Jenglot

Jenglot
Pengganti bayi Surti


__ADS_3

Pagi menjelang, Lasmi dan Trisno beserta dua ajudannya Usup dan Iwan bersiap untuk menuju rumah mbah Minah.


“Usup Iwan ayo cepetan!” ucap Minah yang sudah terlebih dulu masuk ke dalam mobil.


“Baik Bu Bos,” sahut Iwan.


“Sup ayo! Makan terus kerjaanya,” ucap Iwan sambil menarik tangan Usup.


“Iya ... Iya.”


Usup dan Iwan bergegas masuk ke dalam mobil, Trisno dan Istrinya yang berada di kursi belakang pun mengomeli Iwan dan Usup.


“Lama banget kalian ngapain aja,” ucap Trisno.


“Nanggung Bos belum habis tadi,” sahut Usup.


“Ya udah jalan!” pinta Lasmi kepada Iwan yang tengah di kursi kemudi.


“Siap Bu Bos berangkat.”


Mobil melaju menuju rumah mbah Minah si dukun beranak tersohor di desa tersebut.


Tidak lama mereka pun sampai di halaman rumah mbah Minah, rumahnya sederhana dengan bangunan yang masih terbuat dari kayu namun memiliki halaman yang cukup luas.


Mereka semua keluar mobil dan menuju pintu rumah mbah Minah.


Tok! Tok! 


Terdengar suara ketukan dari Trisno di depan pintu, “mbah ... Mbah Minah,” panggil Trisno.


“Iya sebentar,” terdengar suara mbah Minah dari dalam rumah.


Mbah Minah membuka pintu, “mari masuk,” ucapnya.


Trisno serta Lasmi pun masuk ke dalam rumah mbah Minah, di dalam ruangan itu ternyata terdapat sebuah ranjang kayu dengan kasur kapuk yang usang.


“Gimana mbah kita ke sana sekarang?” tanya Trisno.


“Bisa. Saya siap-siap dulu,” ucap mbah Minah.


Mereka pun menunggu mbah Minah, selagi menunggu Lasmi melihat sekeliling rumah mbah Minah.


“Rumahnya banyak bolongannya Mas, pasti gak enak kalau tidur di sini,” ucap Lasmi.


“Lalu kamu mau apa? Benerin rumahnya?” tanya Trisno.


“Gak Mas, aku cuma kasihan aja,” sahut Lasmi.


Tidak lama mbah Minah kembali dari kamar sambil membalutkan selendang untuk menutupi kepalanya tak lupa ia juga membawa tas jinjing kecil mirip seperti bakul.


Mereka pun keluar lalu memasuki mobil, mbah Minah duduk bersama Lasmi dan juga Trisno di kursi belakang.


“Rumahnya jauh gak mbah?” tanya Lasmi.


“Tidak terlalu jauh, habya perlu melewati satu desa saja,” ucap mbah Minah.


“Sup kamu masih ingatkan jalannya?” tanya Trisno.

__ADS_1


“Masih Bos tenang aja,” sahut Usup.


Mobil pun melaju menuju sebuah desa tempat dimana wanita yang bernama Nilan berada.


Hingga mereka sampai di sebuah rumah sederhana semi permanen dengan cat berwarna kuning yang mulai pudar itu.


“Assalamualaikum,” ucap mbah Minah.


“Walaikumsalam, masuk mbah,” ucap seorang wanita paruh baya yang membuka pintu.


Trisno, Lasmi dan juga mbah Minah masuk ke dalam rumah tersebut, di dalam rumah tersebut rerlihat ada seorang wanita tua serta wanita muda dengan perut agak membuncit.


Mereka semua duduk di lantai, mbah Minah pun mulai membuka percakapan.


“Begini Bu, ini Trisno dan istrinya Lasmi yang ingin meminta bayi yang Nilam kandung,” ucap mbah Minah.


“Kami akan biayai semuanya, termasuk biaya persalinan serta kami juga akan memberikan uang sebagai ganti bayi itu,” ucap Trisno.


“Benar Bu, kami akan memberikan uang 50 serlah bayi itu kami terima, lalu biaya persalinan serta biaya untuk keseharian Nilam sebelum persalinan bagaimana?” ucap Lasmi.


“50 juta?” wanita paruh baya itu terperangah.


“Benar, apa itu kurang?” tanya Trisno.


“Ti-tidak Pak, saya setuju,” sahut Nilam.


“Baik kalau begitu, beberapa hari lagi saya akan kembali lagi ke sini untuk memberikan surat perjanjiannya, sebagai jaminan saya berikan ini dulu,” ucap Trisno sambil memberikan amplop berisi uang.


Melihat amplop coklat yang tebal itu Nilam beserta ibunya berebut untuk mengambil amplop itu, sedangkan wanita tua yang sedari tadi duduk mendengarkan hanya bisa mengelus dada atas kelakuan cucu dan anaknya itu.


Mereka semua pun masuk ke dalam mobil dan kembali mengantar mbah Minah ke rumahnya. Di dalam perjalanan Trisno mengeluarkan amplop untuk mbah Minah.


“Ini untuk mbah,” ucap Trisno.


“Terima kasih Trisno,” ucap mbah Minah.


Mbah Minah turun dari mobil, Trisno dan Lasmi pun berpamitan dengan mbah Minah.


Mereka semua kembali pulang menuju rumah. Di dalam perjalanan Lasmi terlihat sangat senang karena mendapat pengganti bayi Surti.


“Nah kamu senang kan sekarang,” ucap Trisno.


“Iya Mas,” sahut Lasmi.


“Mas aku mau jalan-jalan,” sambungnya.


“Mau jalan kemana?” 


“Aku mau ke kota beli perlengkapan bayi,” ucap Lasmi.


“Tapi kita kan belum tahu itu anak Surti laki-laki apa perempuan,” ucap Trisno.


“Ya gak apa-apa, aku belinya warna-warna yang netral aja,” sahutnya.


“Ya sudah besok kita ke kota beli perlengkapan bayi.”


Sesampainya di rumah Trisno langsung memberi tahukan masalah itu kepada Tini ibunya.

__ADS_1


“Bu aku sudah mendapatkan pengganti bayi Surti,” ucap Trisno.


“Maksudnya bagaimana ibu gak ngerti,” ucap Tini.


“Aku dan Lasmi sepakat akan merawat bayi Surti,” ucap Trisno.


“Lalu  bayi siapa yang akan kamu jadiakan tumbal?” tanya Tini.


“Aku membelinya dari orang desa sebelah, dia mau menggugurkan kandungannya lalu aku membelinya Bu,” sahut Trisno.


“Baguslah kalau begitu, aku kasihan dengan Surti kalau anaknya harus kita persembahkan karena anak itu juga anak kamu Trisno,” ucap Tini.


“Iya aku tahu Bu,” sahut Trisno.


Trisno pun masuk ke dalam kamar, terlihat Lasmi tengah meminum obat yang di berikan oleh dokter.


“Apa kamu masih merasakan sakit?” tanya Trisno.


“Tidak terlalu Mas,” sahut Lasmi.


Trisno pun membaringkan tubuhnya di atas kasur untuk tidur siang.


Sedangkan Lasmi beranjak dari kamar dan pergi ke dapur untuk membantu ibu Trisno memasak.


“Bu besok saya sama Mas Trisno akan ke kota, apa ibu mau ikut?” tanya Lasmi.


“Kalau ibu ikut yang ngurus Surti siapa,” ucap Tini.


“Kita gak lama kok Bu,” ucap Lasmi.


“Ya sudah Ibu akan ikut,” sahutnya.


Keesokan paginya Lasmi, Tini beserta Trisno bersiap untuk pergi ke kota.


“Usup, Iwan jaga rumah baik-baik sampai aku pulang,” ucap Trisno.


“Baik Bos,” sahut Iwan.


Trisno masuk ke dalam mobil dan melaju menuju kota, di dalam perjalanan Tini terus melihat ke arah jalan karena ia tidak pernah pergi ke kota sebelumnya.


“Ini pertama kalinya ibu pergi ke kota kan,” ucap Trisno.


“Iya biasanya Ibu cuma di rumah saja,” sahutnya.


“Makanya kemarin Lasmi ajak Ibu biar gak bosan di rumah,” sahut Lasmi.


Mobil terus melaju menyusuri jalan desa yang sempit hingga mereka keluar dari desa dan masuk ke jalan besar.


Sepanjang jalan Lasmi terus melihat ke arah jalan, “ Wah ini jalannya luas sekali,” ucap Tini.


“Ini jalan tol Bu, kalau mau ke kota kita harus lewat jalan ini dulu,” sahut Trisno.


“Bu nanti Trisno belikan emas, karena Ibu belum punya emas kan,” sambungnya.


“Tidak perlu. Di ajak jalan saja Ibu sudah senang,” sahut Tini.


“Gak apa-apa Bu, sekalian sama Lasmi katanya mau lihat-lihat kalung,” sahut Trisno.

__ADS_1


__ADS_2