
Tiga hari telah berselang Ningsih yang sudah berada di bali dan menginap di hotel mewah, namun di niatnya untuk berlibur tidak membuat dirinya merasa tenang.
Di dalam kamar hotel Ningsih yang sedang tidur-tiduran di tempat kasur hotel yang empuk terus menerus memikirkan Trisno bersama Sari di rumah itu.
‘Jika aku pergi terlalu lama mereka berdua akan menikmati kebersamaan mereka karena tidak ada aku, dari pada seperti itu lebih baik aku pulang saja besok,' Ningsih yang bermonolog.
‘Enak saja tidak ada aku mereka akan bersenang-senang, besok aku akan pulang,' Ningsih bermonolog kembali.
Keesokan paginya Ningsih pun mulai merapikan barang bawaannya.
Setelah semua beres ia pun pergi meninggalkan hotel mewah itu menaiki taksi menuju bandara.
Beberapa jam telah berlalu Ningsih pun telah sampai di rumah dengan di antar oleh taksi Online.
Ningsih yang turun dari taksi itu dengan membawa kopernya berjalan menuju pintu rumahnya.
Ningsih yang telah berada di depan pintu rumahnya pun segera menekan bel rumah.
Sari berserta Trisno yang masih berada di dalam kamar pun mendengar seseorang yang menekan bel rumahnya.
“Mas sepertinya ada orang, aku keluar dulu ya membukakan pintu,” ucap Sari.
“Iya sayang, jangan lama-lama,” ujar Trisno yang di mabuk cinta.
Sari keluar dari kamarnya dan membuka pintu rumah, terlihat Ningsih yang memakai dress hitam dengan menggunakan kaca mata hitam sembari menenteng koper yang ia bawa.
Dari dalam kamar terdengar suara Trisno yang berteriak.
“Siapa tamunya Sari?” pekik Trisno dari dalam kamar.
“Kak Ningsih Mas!” teriak Sari membalas pertanyaan Trisno.
Trisno pun keluar dari kamar dan mendatangi Ningsih, Terlihat Ningsih yang tampil cantik dan seksi membuat Trisno tergoda.
Trisno pun mendatangi Ningsi.
“Kamu sudah pulang Ning, aku sangat rindu kepadamu,” ujar Trisno merayu Ningsih.
__ADS_1
“Oh, masih merindukanku Ya Mas, aku kira dengan hadirnya wanita itu kamu sudah melupakan aku,” kata Ningsih yang melirik sari dengan sinis.
“Kalian berdua kan istriku jadi wajar jika aku merindukan,” rayu Trisno.
Ningsih malas meladeni rayuan Trisno ia memilih berjalan menuju kamarnya dan dengan membawa kopernya.
Trisno yang mulai kesal dengan perilaku Ningsih kepadanya.
“Ning, kamu ini sebenarnya kenapa?” tanya Trisno yang kesal.
“Aku ingin istirahat Mas, aku lelah,” ujar Ningsih meninggalkan Trisno menuju kamarnya.
Di dalam hati kecil Sari yang melihat mereka berdua seperti itu pun merasa senang.
“Sudahlah Mas, mungkin kak Ningsih cape,” kata Sari yang berpura-pura baik.
Sementara di sisi lain kedekatan Gendis bersama Bayu semakin dekat.
Di saat istirahat sekolah Bayu menghampiri Gendis yang sedang berada di kantin.
“Gendis kamu sibuk tidak hari ini?” tanya Bayu yang duduk di samping Gendis.
“Aku mau belajar kelompok sama kamu,” kata Bayu.
“Oh aku kira kenapa, Ya sudah selepas pulang sekolah nanti ke rumahku saja,” sahut Gendis.
“Oke deh kalau begitu,” kata Bayu sembari tersenyum.
Beberapa jam telah berlalu hingga tidak terasa waktu pulang sekolah telah tiba.
Bayu yang menaiki motornya pun pulang mengiringi Gendis yang berada di depanya.
Beberapa menit kemudian mereka berdua telah sampai di rumah Gendis.
“Bayu ayo masuk,” ujar Gendis.
Kehadiran mereka berdua pun di sambut oleh Tini yang sedang duduk di ruang tamu.
__ADS_1
“Eh nak Bayu, lama tidak ke rumah,” tegur Tini.
“Iya Nek, Bayu banyak tugas sekolah jadi jarang ke rumah Gendis,” sahut Bayu dengan ramah.
“Ya sudah Nenek bikin kan minum untuk kalian dahulu ya,” kata Tini.
“Tidak usah repot-repot.”
“Tidak Nak Bayu lagi pula hanya air saja,” kata Tini yang pergi meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.
“Bayu aku ganti baju dahulu ya,” ujar Gendis yang menunggalkan Bayu di ruang tamu sendirian.
Beberapa menit kemudian Tini membawa dua gelas air dingin untuk mereka.
Di saat Tini hendak meletakkan satu persatu gelas ke meja tamu, tangannya tiba-tiba kesemutan dan Bayu yang melihat itu berusaha untuk membantu Tini meraih gelas yang di pegang Tini.
Namun Bayu tidak dapat meraihnya gelas yang berisi air dingin itu malah tumpah dan mengenai baju seram sekolah Bayu.
“Maaf Nak Bayu, tangan Nenek tiba-tiba kesemutan, sekarang baju nak Bayu basah,” kata Tini yang merasa bersalah.
“Tidak apa-apa Nek, Nanti kering kok.”
“Sebaiknya buku saja dari pada masuk angin, Sini nenek bantu mengeringkan,” kata Tini.
Bayu pun melepas Baju seragamnya dan hanya memakai kaos dalam.
Tini yang terkejut ketika melihat tanda lahir hitam di bahu Bayu mengingatkannya dengan kejadian 15 tahun silam sepasang bayi kembar yang di lahirkan oleh Surti. Dan bayi laki-laki yang di duga Trisno meninggal memerintahkan Tini untuk membuangnya ke hutan.
“Tanda lahir itu,” celetuk Tini yang terkejut.
“Kenapa Nek, degan tanda lahir Bayu?”
“Tidak apa-apa Nak, nenek tinggal dulu untuk mengeringkan bajumu, dan mengambil sekalian mengambil lap pel,” kata Tini yang meninggalkan Bayu.
__ADS_1