pernikahan kita baru beberapa bulan dek, jangan terlalu berat di pikirkan, yang ada nanti kamu malah stress, hmmmâ lanjutnya dengan nada yang begitu lembut hingga menenangkan Ara yang masih berusaha menghentikan isakannya.
âApa ini yang membuatmu murung dari pulang ke rumah budhe tadi?â
__ADS_1
Ara menggangguk, kemudian menceritakan kejadian yang di alaminya, ucapan yang di lontarkan salah satu budhenya untuknya.
Hafa hanya bisa menghela nafas, tak habis pikir dengan ucapan kerabat istrinya itu. âBelum nikah di sindir? Di tanya kapan nikah? Giliran udah nikah di tanya hamil atau belum? Bahkan sampai teganya menanyakan istrinya mandul atau ndak? Hufff'
âAstaghfirullahâŠ. Gak usah di pikirkan dek, besok kapan-kapan kita periksa kalau gitu ya, biar gak ada yang berpikir kalau istri mas ini mandulâ
Ara hanya mengangguk, kembali dalam rengkuhan sang suami, ia pun merasakan kenyamanan yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.
âSampai saat ini kamu belum hamil, mungkin emang Allah menilai kita belum pantes jadi orang tua dek, belum saatnya, atau juga bisa jadi karena kita kurang berusaha? Mungkin emang harus lebih sering lagiâ ucap Hafa dengan kekehan di akhir kalimatnya,
âItu maunya masâucap Ara mencebikan bibirnya kemudian tersenyum mendengar kemauan sang suami.
âLoh ya bener dong sayang? Sepertinya kita harus sering-sering melakukannya. Atau mau sekarang juga?â tanya Hafa dengan tawa bahagianya, membuat Ara memukul lembut dada bidang Hafa yang kini masih mendekapnya.
***
Setelah menjalankan ibada isya Hafa pun mengajak istri dan keluarganya untuk makan malam di luar, karena memang tadi mama Mira tak sempat memasak untuk makan malam.
âMama papa pengen makan apa?â tanya Ara yang kini sudah terlihat ceria setelah mendengar nasihat panjang dari suaminya.
âAdek pengen Capcay kakâ timpal Farhan yang duduk di belakang sang kakak,
âKakak gak nanya kamu dek, kamu apa aja nanti masukâ celetuk Ara membuat kedua orang tuanya terkekeh.
âYa habisnya kakak gak nanyain adekâ jiwa kekanakan Farhan muncul setelah sekian lama tak berdebat dengan sang kakak.
âKita ke lapangan itu aja kak, banyak kuliner dipinggir lapangan kan?â timpal papa Ilham menengahi kedua anaknya.
âOke,.. mas, ke lapangan depan aja ya, yang waktu itu kita beli nasi goreng ituâ
âOkeâ jawab Hafa kemudan memacu mobilnya menuju pusat kuliner yang jaraknya tak begitu jauh dari rumah papa Ilham.
âWih, rame bener?â pekik Ara girang saat melihat hiruk pikuk warga yang berlalu lalang disana. âAda pasar malam ternyata, kok kamu gak bilang sih dek?
âLupa kakâ
Tbc
__ADS_1