Jenglot

Jenglot
Akal Jahat Trisno


__ADS_3

Lima tahun berlalu, Gendis pun sudah berumur lima tahun, tiba-tiba Lasmi teringat dengan janji Trisno yang akan mengajaknya liburan ke luar negeri saat mereka punya uang.


“Mas aku mau nagih janji,” ucap Lasmi. 


“Janji apa?”


“Janji Mas. Mas kan sudah janji mau ajak aku ke luar negeri, lagian Gendis juga sudah bisa di ajak naik pesawat,” ucap Lasmi menagih janji pada Trisno. 


“Masih ingat aja kamu Lasmi padahal itu sudah lama, memangnya mau kemana?” Tanya Trisno.


“Bagaimana kalau ke Singapur,” usul Lasmi.


“Ya sudah lusa Mas buatkan visa,” ucap Trisno. 


Mendengar hal tersebut, Lasmi terlihat semringah senyum merekah di bibir tipisnya Lasmi masuk ke dalam kamarnya sambil menggendong Gendis yang tengah tertidur pulas karena sudah diberikan susu.


Dua hari kemudian Trisno mengurus visa untuk dirinya, Lasmi dan juga Gendis. Pengurusan visa tersebut berlangsung beberapa hari.


Di sisi lain Lasmi telah menyiapkan segala sesuatu untuk bepergian ke luar negeri. Hingga hari yang telah ditunggu\=tunggu Lasmi pun tiba Trisno dan Lasmi telah bersiap. 


“Usup, Iwan saya titip Ibu saya. Jaga rumah baik-baik sampai aku pulang.” Ucap 


“Siap Bos! Jangan lupa oleh-olehmya daru luar negeri,” ucap Usup.


“Iya nanti saya belikan, Bu. Trisno tinggal dulu ya Bu,” ucap Trisno. 


“Kalian hati-hati,” sahut Tini. 


Trisno Pun mengemudiakan mobilnya, melaju menuju bandara sesampainya di bandara Trisno menurunkan semua koper, sedangkan Lasmi menggendong Gendis. Saat berada di bandara mereka menunggu waktu keberangkatan. Mereka menunggu di ruang tunggu. Hingga panggilan pesawat mereka terdengar. 


“Ayo Mas,” ucap Lasmi sembari menuntun Gendis berjalan. 


“Bu kita mau ke mana?” Tanya Gendis. 


“Kita mau jalan-jalan ke patung singa,” ucap Lasmi.


“Oh … yang ada di video itu ya Bu,” sahut Gendis dengan polosnya.


“Benar. Pintar anak Ibu,” puji Lasmi. 


Mereka bertiga telah masuk ke dalam pesawat, Trisno memilihkan kursi kelas bisnis untuk istri dan anaknya.


“Mas ini perjalanannya gak lama kan?” Tanya Lasmi. 


“Gak lah, kita cuma ke Singapura,” sahut Trisno. 


“Oh iya katanya Mas punya teman di sana?”

__ADS_1


“Iya rekan bisnis Mas waktu survey tambang batu bara, kenapa memangnya?”


“Bagaimana kalau kita minta dia untuk memandu kita jalan-jalan Mas,” sahut Lasmi. 


“Ya mana bisa. Mas sudah sewa orang di sana jadi kamu tenang aja,” sahut Trisno. 


Lasmi sangat senang ketika mendapat tempat duduk di samping jendela, saat pesawat naik Lasmi terlihat terkesima, semakin tinggi kota-kota di sekitar terlihat semakin kecil. Hingga terlihat kepulan kapas-kapas putih yang mengambang di atas langit.


“Wah Gendis coba lihat kita lagi di atas awan,” ucap Lasmi yang memperlihatkan kumpulan awan.


“Wah bagus banget Bu kaya permen yang biasa Gendis makan,” ucapnya. 


“Pak kita nanti turun di awan ya?” Tanya Gendis yang polos. 


“Kita gak turun di awan, nanti kita akan menembus awan lihat saja nanti,” sahut Trisno. 


Hingga mereka sampai di bandara internasional Singapura, Lasmi sangat takjub dengan tampilan bandara tersebut.


Merekan pun menikmati liburan mereka Lasmi menikmati suasana di kota itu sambil berjalan dan belanja barang-barang merek ternama tidak lupa Lasmi membelikan oleh-oleh untuk orang-orang yang ada di rumah.


Hingga sampai di hari kepulangan mereka, hari ini hari terakhir Lasmi dan Trisno berlibur. Gendis terlihat tidak ingin pulang karena merasa betah di negara singa putih tersebut.


“Bu Gendis di sini aja ya,” ucapnya.


“Gendis di sini sama siapa? Ibu sama Bapak mau pulang,” sahut Lasmi.


Trisno sebelumnya sudah meminta para pertugas hotel untu memesankan taxi untuk kenbandara.


Saat dalam perjalanan, Trisno mendapat telepon dari usup Jika ada salah satu warga Desa yang tengah membuka lahan di dekat perkebunanya.


“Halo Bos,” ucap Usup dalam telepon.


“Ada apa?”


“Si Sobari, juragan yang punya tanah di dekat perkebunan kita  buka lahan Bos kata Iwan dia mau buat perkebunan sawit,” ucap Usup.


“Sialan, berani-beraninya dia buka lahan di dekat perkebunanku. Ya sudah hari ini aku pulang.”


Penerbangan Trisno pun tiba, Lasmi serta Trisno juga sudah masuk ke dalam pesawat dan duduk di tempat duduknya.


Perjalanan pulang dari Singapur menuju Indonesia sekitar satu jam 30 menit.


Dengan persaan kesal yang berkecamuk Trisno hanya diam di saat Gendis mengajaknya bicara. Lasmi yang sudah sangat paham dengan watak suaminya itu pun mengajak Gendis untuk bicara agar perhatiannya teralihkan.


Hingga pesawat turun dan sampai di Bandara, Trisno langsung di jemput oleh Iwan.


Semua barang milik Trisno dan Lasmi di masukkan ke dalam bagasi mobil, mobil Trisno pun melaju menuju rumahnya.

__ADS_1


Saat sampai di rumah Gendis berlari  Tini.


“Nenek,” pekik Gendis.


“Aduh cucu nenek udah pulang, gimana seru liburannya?” tanya Tini.


“Seru Nek, Gendis bisa liat air mancur yang ada singanya terus jalan-jalan sama Ibu lihat mikey mouse,”  ucapnya.


“Aduh ... Pasti seru banget. Oleh-oleh buat Nenek mana?”


“Ada sama Ibu. Nenek di belikan banyak banget,” ucap Gendis dengan celotehan lucunya.


“Aduh nenek gemes sama kamu ini,” ucap Tini.


Tidak lama Trisno memanggil Usup dan juga Iwan.


“Usup, Iwan kemari!” pinta Trisno.


“Siap Bos,” sahut mereka berdua.


“Iwan apa yang di katakan Usup itu benar? Si Sobati itu buka lahan?” tanya Trisno.


“Benar Bos, saya lihat sendiri dan sempat tanya sama petugas yang buka lahan,” ucap Usup.


“Lalu dia mau bikin apa?” tanya Trisno lagi.


“menurut info yang saya dengar lahan Sobari itu ada 20 hektar dan akan di buat ke un sawit,” sahut Iwan.


“Sialan, aku tidak suka jika ada yang menyamaiku di desa ini! Kalian pantai terus pergerakan Sobari,” pinta Trisno.


“Baik Bos.”


Usup dan Iwan pun mengikuti perintah dari Trisno, mereka berdua berjalan menuju perkebunan untuk memata-matai Sobari salah satu Juragan yang juga kaya di desa tempat Triano tinggal.


Saat di rumah Lasmi melihat wajah Trisno yang terlihat kesal.


“Kenapa Mas, kok kayaknya kesal?” tanya Lasmi.


“Aku kesal jika ada yang menyamai aku di desa ini,” ucap Trisno.


“Memang siapa Mas?”


“Sobari, tapi aku sudah menyuruh Usup dan Iwan untuk memantau mereka,” sahut Trisno.


“Akan aku hancurkan si Sobari itu,” sambung Trisno.


Dengan senyum jahatnya Trisno mulai merencanakan sesuatu untuk menjatuhkan Sobari, dalam benak Lasmi sebenarnya tidak setuju dengan apa yang di lakukan oleh suaminya tersebut mengingat Sobari tidak memiliki masalah atau pun kenal dengan Trisno.

__ADS_1


Namun Lasmi tidak bisa juga melarang kemauan dari Trisno.


__ADS_2