Jenglot

Jenglot
Kabar bahagia


__ADS_3

Sementara di sisi lain Trisno sedang bersenang-senang dengan Ningsih, di pagi itu saat Ningsih sedang membuatkan Trisno sarapan pagi.


Ningsih secara tiba-tiba merasakan mual dan kepala terasa berat.


Ningsih pun berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.


Setelah selesai Ningsih masuk kamar dan berbaring di samping Trisno yang masih tertidur.


Beberapa menit kemudian Trisno pun membuka matanya mengetahui Ningsih tidur di sampingnya tidak seperti biasanya.


“Ning kamu kenapa? Apa kamu sakit?” tanya Trisno.


“Iya Mas, seperti aku tidak enak badan,” ucap Ningsih.


“Kalau begitu aku antar kamu ke puskesmas ya,” ucap Trisno.


“Iya Mas.”


“Ya sudah aku mandi dahulu baru, nanti aku antarkan kamu ke puskesmas,” ucap Trisno sembari berjalan menuju kamar mandi.


Selang beberapa menit Trisno pun telah selesai mandi sementara Ningsih sudah siap menunggu Trisno.


Selesai memakai baju Trisno pun keluar dari kamar sembari menggandeng Ningsih.


Mereka berdua berjalan keluar rumah menuju mobil.


Sesampainya di depan mobil Trisno berserta Ningsih pun menaikinya Trisno yang bertugas mengemudikan mobilnya.


Trisno menyalakan mesin mobil lalu menjalankannya menuju puskesmas.


Di dalam perjalanan menuju puskesmas Trisno menanyakan apa yang Ningsih rasakan.


“Ning apa yang kamu rasakan?” tanya Trisno.


“Kepalaku terasa berat Mas, lalu perutku mual serta badanku lemes Mas,” ujar Ningsih.


“Apa jangan-jangan kamu hamil Ning,” sahut Trisno dengan di sertai senyum semringah di wajahnya.


“Semoga saja Mas, aku pun sangat mengharapkan kehadiran bayi di keluarga kecil kita, sudah tiga tahun kita menikah tapi belum juga di karuniai seorang anak,” kata Ningsih yang sangat berharap.


“Iya aku juga kepingin punya seorang anak, apa lagi anaknya dari kamu pasti ganteng dan cantik,” Trisno yang mulai merayu Ningsih.


Tidak lama kemudian mereka berdua telah sampai di parkirkan rumah sakit.


Trisno pun mematikan mobilnya lalu mengajak Ningsih turun dari mobil.


“Hati-hati Ning,” ujar Trisno menggandeng tangan Ningsih.


“Iya Mas.”


Mereka berdua berjalan menuju puskesmas


Karena di desa hanya ada puskesmas jadi Trisno memilih alternatif itu.


Sesampainya di puskesmas Trisno mendaftarkan Ningsi, setelah selesai Trisno berserta Ningsih menunggu panggilan perawat.


Beberapa menit setelah menunggu tiba saatnya nama Ningsih di panggil.

__ADS_1


“Ibu Ningsih silakan masuk,” panggil perawat.


Ningsih berserta Trisno pun masuk ke dalam ruangan Dokter.


Ningsih yang di suruh berbaring dan di periksa oleh Dokter.


Setelah selesai memeriksa Dokter pun menyimpulkan.


“Bagaimana Dok? Istri saya apa sedang hamil,” ujar Trisno yang sangat antusias.


“Iya Pak selamat, menurut pemeriksaan istri bapak sedang hamil jalan dua bulan,” kata Dokter.


Mendengar hal itu Ningsih berserta Trisno pun sangat bahagia.


“Ning aku akan menjadi seorang bapak dan kamu akan menjadi seorang ibu,” ucap Trisno dengan sangat bahagia.


“Iya Mas, aku sengat senang sekali mendengarkannya akhirnya aku mengandung anakmu Mas, anak yang selama ini kita impikan,” sahut Ningsih yang sangat bahagia.


“Ini saya berikan vitamin berserta susu untuk ibu Ningsih nanti bisa di tebus di apotik depan ya pak Trisno.


“Baik Dok, terima kasih,” ujar Trisno pergi meninggalkan ruangan Dokter.


Sebelum pulang Trisno pun berjalan menuju apotek untuk menebus resep yang di berikan olah Dokter.


Setelah semua selesai Trisno pun berjalan menuju parkiran mobilnya.


Sesampainya di parkiran mobil, Trisno berserta Ningsih masuk ke dalam mobil.


Trisno mulai menyalakan mobilnya meninggalkan puskesmas itu menuju rumahnya.


Di perjalanan menuju rumah mereka berdua berbincang santai di dalam mobil.


“Aku pun begitu Ningsih akhirnya penantian selama tiga tahunku tidak sia-sia,” ujar Trisno yang sangat bahagia.


Selang beberapa menit akhirnya Trisno berserta Ningsih pun telah tiba di rumah.


“Ning sebaiknya kamu beristirahat saja, kamu mau makan apa biar aku yang belikan nanti,” kata Trisno yang memberikan perhatiannya kepada Ningsih.


“Mmm, aku maunya hari ini Mas temani aku saja di rumah,” sahut Ningsih dengan sangat manja.


“Ya sudah demi kamu, hari ini aku tidak kerja.”


“Nah gitu aku lagi ingin bermanja-manja denganmu Mas.”


“Iya Ningsih sayang.”


Seharian Trisno menemani Ningsih di rumah hingga menjelang malam.


Mereka berdua sedang berada di dalam kamar sembari mengobrol Santai.


“Mas jika anak ini lahir Mas, mau anak perempuan atau laki-laki,” tanya Ningsih.


“Aku ingin anak laki-laki Ning, karena apa aku akan tua dan bisnisku batu bara dan perkebunan harus tetap jalan jika anak laki-laki aku bisa mengharapkan dia untuk menjalankan semua bisnisku ini,” ujar Trisno yang mengungkapkan harapannya.


“Kalau kamu Ning?”


“Kalau aku di kasihnya saja Mas, oh oya jika harapan Mas tidak terkabul dan anak ini perempuan, apa Mas akan menikah lagi dan meninggalkan aku?” ucap Ningsih secara menohok.

__ADS_1


“Tidak sayang, aku kan tetap setia bersamamu,” Trisno yang kembali mengeluarkan rayuan mautnya.


Tidak terasa malam semakin larut Trisno berserta Ningsih pun mulai merasakan ngantuk.


Sayup-sayup mata Trisno mulai merasa berat dan akhirnya ia pun tertidur sembari memeluk Ningsih.


Di saat Trisno mulai tertidur Trisno kembali bermimpi buruk.


Di dalam mimpinya Trisno berasa berada di dalam hutan, di sana ada yang seperti memanggil dirinya.


“Trisno, Trisno.”


Namun Suara itu tidak ada wujudnya.


“Siapa kamu kalau berani tunjukkan wujudmu,” Trisno yang menantang


Gumpalan asap putih terlihat di hadapan Trisno sampai akhirnya gumpalan asap putih itu berubah menjadi sosok nyai Asih.


“Nyai Asih, ada apa nyai memanggilku?”


“Bayi yang di kandung Istrimu nanti akan menjadi milik jenglot peliharaanmu Trisno,” ucap nyai Asih.


Ucapan nyai Asih sangat menohok bagi Trisno.


“Kenapa harus anakku nyai? Aku bisa mencarikan bayi lain asal jangan anakku nyai.


“Tidak bisa Trisno, ini sudah perjanjianmu. Setiap istrimu hamil akan menjadi milik sang jenglot!”


“Kenapa waktu itu anak Surti anakku bisa aku gantikan nyai? Tapi kenapa anak Ningsih tidak bisa?”


“Karena Surti bukan istrimu, sedangkan Ningsih itu Istrimu.”


“Apakah tidak ada cara untuk menggantikan anakku nyai, aku baru merasakan kebahagiaan mendapat kehadiran seorang anak,” Trisno yang memohon kepada nyai Asih


“Tidak bisa, aku tidak peduli perjanjian tetap perjanjian, bayi yang ada di perut istrimu akan menjadi milik jenglot peliharaanmu,” ucap nyai Asih pergi meninggalkan Trisno.


“Aku tidak mau!” teriak Trisno bangun dari tidurnya.


Ningsih yang mendengar teriakan Trisno pun ikut terbangun.


“Ada apa Mas?” tanya Ningsih.


“Aku bermimpi buruk Ning.”


“Kamu bermimpi apa Mas?”


“Aku di datangi makhluk yang sangat menyeramkan,” ucap Trisno yang berbohong.


Trisno tidak mau Ningsih tahu tentang dirinya memelihara jenglot apa lagi mengetahu bayi yang di kandungnya akan menjadi milik sang jenglot.


“Ya sudah Mas, jangan terlalu di pikirkan itu hannyalah mimpi bunga tidur,” kata Ningsih kepada Trisno.


“Iya Ning.”


“Mari kita tidur kembali Mas.”


Sebenarnya Trisno merasakan khawatiran tapi ia tidak bisa memberitahukan Ningsih dan harus berpura-pura tenang di hadapan Ningsih.

__ADS_1


Trisno pun mulai mencoba memejamkan matanya sampai akhirnya ia pun tertidur kembali.


__ADS_2