
Suasana desa saat itu sangat sepi, mereka berdua berjalan menuju jalan yang biasa Sari lewati.
Di semak-semak Usup mulai berganti pakaian dan berakting seperti orang tua yang sudah sepuh.
Mereka menunggu Sari melintas di jalan tersebut karena setiap pukul setengah delapan Sari biasanya berjalan menuju warung untuk membeli sesuatu.
Hingga terlihat sebuah bayangan orang berjalan dan itu rupanya adalah Sari. Usup mulai berada di posisi untuk mulai berakting.
Saat Sari dekat dengan mereka, Usup mulai duduk di tanah sambil meronta kesakitan.
“Aduh ... Aduh sakit,” ucap Usup.
Terlihat Sari langsung menghampiri Usup.
“Ya Allah nenek kenapa?” tanya Sari.
“Kaki saya sakit Nak,” ucap Usup.
Sari yang saat itu lengah pun tidak sadar jika Iwan sudah berada di belakangnya dengan sebuah sapu tangan yang sudah diolesi obat bius.
Dengan cepat Iwan membungkam mulut Sari menggunakan sapu tangan tersebut, Sari tidak bisa melawan karena Usup juga memeganginya.
Hingga Sari lemas dan tak sadarkan diri, dengan cepat Usup dan Iwan mengangkat tubuh Sari dan menutup mulutnya dengan lakban serta mengikat kedua tangan dan kakinya.
Usup dan Iwan langsung berjalan menyusuri hutan sambil membawa Sari di punggungnya.
Mereka berjalan masuk ke dalam hutan yang terhubung dengan lokasi mereka menaruh mobil.
Saat sampai di depan mobil mereka langsung memasukkan Sari ke dalam mobil, dengan cepat Iwan memacu mobil keluar hutan dan menuju kediaman Trisno.
Mobil melaju menuju rumah Trisno, sekitar pukul 10 malam Usup dan Iwan sampai depan pagar di rumah Trisno.
Di sana Trisno sudah menunggu dan langsung masuk ke dalam mobil, lalu memerintahkan mereka berdua untuk pergi ke hutan yang jauh dari desa.
Trisno juga sudah menyiapkan cangkul serta peralatan lainnya yang akan ia gunakan nanti.
“Bos ini mau kita bunuh?” tanya Usup.
“Aku hanya perlu darahnya saja. Kalian jangan banyak tanya.”
Hingga mereka sampai di sebuah hutan yang jarang di lalui oleh orang, mereka mengangkat tubuh Sari dan membawanya masuk ke dalam hutan.
Saat itu Sari sudah tersadar dan berusaha melawan namun tidak berdaya karena kaki dan tangannya diikat di tambah lagi mulutnya di tutup dengan lakban.
Mereka pun sampai di tengah hutan, mereka melempar tubuh Sari ke tanah. Sari hanya bisa berteriak namun tidak dapat mengeluarkan suaranya.
“Iwan kamu pegangi dia!”
“Siap Bos.”
Sari di bangunkan dengan posisi terduduk di tanah. Trisno mulai mengeluarkan belati dari sarungnya. Tanpa berkata apa pun Trisno langsung menggorok leher Sari dan menampung darahnya ke dalam sebuah wadah.
Darah segar menyembur keluar, tubuh Sari kejang dengan darah yang mengalir deras dari batang lehernya.
Setelah wadah itu terisi penuh Trisno langsung menutup wadah itu, tubuh Sari yang awalnya kejang kini perlahan terdiam.
“Usup kamu gali lubang yang dalam di bawah pohon itu!” pinta Trisno.
“Baik Bos,” sahut Usup.
Dengan cepat Usup mengambil sekop dan mulai menggali lubang di bawah pohon beringin itu.
“Wan kamu juga bantu Usup,” ucap Trisno.
“Baik Bos.”
__ADS_1
Mereka berdua menggali lubang seukuran dua meter layaknya sebuah kuburan.
Malam semakin larut tanah galian Usup dan Iwan pun sudah siap, mereka berdua mengangkat tubuh Sari yang sudah tidak bernyawa itu dan melemparnya ke dalam lubang yang mereka gali lalu menimbunnya.
“Ratakan! Jangan sampai ada gundukkan!” ucap Trisno.
Lubang itu sudah ditimbun dengan sempurna, bahkan tidak ada gundukkan. Setelahnya Trisno menyuruh Usup dan juga Iwan untuk menaruh ranting-ranting serta daun kering di atasnya untuk menyamarkan jejak.
Setelahnya Trisno mencuci tangan dan belatinya yang penuh dengan darah tersebut lalu kembali masuk ke dalam mobil.
Mereka pun mengantar Trisno pulang ke rumahnya sedangkan Usup dan Iwan kembali ke desa tersebut agar tidak ada yang curiga dengan mereka.
Saat di rumah Trisno membawa wadah berisi darah itu ke dalam kamar ritualnya, disana ia langsung membakar kemenyan dan memanggil nyai Asih.
Sambil membaca mantra ia memanggil nama nyai Asih sebanyak tiga kali.
Tidak lama nyai Asih pun datang di hadapan Trisno.
“Bagaimana Trisno apa kau sudah mendapatkan syarat yang aku berikan?” tanya nyai Asih.
“Aku sudah mendapatknnya nyai,” ucap Trisno.
Nyai Asih berjalan menuju tempat dimana jenglot itu di simpan, ia mengambil lalu mengeluarkan jenglot tersebut dari kotaknya.
Nyai Asih memasukkan energinya ke dalam jenglot tersebut kalu mengembalikannya lagi ke dalam kotak kayu.
“Berikan darah itu kepada jenglot,” ucap nyai Asih.
Trisno pun menghampiri jenglot tersebut dan meneteskan darah perawan itu sedikit demi sedikit ke mulut jenglot tersebut.
Perlahan darah itu terserap oleh jenglot, luka-kuka yang ada pada tubuh jenglot itu pun berangsur menghilang secara ajaib.
Trisno terus meneteskan darah itu hingga habis, tidak lama mata jenglot itu mengeluarkan cahaya merah menyala.
Trisno pun senang melihat jenglot itu kembali seperti semula.
“Terima kasih nyai,” ucap Trisno.
Nyai Asih pun menghilang meninggalkan Trisno.
Di sisi lain, Usup dan Iwan yang masih dalam perjalanan merasa ngeri melihat Trisno yang
dengan sadisnya menggorok leher gadis cantik tersebut.
“Aku serem lihat bos dengan mudahnya menghilangkan nyawa orang. Apa lagi ini cewek cantik Wan,” ucap Usup.
“Aku gak heran, namanya juga pesugihan,” sahut Iwan santai.
“Sayang banget padahal Sari itu cantik mana kembang desa,” eluh Usup.
“Udah jangan kamu terlalu memikirkan wanita. Karena wanita itu bisa bikin kita lupa diri,” ucap Iwan.
Pukul dua pagi, Usup dan Iwan sampai kembali di desa tersebut mereka memarkir mobil di hutan lalu berjalalan masuk menyusuri hutan untuk menghindari para petugas ronda.
“Sup kita berpencar saja, kamu lewat jalan desa aku lewat hutan biar tidak ada yang curiga,” ucap Iwan.
“Terus kamu bawa ini,” Iwan menyerahkan sesuatu.
“Ini obat apa?” tanya Usup.
“Sengaja aku beli ini tadi buat alibi, jika ada yang tanya kamu bilang saja habis beli obat buat aku. Bilang kalau asmaku kambuh,” tutur Iwan.
“Ya sudah. Kamu hati-hati.”
Mereka berdua pun berpencar, Usup berjalan biasa menyusuri jalan desa yang sepi hingga ia melewati pos ronda.
__ADS_1
“Eh Sup habis dari mana jam segini?” tanya salah seorang warga.
“Oh ini habis cari-cari obat untung ada yang masih buka,” ucap Usup.
“Obat apaan Sup? Obat kuat?” ledek salah satu warga.
“Bukan. Asma di Iwan kambuh tuh dia di rumah lagi bengek gak bisa tidur dia kasihan jadi aku carikan obat aja untung di desa sebelah ada toko obat.”
“Kamu jalan kaki?”
“Gak lah pakai ojek, mana berani aku jalan kaki sendirian, mana tadi aku di turunin di depan lagi. Katanya di desa ini banyak hantunya.” sahut Usup.
“Hahaha ... Nasib mujur kamu tidak di gondol kuntilanak Sup.”
“Eh memangnya beneran banyak hantunya?” ucap Usup yang berakting seakan ketakutan.
“Alah badan aja yang gede masa takut sama hantu,” ledek salah seorang petugas ronda.
“Udah ah aku balik aja. Mana jalan sendirian lagi.”
Usup pun sampai berlari tunggang langgang seakan merasa ketakutan, padahal itu hanya sandiwara Usup semata.
Di rumah Iwan sudah terlebih dahulu sampai, Usup seakan mengetuk pintu dan Iwan yang membukakan pintu.
“Ini Wan obat asmanya, untung aja masih ada yang buka. Mana tadi aku di turunin di depan jalan sama ojek apes banget,” ucap Usup bersandiwara karena sadar saat itu ada seorang tetangga yang baru saja keluar rumah untuk ke pos ronda.
Usup pun masuk ke dalam rumah, dan langsung mengunci pintu.
“Gimana aman kan?” tanya Iwan sambil berbisik.
“Aman.”
Keesokan harinya Usup bekerja sendirian di ladang jagung karena berdalih Iwan tengah sakit.
Sebelumnya Iwan sudah memberi tahu Usup jika ia harus menyebar kabar jika Iwan sakit dan Usup yang membeli obat tengah malam di desa sebelah.
Hingga terdengar kabar Sari menghilang, banyak orang mencari Sari, hingga masuk ke dalam hutan.
Sebelumnya Iwan sudah memindahkan mobil mereka ke tempat yang aman agar warga tidak heboh ketika melihat sebuah mobil berada di dalam hutan. Iwan juga menyamarkan jejak ban mobil yang ada di hutan.
Seluruh desa menjadi gempar karena kembang desa mereka yang bernama Sari menghilang tanpa jejak hingga hilangnya Sari dikait-kaitkan dengan hal mistis.
Beberapa rekan kerja Usup pun heboh tentang hilangnya Sari, di sini Usup berinisiatif seakan tidak mengenal siapa Sari.
“Mas Sari itu siapa sih?” tanya Usup.
“Kamu gak tahu, Sari itu putri dari pak Kodir dia kembang desa di sini,” ucapnya.
“Wah saya mana tahu mas yang kaya begitu, saya tahunya cuma kerja, makan, tidur,” sahut Usup.
Usup terkejut karena Sari ternyata adalah anak dari Kodir, juragan jagung di desa tersebut.
Sambil terus bekerja Usup memperhatikan percakapan para buruh jagung tersebut.
Semakin hari berita hilangnya Sari semakin ramai, hingga Kodir melapor pada polisi. Hal ini membuat Iwan dan Usul sedikit khawatir pasalnya mereka bisa saja ketahuan jika polisi bisa mendapatkan bukti walau pun hanya sedikit.
Di dalam kontrakan kecil itu Usup dan Iwan mulai waswas takut ketahuan.
“Aku gak tahu kalau dia anaknya Kodir,” ucap Usup.
“Kita harus tetap tenang, jangan sampai melakukan pergerakan yang mencurigakan,” ucap Iwan.
“Untungnya desa ini di jam seperti ini sepi jadi tidak ada saksi yang melihat,” sambungnya.
“Untungnya juga kita adalah orang baru, jadi orang akan mengira kita pasti tidak mengetahui tentang Sari. Apa lagi kita tidak pernah bertanya masalah Sari kepada siapa pun,” ucap Usup.
__ADS_1
Beberapa hari kemudian pencarian terhadap Sari terus berlanjut namun tidak seintens pertama kali di lakukan pencarian, polisi juga tidak menemui titik terang bahkan bukti tentang kasus hilangnya Sari.
Usup dan Iwan pun akhirnya bisa bernafas lega dan beraktivitas seperti biasa di ladang.