
Surti yang merasa sakit hebat di bagian perutnya tidak bisa berdiri untuk meminta pertolongan.
Surti pun akhirnya berteriak di dalam kamarnya meminta pertolongan.
“Tolong! Tolong! Tolong!” teriak Surti di dalam kamar.
Lasmi yang mendengar teriak Surti pun segera membangunkan Trisno.
“Mas Surti teriak minta tolong Mas?” ucap Lasmi membangunkan Trisno.
Lasmi yang menggoyang-goyangkan tubuh Trisno pun membuat Trisno akhirnya terbangun.
“Ada apa Lasmi?” tanya Trisno yang masih mengantuk.
“Surti Mas, aku mendengar dia sedang berteriak-teriak di dalam kamarnya,” ucap Lasmi menjelaskan kepada Trisno.
“Kalau begitu ayo kita lihat apa yang terjadi kepadanya?” ucap Trisno.
Mereka berdua bergegas bangun dari tempat tidurnya setelah itu menuju keluar kamar.
Setelah keluar kamar Trisno berserta Lasmi langsung menuju kamar Surti yang berada di belakang tepatnya dekat dapur.
Trisno berserta Lasmi yang ingin menuju kamar Surti pun bertemu dengan Tini.
“Ada apa dengan Surti Trisno, Ibu lihat dia teriak-teriak histeris di kamarnya?” tanya Tini.
“Trisno berserta Lasmi pun tidak tahu Bu,” sahut Trisno.
“Ayo cepat kita lihat Mas apa yang sebenarnya terjadi dengan Surti,” ucap Lasmi dengan panik.
Mereka bertiga pun bergegas pergi ke kamar Surti saat Lasmi membuka pintu kamar Surti mereka di buat sangat kaget Surti yang sedang berada di kasur dengan bayak darah di kasur dan pangkal pahanya.
Tini yang melihat Surti mengalami pendarahan pun menyuruh Trisno segera mencari pertolongan.
“Tolong saya Pak Trisno? Perut saya sakit sekali” ucap Surti merintih kesakitan.
Trisno yang panik, jika bayi ini mati dia tidak dapat menumbalkan kepada jenglot.
“Bu bagaimana ini? Aku harus meminta tolong ke siapa sedangkan jarak ke rumah sakit sendiri itu memakan waktu tiga jam Bu?” ucap Trisno yang sangat panik.
“Coba kamu datangi mbah Minah, dia dukun beranak di desa ini yang paling bagus. Siapa tahu mbah minah bisa menolong Surti berserta anak yang dia kandung,” Tini yang memberikan Trisno solusi.
“Baik Bu, aku akan di menyuruh Usup atau Iwan ke rumah mbah Minah. Di mana rumah mbah Minah itu sendiri Bu?” tanya Trisno.
“Di dekat kebun sakit ada sebuah rumah gubuk, nah di sana mbah Minah hidup sendiri,” Tini yang menjelaskan kepada Trisno.
“Baik Bu,” sahut Trisno meninggalkan Tini.
__ADS_1
Trisno berlari menuju keluar rumah menuju pos jaga untuk memerintahkan Iwan atau Trisno.
Sesampainya di pos jaga Trisno membangunkan Iwan serta Usup yang sedang tertidur.
“Iwan, Usup, bangun kalian berdua tidur saja!” bentak Trisno.
“Eh ya Bos, ada apa?” tanya Iwan.
“Wan kamu ke rumah mbah Minah suruh minta bantuan kepadanya soalnya Surti sedang mengalami pendarahan hebat? Rumah mbah Minah sendiri di dekat kebun sawit dan di sana hanya satu-satu rumah gubuk” perintah Trisno.
“Ba-baik Bos,” ujar Iwan segera menuju motornya.
Iwan pun segera menaiki motornya lalu pergi meninggalkan rumah Trisno menuju rumah mbah Minah.
“Kamu Usup ikut aku mengurus Surti sampai Iwan sudah datang!” Perintah Trisno.
“Baik Bos,” ujar Usup mengikuti Trisno masuk ke dalam rumah.
Trisno berserta Usup hanya menunggu di luar pintu kamar Surti berharap anak yang di kandung Surti tidak kenapa-kenapa.
Di dalam Kamar Surti sendiri Tini memerintahkan Lasmi untuk mengambil air hangat.
“Lasmi ambilkan air hangat di bak kecil berserta kain untuk membersihkan darah Surti?” perintah Tini.
“Baik Bu,” sahut Lasmi yang segera pergi.
“Sakit Bu, sakit sekali,” ucap Surti yang merintih kesakitan.
“Sabar ya Surti, kami lagi mencari bantuan untukmu, kamu yang kuat,” Ujar Tini.
Lasmi yang keluar dari kamar Surti menuju dapur untuk masakkan air hangat.
Trisno pun menghampiri Lasmi.
“Lasmi bagaimana keadaan Surti” tanya Trisno.
“Darahnya masih keluar Mas belum kunjung berhenti,” kata Lasmi memberitahukan Trisno.
“Waduh bahaya ini, jika terjadi apa-apa kepada anak yang di kandung Surti semuanya bisa gagal. Aku harus mencari ke mana sebagai pengantinya,” eluh Trisno yang mulai panik
“Sstttt, jangan ngomong hal seperti ini di depan orang banyak Mas bahaya, apa lagi jika Surti mengetahui rencana kita,” ujar Lasmi yang menegur Trisno.
Seketika Trisno pun terdiam dan mengalihkan pembicaraan ke lain topik.
Sementara disisi lain Iwan sedang mencari rumah mbah Minah dengan mengendarai motornya.
Iwan yang mengendarai motornya dengan kecepatan yang sangat pelan mencari keberadaan mbah Minah.
__ADS_1
‘Mana ini rumah mbah Minah katanya rumah gubuk satu-satunya dari aku belum melihat rumah gubuk. Mana jalannya seram banget ini sudah tengah malam gak ada orang. Bos Trisno selalu kalau memerintahkan orang tidak tahu waktu,' gumam Iwan yang merasa kesal.
Iwan terus mencari keberadaan rumah mbah Minah, sampai akhirnya terlihat dari kejauhan sebuah rumah gubuk yang telah termakan usia.
“Wah itu ada rumah gubuk, apa itu rumah mbah Minah” ucap Trisno sembari mempercepat laju kendaraannya.
Beberapa menit kemudian Iwan telah sampai di depan rumah mbah Minah.
Iwan segera turun dari motornya menuju pintu rumah mbah Minah.
Sesampainya di depan pintu rumah mbah minah yang terbuat dari kayu Iwan pun mengetok serta memanggil-manggil nama mbah Minah.
“Mbah Minah, mbah Minah,” pekik Iwan sembari mengetok pintu rumah gubuk mbah Minah.
“Iya tunggu sebentar,” terdengar suara dari dalam rumah mbah Minah.
Tidak berselang lama mbah Minah pun membukakan pintu rumahnya.
“Ada apa malam-malam membangunkan orang sedang tidur saja,” ucap mbah Minah yang sangat kesal.
“Ini sangat gawat mbah, pak Trisno meminta saya ke rumah mbah karena Surti mengalami pendarahan,” pungkas Iwan kepada mbah Minah.
“Tunggu sebentar,” ucap mbah Minah yang kembali ke dalam rumahnya.
“Iya mbah Jangan lama-lama ya,” Iwan yang memperingati mbah Minah.
Beberapa menit kemudaan, mbah kok lama sekali,” ucap Iwan yang mencoba masuk ke dalam rumah mbah Minah.
Iwan ingin mengetahui apa yang sedang di lakukan mbah Minah di dapur.
“Mbah sedang apa, ayo kita ke rumah pak Trisno, nanti pak Trisno akan marah kalau terlalu lama, dan bagaimana keadaan Surti jika lama mbah,” Iwan yang mulai protes dengan tingkah laku mbah Minah.
“Tunggu sebentar aku sedang membuat ramuan untuk Surti, sebaiknya kamu membantu mbah tolong tumbuk ramu-ramuan itu di dalam lumpang,” sahut mbah Minah memerintahkan Iwan.
Mendengar penjelasan mbah Minah, Iwan akhirnya pun mengerti ia pun segera membantu mbah Minah meracik ramuan obat untuk Surti.
Setelah beberapa menit telah selesai, mbah Minah membawa ramuan yang telah ia racik bersama Iwan ke rumah Trisno.
“Awas hati-hati mbah,” kata Iwan membatu mbah Minah keluar dari rumah.
Karena tidak ada lampu jalan kondisi di sekitar rumah mbah Minah sangat gelap.
Iwan yang sedang membonceng mbah Minah menyalakan mesin motornya lalu menjalankannya menuju rumah Trisno.
__ADS_1