
Keesokan paginya Tini yang sedang menyiapkan sarapan pagi untuk Trisno berserta Gendis yang akan pergi ke sekolah.
Gendis yang tengah rapi dengan menggunakan baju seragamnya berjalan menuju meja makan.
“Nek, Bapak mana?” tanya Gendis kepada Tini.
“Bapakmu masih tidur, coba sana bangunkan biar bisa sarapan bareng-bareng!” ujar Tini memerintahkan Gendis.
“Iya Nek,” sahut Gendis berjalan menuju kamar Trisno.
Sesampainya di pintu kamar Trisno, Gendis pun mengetuk pintu kamar Bapaknya.
“Pak, Pak, ayo sarapan,” pekik Gendis memanggil Trisno
“Udah kamu duluan saja!” teriak Trisno dari kamar.
Gendis yang mendengar ucapan Trisno pun kembali kemeja makannya.
Saat dirinya kembali ke meja makan Tini menanyakan kepada Gendis.
“Mana bapak mu Gendis?” tanya Tini.
“Masih di dalam kamar Nek kata Bapak, Gendis di suruh makan duluan,” sahut Gendis memberi tahukan kepada sang nenek.
“Ya sudah kalau gitu kamu makan saja dulu,” sahut Tini.
Gendis pun menikmati sarapan paginya sebelum dirinya berangkat ke sekolah.
Beberapa menit kemudian Gendis telah selesai sarapan pagi ia pun berpamitan kepada Neneknya Tini, sementara Trisno yang masih di dalam kamar tidak bisa Genis berpamitan.
Setelah itu Gendis pun pergi ke sekolah menaiki motornya.
Satu jam kemudian Trisno mulai keluar dari kamarnya.
Trisno bersantai di ruang keluarga sembari menonton acara televisi.
“Bu! Bu!” teriak Trisno memanggil Tini ibunya.
__ADS_1
“Iya Trisno,” sahut Tini dari dapur.
“Bikinkan Trisno kopi Bu,” pekik Trisno.
“Iya Nak,” sahut Tini dengan lembutnya.
Saat Trisno sedang melihat acara televisi, ia di kaget kembali dengan kasus kematian Sari di dalam berita di jelaskan bahwa Sari adalah anak dari juragan jagung yang bernama Qodir.
‘Ini lagi, ini lagi, kenapa semua acara TV tidak ada yang bagus, semua tentang kematian sari,' gumam Trisno dengan sangat kesal.
Akan tetapi saat Tini membawa kopi untuk Trisno dan tidak sengaja melihat berita di dalam TV. Tini merasa tidak asing dengan Qodir juragan jagung dari desa sebelah.
“Tunggu Trisno! Jangan di ganti beritanya,” pinta Tini yang sedang menyimak.
“Ada apa sih Bu, sebaiknya ibu pergi saja ke pasar tidak usah melihat tontonan ini,” kata Trisno.
“Ya Allah ternyata mayat yang di temukan itu adalah keponakanku,” ucap Tini sembari menangis.
“Ibu kenapa ada apa?” Tanya Trisno yang bingung.
“Kamu lupa Trisno paman Qodir yang dulu suku menggendongi di kala kamu masih berusia satu tahun.”
“Paman Qodir itu adek dari ibu Nak,” ujar Tini.
Sontak saja Trisno terdiam dan meninggalkan Tini yang sedang bersedih.
Trisno berjalan menuju teras depan menghampiri Usup, serta Iwan.
Usup dan Iwan yang sedang duduk di pos jaga di hampiri oleh Trisno.
Tamparan keras melayang ke dua pipi Usup serta Iwan.
“Bodoh kalian berdua!” ucap Trisno dengan nada marah.
Usup serta Iwan yang terkejut karena tamparan Trisno memegang pipi masing-masing.
“A-ada apa Bos? Kami salah apa?” tanya Usup yang bingung.
__ADS_1
“Kalian berdua bodoh, kalian tahu wanita yang bernama sari yang kalian bunuh itu!” sahut Trisno dengan marah.
“Tidak Bos memangnya kenapa Bos?” tanya Iwan.
“Dia itu anak juragan jagung desa seberang dan ayahnya itu adik ibuku.”
Mereka berdua yang mendengar ucapan Trisno pun sangat terkejut.
“Jika kasus ini terungkap, dan aku ke bawa kalian berdua yang akan tahu akibatnya!” ancam Trisno.
“Maaf Bos, sumpah Bos kami berdua tidak tahu,” kata Usup.
“Sudahlah aku pusing, pokoknya jika kasus ini sampai terungkap kalian bersiap-siap akan terima akibatnya mengerti!” ancam kembali Trisno.
Trisno yang sangat kesal pun pergi ke kamar untuk mengambil kunci mobil.
“Mau ke mana Nak?” tegur Tinu.
“Mau ke rumah Ningsih” sahut Trisno lalu pergi meninggalkan Tini.
Trisno yang berjalan menghampiri mobilnya di garasi mulai masuk ke dalam mobil meninggalkan rumahnya dan pergi ke tempat Ningsih.
Sementara Usup serta Iwan yang saling menyalahkan satu sama lain mereka takut akan ancaman Trisno.
Karena bagi mereka berdua ancaman dari Trisno itu tidak main-main dan bukan hanya ucapan omong kosong.
Usup serta Iwan langsung mencari menonton berita di televisi hendak mengetahui kabar kasur dari sari.
Keberuntungan masih berpihak kepada mereka berdua, kasus kematian sari hanya terungkap siapa sari sebenarnya bukan siapa pembunuhnya.
Pihak kepolisian masih bingung mencari pelaku pembunuhnya karena tidak ada bukti dan saksi mata saat Sari sedang di culik dan di bunuh.
***
Tiga bulan lamanya kasus kematian Sari belum juga terungkap hingga pihak polisi pun memutuskan menutup kasus ini dan pihak keluarga pun sudah merelakan kepergian Sari dengan tenang.
__ADS_1