
Sementara di sisi lain Bayu telah menemukan alamat ustad Amir yang di beri kan oleh Tini.
Terlihat rumah sederhana dengan cat berwarna putih, Bayu segera turun dari motor besarnya berjalan menuju rumah tersebut.
“Assalamualaikum,” ucap Bayu sembari mengetuk pintu rumah ustad Amir
Tidak lama seorang wanita paruh baya dengan menggunakan hijabnya membukakan pintu Bayu.
“Permisi Bu, apa ini benar rumahnya ustad Amir?” tanya Bayu untuk memastikan alamat yang ia tuju benar.
“Iya dik benar, adik siapa ya dan dari mana?” tanya wanita paruh baya tersebut.
“Saya Bayu Nek, dari desa seberang ingin bertemu ustad Amir ada yang mau saya sampaikan,” Bayu yang menjelaskan kepada wanita itu.
Tiba-tiba terdengar suara laki-laki paruh baya yang memanggil wanita tersebut.
“Bu! Siapa tamunya?” tanya ustad Amir dari dalam rumah.
“Ini pak Bayu dari desa seberang ingin bertemu dengan bapak,” sahut Wanita tersebut.
“Suruh masuk Bu,” pekik ustad Amir.
Wanita paruh baya itu pun mempersilahkan Bayu untuk masuk.
Bayu berjalan masuk dan duduk di ruang tamu di temani oleh wanita paru baya tersebut yang bernama Nurul istri dari ustad Amir.
Tidak berselang lama ustad Amir menghampiri Bayu lalu menanyakan maksud serta tujuannya menemui dirinya.
“Kedatangan Bayu kemari untuk meminta bantuan dari kakek Amir, Nenek Tini yang menyuruh Bayu ke tempat kakek dan ini ada yang mau Bayu berikan kepada kakek dari nenek Tini,” ujar Bayu yang memberikan surat dari Tini.
Amir pun menerima surat tersebut dan membacanya. Di isi surat tersebut Tini menceritakan semuanya kepada Amir dan siapa Bayu sebenarnya.
“Surti nama ini mengingatkanku dengan anak perempuanku yang aku usir dari rumah” ujar Amir.
“Jika Bayu boleh tahu, salah apa Kek sampai Kakek mengusirnya?” tanya Bayu.
“Karena kau cucu dari Tini sahabat baikku aku akan menceritakannya, anakku yang bernama Surti hamil dengan pria yang sudah beristri namun Surti tidak mau memberitahukan siapa pria tersebut karena Kakek malu mempunyai anak yang hamil di luar nikah serta di desa ini nama Kakek cukup terpandang jadi Kakek mengusirnya, dan sampai sekarang entah di mana keberadaan Surti anakku tersebut,” ujar Amir dengan mata yang berkaca-kaca mengingat kesalahannya di waktu dulu.
“Jika suatu saat kakek bertemu dengan anak Kakek apakah Kakek mau memaafkannya?” tanya Bayu.
“Iya Kakek akan memaafkannya bagaimana pun di adalah darah daging kakek, Allah saja maha pemaaf bagi hambanya yang benar-benar bertobat ke jalannya.”
Bayu tersenyum dengan ucapan Amir.
“Lalu Bagaimana dengan Gendis?” tanya Bayu.
“Apa kamu mempunyai foto Gendis?” tanya ustad Amir.
“Ada Kek?” sahut Bayu mengambil ponselnya yang berada di saku celananya.
Setelah mendapatkan ponselnya Bayu memberitahukan Foto Gendis kepada Ustad Amir.
Ustad Amir yang melihat pun memejamkan matanya, ia mencoba melihat melalu mata batinnya.
__ADS_1
Terlihat sukma Gendis yang di kurung di rumah gubuk di jaga oleh makhluk jenglot serta wanita yang menggunakan kebaya hijau.
Amir pun membuka matanya dan memberitahukan kepada Bayu apa yang ia lihat dengan mata batinnya.
“Sukma Gendis di bawa olah nyai Asih dan di kurung olehnya di gubuk tua di jaga makhluk yang bernama Jenglot,” Amir yang menjelaskan kepada Bayu.
“Kenapa bisa seperti itu Kek apa salah Gendis, dia anak yang baik,” tanya Bayu yang tidak terima Gendis di perlakukan seperti itu.
“Persekutuan dengan Jin. Memang mereka yang bersekutu dengan Jin akan mendapatkan apa yang mereka inginkan tapi orang tersebut tidak akan merasa bahagia hidupnya akan selalu merasa tidak puas dan terkadang sebagai pengantinya anak berserta istrinya bahkan keluarganya yang akan menjadi tumbal mereka,” Amir yang menjelaskan kepada Bayu.
“Astagfirullah lalu bagaimana dengan Gendis Kek, Kakek harus membantu Gendis.
“Kamu yang bisa menjemputnya Bayu, kakek akan membantumu membukakan pintu gaib menuju rumah nyai Asih jemputlah Gendis dengan ijin Allah,” sahut Amir.
“Kapan kita akan menjemput Gendis Kek?”
“Kita harus ke tempat Gendis, setelah selesai kita harus memusnahkan Jenglot itu yang berada di rumah Tini dengan ijin Allah dan memutuskan benang merah di antara mereka barulah Gendis akan selamat,” Amir kembali menjelaskan kepada Bayu.
“Baiklah jika begitu Kek, besok kita pergi ke rumah sakit,” ujar Bayu.
“Malam ini kamu beristirahat di rumah kakek saja Bayu,”
“Iya Kek.”
Malam mulai semakin larut mereka semua pun mulai tertidur dengan nyenyak.
Di malam itu Amir bermimpi seorang kakek bersoban yang menghampirinya dan memberitahukan kepadanya.
Di dalam mimpinya Amir mulai bertemu dengan seorang kakek berbaju putih memakai sorban serta membawa tongkat.
“Bapak?”
“Putrimu Surti serta cucumu dalam masalah besar kau harus cepat menyelamatkannya?” ujar Kakek Sukma adalah ayah dari Amir.
“Di mana putriku Pak, aku sangat merindukannya?”
“Datangilah Tini temanmu maka kamu akan mendapat jawaban dari semua ini,” ucap kakek itu lalu mengilang.
“Pak! Pak tunggu Amir!” ucap Amir lalu terbangun dari tidurnya.
Nurul yang mendengar teriakan Amir pun ikut terbangun dan menanyakan kepada sang suami.
“Ada apa Pak?”
“Aku bermimpi bertemu almarhum Bapakku, beliau memberitahukan aku untuk menemui Tini sahabatku agar aku dapat mengetahui kebenarannya, dan beliau juga berkata putri kita Surti serta anaknya dalam masalah besar aku harus menolongnya,” ujar Amir.
“Kalau begitu besok kita aku ikut pak?” sahut Nurul.
“Iya Bu, semoga semua ini bertemu titik terangnya,” sahut Amir.
Keesokan paginya Amir, Nurul serta Bayu pergi ke tempat Gendis dengan menaiki mobil Amir dan Bayu yang mengemudikannya.
Sebelum Bayu ke tempat Gendis ia menelepon Tini, dan Tini sedang berada di rumah untuk merawat Surti.
__ADS_1
Tini mendapat telepon dari Trisno untuk pulang karena Iwan serta Usup tidak ada di rumah mereka sedang melaksanakan misi yang di berikan oleh Trisno untuk mencari keberadaan Ningsih serta Sari.
Sementara di sisi lain Anwar berserta sang istri telah sampai di sekolah Bayu dan berada di kantor guru.
Anwar menanyakan rumah Gendis kepada guru di sana setelah berbincang-bincang cukup lama mereka berdua mendapat informasi tentang Gendis.
Anwar sangat terkejut mengetahui bahwa Gendis adalah anak dari Trisno saingannya.
Anwar yang sangat tahu sekali sikap Trisno mencoba mendatangi rumahnya mencari keberadaan Bayu anaknya.
Anwar takut jika Trisno mengetahui Bayu adalah anaknya dan mencelakakannya.
“Kita harus secepatnya ke rumah Gendis?”
“Ada apa Mas?”
“Bayu dalam bahaya, Gendis adalah anak dari Trisno sainganku. Aku sangat kenal sekali siapa Trisno,” Anwar menjelaskan kepada sang Istri.
Mereka berdua pun memasuki mobil dan menuju rumah Gendis.
Sesampainya di sana, mereka berdua di sambut baik oleh Tini.
Anwar berserta Rini menanyakan keberadaan Bayu.
Rini pun akhirnya menceritakan semua kebenarannya kepada Anwar.
Anwar yang mendengar kebenaran itu sangat terkejut dan ingin melihat Surti orang tua Bayu.
Mereka berdua mengikuti Tini menuju dapur di sana ada sebuah kamar yang di tempati oleh Surti.
Tini membuka kunci gembok di pintu kamar Surti setelah pintu kamar itu terbuka.
Anwar melihat seorang wanita dengan pakaian yang lusuh serta rambut acak-acakan duduk di kasur dengan melamun.
“Surti!” ucap Anwar yang kaget.
“Kamu mengenalnya?” tanya Tini.
Anwar tidak kuasa menahan tangisnya saat melihat keadaan Surti seperti ini.
“Surti ini aku Anwar kamu masih mengenalku?” ucap Anwar mendekati Surti.
Surti menoleh ke arah Anwar lalu menangis Anwar pun memeluk Surti.
Melihat kedekatan mereka Rini istri Anwar merasa curiga dan menanyakan siapa Surti sebenarnya.
“Siapa dia Mas?” tanya Rini.
Anwar belum sanggup menjelaskan yang sebenarnya ia hanya terdiam di saat sang istri bertanya.
“Mas jawab siapa wanita ini!” ucap Rini dengan nada tinggi.
__ADS_1