Jenglot

Jenglot
Kehamilan kedua Surti


__ADS_3

Seminggu sudah Surti hanya berdiam diri tanpa bicara bahkan tidak mau makan dan minum.


Sesekali ia menangis tanpa sebab bahkan terkadang berteriak sembari menjambak-jambak rambutnya sendiri hingga rontok.


Helaian rambut berserakkan di lantai gelap itu, kini tubuhnya kurus dengan lingkaran hitam di matanya karena jarang tidur.


Rambutnya pun semakin tipis, karena Surti memiliki kebiasaan baru yaitu mencabuti helaian rambutnya satu tersatu.


Kuku-kukunya juga panjang serta hitam sebagian ada yang terlepas karena sering mencakar dinding.


Perilaku Surti semakin hari semakin aneh, depresi berat yang ia alami membuatnya kehilangan akal sehatnya.


Tini yang setiap hari merawatnya pun merasa sangat kasihan kepada Surti tapi apalah daya ia tidak bisa menentang Trisno walaupun Trisno adalah anaknya sendiri.


“Surti ... Surti, kenapa nasibmu jadi begini nak,” ucap Tini.


“Surti kamu makan dulu ya,” ucap Tini sambil berusaha menyuapi Surti.


Surti hanya diam tanpa menghiraukan Tini.


“Maafkan ibu Nak Surti, ibu tidak bisa berbuat apa pun,” ucap Tini dengan mata yang berkaca-kaca.


Mendengar hal itu Surti menoleh ke arah Tini lalu memandangnya dengan mata sayu.


“Kamu makan ya Nak Surti,” pinta Tini.


Akhirnya Surti mau membuka mulutnya, suapan demi suapan hingga akhirnya makanan yang ada di dalam piring habis.


‘Tubuh Surti ini kenapa ya, badannya kurus tapi perutnya buncit,' pikir Tini


Tini pun memegang perut Surti dengan perlahan, Tini menekan-nekan perutnya.


“Apa perutmu sakit Surti?” tanya Tini.


Surti menggelengkan kepalanya, Tini merasa curiga karena Tini merasakan ada hal aneh di dalam perut Surti namun ia tidak perduli dan menganggap Surti hanya kembung saja.


Tini pun pergi keluar dari ruang bawah tanah itu lalu mengunci pintu tersebut lalu pergi.


Di sisi lain Trisno tengah berbincang dengan Arifin, setelah melakukan survey ke lokasi tambang selanjutnya Arifin membuat surat perjanjian resmi di temani oleh seorang notaris.


Arifin juga membuat surat kontrak kerja sama antara dirinya dan juga Trisno.


Setelah kesepakatan terjadi Arifin beserta notaris itu pun pergi meninggalkan rumah Trisno.


Trisno pun menghampiri Tini dan menanyakan perihal masalah Surti. 


“Bagaimana Surti?” tanya Trisno.


“Dia akhirnya mau makan, tapi sepertinya dia lagi masuk angin perutnya kembung,” ucap Tini.


“Ya sudah kalau begitu,” ucap Trisno singkat.

__ADS_1


Hingga satu bulan telah berlalu, kecurigaan Tini semakin kuat. 


Karena dalam dua bulan terakhir Surti tidak mengalami datang bulan, biasanya Tini lah yang akan mengurus semuanya dari mulai urusan buang air hingga yang lainnya.


Perut Surti juga semakin membesar, sekali lagi Tini memeriksa perut Surti. Saat Tini mendekatkan tangannya ke perut Surti, ia merasakan pergerakan berbeda. Tini pun terkejut bukan kepalang.


“Tidak salah lagi. Surti kamu hamil? Siapa yang menghamilimu?” tanya Tini.


Surti tidak memedulikan Tini ia malah asyik mencabuti rambutnya.


“Surti bicara sama Ibu, siapa yang menghamili kamu!” pekik Tini.


“Trisno,” ucap Surti singkat.


Tini terduduk lemas mendengar hal tersebut, Tini menangis, ia merasa sangat kasihan dengan Surti. Tini pun bangkit dan langsung menghampiri Trisno.


Terlihat Trisno tengah duduk menikmati gorengan di ruang tamu bersama Lasmi.


“Trisno Ibu mau bicara sebentar,” ucap Tini.


“Kenapa Bu?” tanya Trisno.


“Kita harus bicara berdua saja,” ucap Tini dengan wajah serius.


Trisno mendengus kemudian mengikuti Tini ke bagian dapur.


“Trisno. Surti hamil,” ucap Tini.


Tanpa mereka sadari Lasmi membuntuti mereka dan menguping pembicaraan.


“Ibu tahu kamu kan yang menghamilinya?” tanya Tini.


Dengan santainya Trisno mengakui apa yang ia perbuat.


“Kalau iya memang kenap Bu?” tanya Trisno.


“Trisno. Kamu itu punya istri, untuk apa kamu menggauli Surti?”


“Ini semua karena Lasmi tidak bisa memuaskanku Bu!”


Lasmi yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka pun keluar dan menghampiri Trisno.


“Tega kamu Mas!” pekik Lasmi.


“Kenapa kamu lakukan hal ini Mas, aku ini istrimu!” ucap Lasmi meraung menangis.


“Kamu pikir kamu bisa memuaskanku? Setiap kali di minta selalu ada saja alasan sakit lah ini lah itu lah. Gak ada salahnya aku mencari pelampiasan lain,” sahut Trisno.


“Kalau kamu tidak terima silahkan angkat kaki dari sini!” ucap Trisno.


Lasmi seakan tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Trisno, Lasmi menangis sambil di peluk oleh ibu Trisno.

__ADS_1


Ibu Trisno pun membawanya masuk ke dalam kamarnya.


“Maafkan ibu Nak, Ibu tidak bisa menahan Trisno,” ucap Tini.


“Gak Bu, ini bukan salah Ibu. Mas Trisno memang sudah berubah Bu,” ucap Lasmi.


“Tetap saja ibu minta maaf, karena Trisno adalah anak Ibu.”


Lasmi menagis tersedu hingga matanya sembab.


Malam harinya Trisno tidak masuk ke kamar, Trisno lebih memilih pergi keluar bersama Usup serta Iwan ke warung kopi di depan jalan masuk desa.


Kedatangannya di warung itu disambut dengan ramah oleh Misem sang pemilik warung.


“Wah Pak Trisno tumben sekali datang ke warung saya,” ucap janda bertubuh molek itu.


“Ya saya lagi mau cari angin aja,” ucap Trisno.


“Cari angin apa cari cemceman?” ledek Misem.


“Bos cuma cari angin,” sahut Iwan.


“Kopi item satu Sem,” ucap Trisno.


“Mau di tambah susu?” ucap Misem sambil menggoyangkan tubuhnya hingga gunung kembarnya itu naik turun.


“Gak item aja.” Sahut Trisno singkat.


Misem pun menyeduh kopi untuk Trisno dan juga ajudannya, beberapa kali Misem berusaha menggoda Trisno namun tidak di gubris.


Pikiran Trisno sedang kalut karena ia ketahuan menghamili Surti oleh istrinya, sebenarnya Trisno sangat menyayangi Lasmi dan tidak ingin Lasmi pergi meninggalkannya.


Nantinya ia berencana untuk meminta maaf kepada Lasmi.


Di sisi lain Lasmi menunggu Trisno yang tak kunjung pulang, Lasmi semakin sedih karena ia berpikir Trisno sudah tidak menginginkannya lagi.


Lasmi pun keluar kamar dan melihat keadaan Surti, saat masuk ke ruangan itu Surti terlihat tertidur sambil tersandari di dinding.


Hati Lasmi kembali teriris ketika melihat perut Surti yang membesar itu.


Karena tidak tahan ia berjalan ke luar dan kembali mengunci pintu ruangan itu.


“Harusnya duli Surti tidak aku terima bekerja di rumah ini,” ucap Lasmi penuh sesal.


Hingga larut malam Trisno tidak pulang, Lasmi memilih untuk tidur duluan.


Waktu menunjukkan pukul 03.20, terdengar seseorang membuka pintu kamar. Terlihat Trisno masuk dan langsung membaringkan tubuhnya.


Ia melihat ke arah istrinya yang tertidur lelap itu.


“Lasmi aku minta maaf. Tapi ini juga berguna untuk kita,” ucap Trisno.

__ADS_1


“Lasmi ... Aku tahu kamu tidak tidur.”


“Apapun keputusanmu mau tidak mau aku harus setuju. Aku tidak punya siapa-siapa lagi aku hanya punya Mas Trisno.” Sahut Lasmi singkat sambil memalingkan tubuhnya membelakangi Trisno.


__ADS_2