Jenglot

Jenglot
Bayi laki-laki yang di buang


__ADS_3

Tidak lama saat Tini pergi ke dapur Gendis pun datang menghampiri Bayu.


Gendis yang saat itu datang melihat lantai di bawah meja tamu basah.


Gendis yang tidak mengetahui apa yang terjadi pun menanyakan kepada Bayu.


“Bayu kenapa ini kok lantainya basah? Dan kamu lepas baju” tanya Gendis dengan berjalan berhati-hati takut dirinya terjatuh.


Bayu pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


“Tadi Nenek, mau menaruh minuman di meja tapi karena tangannya tiba-tiba kesemutan jadi tidak seimbang aku berusaha menolong, eh gelasnya berhasil aku selamatkan tapi airnya tumpah deh ke baju dan ke lantai,” ujar Bayu menjelaskan kepada Gendis.


“Ya udah tunggu sebentar Ya, biar aku bersihkan air yang tumpah di lantai dahulu,” kata Gendis sembari berjalan meninggalkan Bayu menuju dapur untuk mengambil lap pel.


Saat Gendis menuju dapur ia melihat neneknya membawa lap pel di tangannya.


“Nek sini biar Gendis aja yang mengalapnya nenek istirahat saja mungkin nenek kecapean,” Gendis yang mengambil lap pel dari tangan neneknya.


“Tidak apa-apa Gendis, nenek baik-baik saja,” sahut Tini menolak.


“Sudahlah Nek, biar Gendis saja nenek istirahat saja ya,” bujuk Gendis.


Tini pun akhirnya menuruti kemauan Gendis, Tini memberikan lap pel di tangannya kepada Gendis setelah itu dirinya pun pergi ke kamarnya untuk beristirahat.


Gendis yang telah berada di ruang tamu pun membersihkan lantai yang basah tersebut, setelah selesai barulah dirinya mulai melakukan kerja kelompok bersama Bayu.


Sementara di sisi lain Tinj yang sedang berada di kamarnya dan sedang berbaring di tempat tidurnya teringat akan kejadian 15 tahun yang lalu.

__ADS_1


Di kala itu Tini yang di perintahkan Trisno untuk membuang anak laki-laki itu ke hutan akan di makan binatang buas pun melaksanakan perintah Trisno.


Dirinya berjalan menuju hutan sembari mengendong anak laki-laki Surti yang di katakan meninggal.


Namun di saat Tini melewati kebun sawit keajaiban muncul, anak laki-laki itu secara tiba-tiba menangis dengan kencang Tini pun mendengar tangisan anak itu merasa senang dan tidak tega untuk membuangnya dan secara kebetulan di perkebunan sawit yang sangat jauh dari rumah warga pun terdapat bilik bambu yang di buat untuk tempat beristirahat.


Tini pun masuk ke dalam bilik bambu tersebut kebetulan pintu dari bilik bambu itu tidak terkunci ia pun meletakan anak laki-laku itu di dalam rumah itu dan menyelimutinya dengan kain yang Tini pakai untuk mengendong anak tersebut.


“Semoga saja nanti ada orang baik yang menemukanmu Nak, maafkan aku,” ujar Tini yang meninggalkan anak laki-laki itu.


Tini menutup pintu bilik tersebut dan berjalan kembali pulang.


Sepanjang perjalanan pulang Tini berdoa.


‘Ya Allah lindungilah anak itu berikanlah dia orang yang baik yang mau mengeruhnya dengan tulus,' batin Tini.


Tini pun mulai berbohong kepada Trisno untuk menyelamatkan nasib anak tersebut.


Keesokan paginya Anwar yang memang mempunyai perkebunan itu tidak seperti biasanya ia pergi ke perkebunan sawit tersebut.


Di saat malam hari dirinya bertemu seorang kakek-kakek bersoban yang pernah menyelamatkan dirinya waktu tersesat di alam lain.


Kakek itu memerintahkan Anwar pergi ke bilik bambu tersebut, Anwar pun tidak mengerti maksud kekek itu kepadanya tapi hatinya merasa yakin jika dirinya akan menemukan sesuatu di bilik bambu tersebut.


Dan benar saja saat pagi-pagi sekali sebelum para buruh datang Anwar sudah berada di perkebunan sawit miliknya dengan menaiki mobilnya. Anwar membuka pintu bilik itu yang terbuat dari kayu.


Anwar sangat kaget karena menemukan seorang anak laki-laki di dalam bilik tersebut.

__ADS_1


Dengan sangat senang Anwar pun langsung memeluk dan membawa pulang anak tersebut. 


Dan secara kebetulan sudah 5 tahun Anwar berumah tangga, namun belum juga mendapatkan seorang anak.


Setelah Anwar sampai ke rumah Anwar memberitahukan kepada sang istri dirinya menemukan bayi laki-laki di bilik perkebunan sawit.


Dengan senang Rini istri Anwar pun menyambut bayi itu mereka mengurus bayi itu dengan cinta dan kasih dan Bayi laki-laki itu di beri nama Bayi Anwari.


Namun hingga sekarang Anwar berserta sang istri menutupi cerita itu kepada Bayu.


Tini yang kaget ternyata bayi yang di letakan di dalam bilik bambu tersebut menjadi teman akrab Gendis.


‘Ternyata sekarang kamu menjadi anak yang baik ya Bayu ada orang baik yang benar-benar merawatmu dengan tulus, semoga saja dengan kehadiranmu saat ini kamu dapat menolong Surti ibumu dan dapat mengakhiri semua kejahatan Trisno Bayu,' batin Tini yang berharap.


Satu jam telah berlalu Gendis berserta Bayu telah selesai mengerjakan kerja kelompok mereka dan pakaian seragam Bayu pun telah kering.


Gendis mengetuk kamar Tini untuk memberitahukan kepada Tini jika Bayu ingin berpamitan pulang.


“Nek Bayu mau pulang,” pekik Gendis di balik pintu kamar Tini.


“Iya tunggu sebentar nenek keluar,” sahut Tini di dalam kamarnya.


Tini pun keluar kamar dan berjalan menuju ruang tamu bersama Gendis.


Sesampainya di ruang tamu Bayu pun berpamitan kepada Tini dan Tini berserta Gendis mengantarkan Bayu sampai di depan teras rumahnya.


 

__ADS_1


__ADS_2