
Saat tengah malam tepatnya jam 12 malam di saat semua telah tertidur Trisno keluar dari kamarnya untuk melaksanakan ritual sesatnya.
Trisno masuk ke dalam kamar ritual khusus untuk sang jenglot saat Trisno telah masuk ke dalam kamar ritual itu, Trisno tidak lupa untuk mengunci pintu kamarnya.
Di atas meja kamar itu telah siap sesaji untuk sang jenglot seperti biasa Trisno memulai melaksana ritualnya dengan menaburkan kemenyan di atas bara api.
Setelah sepihan kemenyan itu berubah menjadi gumpalan asap tipis yang mempunya aroma yang sangat has, aroma yang sangat di sukai bagas Jin ataupun dedemit.
Setelah itu Trisno menusukkan jarum ke jari telunjuknya lalu meneteskan ke mulut sang jenglot sembari membaca mantra.
Setelah tata cara pertama selesai Trisno kembali mengambil ayam cemani yang masih hidup itu yang di letakan di atas meja sajen Trisno mendekatkan leher ayam itu ke mulut sang jenglot lalu menyembelih leher ayam cemani itu.
Seketika darah segar keluar dari urat-urat nadi yang putus dari leher Ayam cemani.
Darah segar membasahi wajah jenglot serta tubuhnya yang berada di kotak kayu.
Sang jenglot yang berada di dalam kotak kayu itu pun seakan-akan menyerap habis darah ayam cemani.
Lalu sang jenglot yang telah menghisap habis darah ayam itu pun berubah menjadi sosok makhluk yang sangat menyeramkan.
“Ada apa Trisno kau memanggilku?” tanya sang Jenglot
__ADS_1
“Apakah kau bisa membantuku sang jenglot?” tanya Trisno.
“Apa itu Trisno?”
“Bisakah perjanjian calon anakku aku ganti dengan bayi yang lain?” tanya Trisno.
“Tidak bisa Trisno, aku sudah membantumu sejauh ini. Maka kau juga harus menepati janjimu,” ucap sang jenglot
“Di perjanjian awal kau dan nyai Asih tidak berbicara tentang itu sang jenglot!” Trisno yang menegaskan kembali.
“Nyai Asih pernah berkata apa kau mau terima konsekuensi saat memelihara diriku dan kau jawab apa pun konsekuensinya aku terima ini kau sudah berjanji apa pun yang aku minta kau akan terima, apakah kau mengingatnya Trisno?”
“Iya aku mengingatnya, tapi itu anakku, anak yang telah lama aku impikan setelah Lasmi tidak dapat memberikanku keturunan.”
“Aku tidak peduli Trisno, perjanjian adalah perjanjian mau itu darah dagingmu sendiri aku tidak peduli karena aku sangat menginginkan darah dagingmu,” ucap sang jenglot sangat menohok di benak Trisno.
“Aku mohon jenglot apa pun yang kau minta akan aku turuti asal jangan darah dagingku sendiri,” Trisno yang memohon kepada sang jenglot.
“Tidak bisa Trisno, perjanjian adalah perjanjian. Mau tidak mau aku akan mengambil anak mu!” sahut sang jenglot lalu menghilang.
Trisno yang mendengar ucapan sang jenglot semakin sedih, anak yang ia nanti-nantikan sekian tahun akan menjadi tumbal untuk sang jenglot.
__ADS_1
Dengan hati yang sedih Trisno kembali ke kamarnya meninggalkan kamar ritualnya.
Saat di dalam kamar Trisno berjalan menuju tempat tidurnya kembali melanjutkan tidurnya.
Namun Trisno tidak dapat memejamkan matanya ucapan sang jenglot selalu teriang-iang di benaknya.
‘Apakah aku tidak dapat bahagia, anak yang aku nanti-nantikan sekian tahun harus aku tumbalkan begitu saja,' batin Trisno yang bersedih.
“Aku harus berkata apa kepada Ningsih jika memang ini terjadi? Apa yang harus aku perbuat,” ucap Trisno dengan sangat kalut.
‘Jika aku bicara kepadanya dia pasti tidak akan terima, dan jika aku mengingkari janjiku kepada jenglot itu nyawaku yang akan jadi taruhannya. Apa yang sebaiknya harus aku perbuat,' Trino yang bermonolog.
Trisno dengan pikiran kalutnya mencoba untuk tidur agar dapat melupakan perkataan dari sang jenglot.
Beberapa jam kemudian Trisno pun tertidur dengan sangat lelapnya hingga melupakan sesaat ucapan dari sang jenglot.
Trisno yang kini memiliki semua yang dia inginkan namun tidak pernah tenang karena jika dirinya melanggar perjanjian dengan sang jenglot, jenglot itu tidak segan-segan untuk mengambil nyawanya.
Segala upa Trisno akan lakukan untuk agar sang jenglot tidak mengambil nyawanya dan kemungkinan besar darah dagingnya sendiri bisa ia tumbalkan untuk menyelamatkan nyawanya.
__ADS_1