
Trisno berserta Lasmi yang melihat Tini di samping tubuh Surti yang tergeletak di lantai.
“Ada apa dengan Surti Bu?” tanya Lasmi.
“Ibu tidak tahu Lasmi, tadi Ibu hanya mendengar Surti berteriak, dan Ibu keluar kamar melihat Surti sudah tergeletak di lantai seperti ini,” Tini yang menjelaskan kronologinya kepada Lasmi.
“Lasmi panggilkan Usup berserta Iwan suruh mereka ke sini!” Perintah Trisno.
Lasmi bergegas memanggil mereka berdua di rumah pos jaga yang berada di halaman rumah Trisno.
Trisno pun sengaja di buatkan oleh Trisno untuk tempat tinggal mereka.
Setelah Lasmi selesai memanggil mereka, Lasmi berserta ke dua anak buahnya berjalan ke dapur tempat di mana Surti pingsan.
“Kalian berdua cepat angkat Surti ke kamarnya!” perintah Trisno.
“Baik Bos,” sahut Serentak mereka berdua.
Setelah selesai mengangkat Surti ke kamarnya, Iwan dan Usup keluar kamar menghampiri Trisno.
“Surti kenapa Bos?” tanya Usup.
“Sudah tidak usah bayak tanya sebaiknya kalian balik ke pos sana, aku mau melanjutkan tidurku yang terganggu!” perintah Trisno.
Mereka semua yang berada di dapur pun kembali ke tempat masing-masing dan melanjutkan tidur yang sempat terganggu.
Keesokan harinya Surti yang mulai mengingat kejadian itu mencerita kepada Trisno, Lasmi serta Tini saat mereka sedang bersantai di ruang tamu.
Namun semua orang tidak mempercayai ucapan Surti.
Trisno yang sudah mengancam semua orang yang tahu tentang Jenglot itu tidak boleh menceritakan kepada orang lain.
Jika salah satu dari mereka yang menceritakan Trisno tidak segan-segan menghabisi mereka dengan membayar pembunuh bayaran.
__ADS_1
Setiap malam menjelang Surti tidur Jenglot itu akan menghampiri Surti di kamarnya lalu mengendus-endus perut Surti.
Pernah di kala itu Surti yang tertidur dengan sangat pulasnya tiba-tiba terbangun betapa terkejutnya dirinya saat Jenglot itu sedang mengendus-endus perutnya yang sudah besar, Surti pun berteriak histeris dan teriakan Surti membangunkan seisi rumah.
Surti pun bercerita perihal dirinya melihat Jenglot itu kepada Trisno, Lasmi serta Tini yang mendatanginya di kamar.
Namun jawaban Trisno sama saja dengan yang lain mereka tidak percaya.
“Kamu hanya bermimpi mungkin Surti, aku sudah berada di rumah ini bertahun-tahun namun tidak pernah menemukan hal-hal yang kamu bilang Surti,” pungkas Trisno kepada Surti menutupi semuanya.
“Iya Pak saya tidak bohong,” ujar Surti meyakinkan Trisno.
“Mungkin saja faktor kehamilanmu Surti yang membuat kamu sering berhalusinasi,” ujar Lasmi yang membela Trisno.
“Tidak Bu, saya yakin dan jelas melihat makhluk itu mengendus-endus perut saya seakan-akan ingin mengambil anak yang ada di dalam perut saya Bu,” Surti mencoba meyakinkan mereka semua.
Namun usaha Surti hannyalah sia-sia, mereka tidak percaya dengan ucapan Surti bahkan tidak peduli dengan apa yang di ucapkan oleh Surti.
Hingga kejadian aneh Surti rasakan ketika usia kandungannya semakin besar berjalan 7 bulan di situlah Surti sering bermimpi.
Surti yang bermimpi jenglot itu selalu ingin mengambil anak di dalam kandungannya.
Di malam itu sang jenglot yang berada di dalam kamar Surti sedang mengendus-endus perut Surti yang sudah Terlihat besar.
Setelah itu sang jenglot pun mulai masuk ke dalam mimpi Surti untuk mengganggunya.
Surti yang sedang hamil besar berlari melihat jenglot itu mengejar dirinya.
“Kau tidak bisa lari ke mana-mana Surti,” ucap sang jenglot dengan suara yang besar menggema di telinga Surti.
Namun Surti yang sangat takut berusaha lari sejauh mungkin agar si jenglot tidak bisa mengajar dirinya.
Surti terus berlari memasuki hutan yang sangat dalam.
__ADS_1
Di sana Surti bertemu dengan nyai Asih yang sedang mencari kayu bakar.
Surti meminta bantuan kepada nyai Asih.
“Tolong saya Bu, saya di kejar-kejar makhluk yang sangat menyeramkan,” ucap Surti meminta tolong kepada nyai Asih.
Namun bukanya Surti mendapat pertolongan, nyai Asih terdiam kemudian menyeringai kepada Surti, melihat sikap yang tidak biasa itu Surti perlahan berjalan mundur menghindari nyai Asih. Perlahan wajah cantik dari nyai Asih itu berubah menjadi sosok Jenglot.
Seketika Surti sangat terkejut lalu berlari.
Namun nasib buruk menimpa Surti, Surti yang terjatuh tersandung akar pohon pun membuat perutnya sakit dan pendarahan.
Surti meringis kesakitan sesekali dirinya berteriak meminta tolong namun di hutan itu tidak ada satu orang pun tang mendengar dirinya.
Surti yang terjatuh menahan sakit di perutnya tidak bisa berdiri, sang jenglot pun mendekati Surti.
“Berikan bayi itu untukku Surti!” ucap sang jenglot.
“Tidak! Aku tidak akan memberikan anak ini untukmu!” pekik Surti sembari memegangi perutnya.
Jenglot itu pun mendekati Surti lebih dekat.
Akan tetapi anehnya tubuh Surti seperti susah untuk di gerakan, apa lagi tangannya sehingga mempersulit Surti untuk melakukan perlawanan.
Sang Jenglot pun mulai memegang dan meraba perut Surti yang besar itu.
Setelah sang jenglot merasa cukup meraba perut Lastri, jenglot itu pun menyayat perut Surti dengan kukunya yang sangat tajam.
Mengambil paksa anak di dalam kandungan Surti, terlihat bayi yang sangat kecil dengan di penuhi darah di badannya diangkat oleh sang jenglot.
Surti yang masih tersadar hanya bisa melihat kejadian mengerikan kepada dirinya.
“Jangan ambil anakku!” teriak Surti.
__ADS_1
Surti pun terbangun dari tidurnya ia merasakan ada sesuatu yang basah di pangkal pahanya.
Setelah Surti membukan selimutnya terlihat banyak darah yang keluar, Surti seperti sedang mengalami pendarahan.