Jenglot

Jenglot
Teror sang Jenglot


__ADS_3

Trisno pun mulai di teror oleh sang jenglot peliharaannya sendiri.


Setiap malam di kala Trisno tidur ia selalu bermimpi sang jenglot meminta tumbal kepada hingga di saat Trisno ingin melakukan ritual memberi makan sang jenglot di setiap malam Jumat.


Jenglot Itu menampakkan wujudnya.


Kala itu Trisno sedang menyembelih ayam cemani atau ayam hitam, yang darahnya akan di teteskan di mulut sang Jenglot.


Saat darah ayam cemani sudah di teteskan ke mulut sang Jenglot dan di hisap habis.


Kotak kayu tempat Jenglot itu berada bergetar. Lalu jenglot yang berada di kotak kayu itu berubah menjadi sosok makhluk yang besar.


Dengan tubuh hitam, gigi panjang, kuku tangan yang panjang, serta rambut yang panjang.


Sang jenglot pun berbicara kepada Trisno.


“Trisno mana tumbal yang kau janjikan!” ucap sang Jenglot dengan nada berat serta bergema.


“I-iya Jenglot, aku akan memberikanmu tumbal seorang bayi. Tapi tunggu bayi itu masih belum lahir, dan ini pun belum sampai tiga tahun pemberian tumbal,” ujar Trisno menjelaskan kepada sang Jenglot.


“Aku sudah tidak sabar lagi Trisno, aku sangat menginginkan seorang bayi.”


“Tunggulah sang jenglot, aku berjanji akan memberikan mu tumbal yang kau inginkan berikan aku waktu wahai jenglot.”


“Baiklah, jika dalam waktu 3 bulan ini kau tidak memberikan aku tumbal, maka anakmu, istrimu, dan juga kau akan aku jadikan tumbal. Aku sudah sangat lapar Trisno,” ancam sang jenglot.


“Ba-baik, jenglot aku akan berusaha untuk mendapatkan tumbal untukmu tapi jangan ganggu keluargaku,” Trisno memohon kepada sang jenglot.


“Baiklah kalu begitu, ini sudah menjadi kesepakatan kita berdua jika dalam jangka waktu tiga bulan kau tidak memberikanku tumbal maka jangan salahkan aku Trisni,” ancam kembali sang jenglot lalu menghilang berubah menjadi jenglot kecil yang berdiam di kotak kayu.


Setelah selesai ritual Trisno pun masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.


Trisno yang sudah berada di dalam kamar berjalan menuju box bayi tempat Gendis tidur


Saat itu Trisno sedang memandang wajah Gendis anaknya yang sedang tertidur dengan terlihat wajah Gendis yang begitu sangat lucu.


‘Bapak akan berusaha untuk menyelamatkanmu Gendis,' gumam Trisno dengan sedih.


Pikiran Trisno sedang kalut dan bersedih baru saja ia memiliki keluarga kecil namun haruskah berakhir.


Trisno yang hanya terdiam, berjalan meninggalkan Gendis menuju tempat tidurnya.


Trisno pun mulai merebahkan tubuhnya di samping Lasmi.


Malam ini ia tidak dapat tidur di hati kecilnya ada kegelisahan mana kala dirinya tidak berhasil menepati waktu untuk memberikan sang Jenglot itu tumbal.


“Mas, belum tidur?” tegur Lasmi yang melihat Trisno belum tertidur.


“Belum Lasmi,” sahut Trisno dengan singkat.

__ADS_1


“Ada apa Mas, sepertinya ada yang sedang kau pikirkan?” tanya Lasmi.


Trisno pun mulai bercerita kepada Lasmi.


“Iya Lasmi, aku sangat khawatir kepada Gendis dan juga dirimu.”


“Ada apa sebenarnya Mas?” tanya Lasmi kembali.


“Jemglot itu Lasmi.”


“Ada apa dengan Jenglot itu Mas?” 


“Beberapa hari ini aku selalu bermimpi tentang jenglot itu dia menagih-nagih akan tumbal seorang bayi, dan di saat aku ritul jenglot itu menampakkan wujudnya dan menagih kembali tumbal untuk dirinya,” ucap Trisno menjelaskan kepada Lasmi.


“Lalu Mas? Tapi ini kan belum tiga tahun Mas?” kata Lasmi.


“Iya aku tahu, dan aku sudah bicara kepadanya tapi jenglot itu sangat menginginkan tumbal, dia memberikan ku waktu selama tiga bulan. Dan selama tiga bulan aku tidak memberikan tumbal untuknya maka sebagai gantinya Gendis akan dia ambil olehnya dan kita juga Lasmi,” Trisno menjelaskan apa yang terjadi kepadanya saat ini.


“Apa Mas, aku tidak mau jika Gendis di ambil oleh jenglot itu biarkan aku yang mengantikkannya asal jangan Gendis Mas,” Lasmu yang mulai meneteskan air matanya.


“Aku akan berusaha Lasmi melindungi keluarga kita,” sahut Trisno.


“Bagaimana caranya Mas?” 


“Besok aku akan ke rumah mbah Minah menanyakan kapan kiranya Nilam akan melahirkan.” 


“Iya Lasmi.”


Malam semakin larut, Trisno berserta Lasmi pun mulai mengantuk sampai akhirnya mereka berdua tertidur.


Rumah Trisno sangat sepi tidak ada suara dan aktivitas sama sekali.


Namun tidak dengan kamar ritual Trisno.


Di dalam kamar itu terdengar bunyi-bunyi suara seperti binatang buas yang sedang menikmati mangsanya.


Kala itu Tini yang ingin buang air kecil keluar dari kamarnya saat Tini sudah keluar dari kamarnya.


Ia mendengar suara seperti binatang buas sedang menikmati mangsanya.


Tini yang mendengar suara itu pun mencari keberadaannya dan ternyata di kamar ritual Trisno.


Dengan sangat penasaran Tini mencoba mengintip ada apa di dalam kamar itu.


Tini mulai mengintip melalu celah pintu dan saat Tini melihatnya begitu sangat terkejutnya dirinya.


Terlihat makhluk yang sangat menyeramkan sedang memakan ayam cemani yang baru saja di sembelih oleh Trisno.


Mahluk itu mengunyah-nguyah  ayam cemani yang masih mentah itu.

__ADS_1


Mengambil isi dalam perut ayam cemani itu seperti hatinya setelah itu memakannya dengan mentah.


Hingga habis, Tini yang melihat fenomena itu merasakan sangat mual dan takut.


Akhirnya Tini memutuskan untuk meninggalkan kamar itu dan kembali ke kamarnya.


Saat Tini berbalik ternyata sang jenglot berada tepat di belakang dirinya.


Tini yang tidak dapat berteriak seperti semua tubuhnya terasa kaku.


Dengan jelas Tini melihat makhluk itu dengan mulut berlumuran darah memandang tajam ke arah Tini.


Tini yang sangat merasakan takut pun akhirnya pingsan tidak sadarkan diri.


  Di pagi harinya Lasmi yang bangun lebih awal sangat terkejut saat dirinya keluar dari kamarnya ia melihat Tini tergeletak di lantai di depan pintu kamar ritual dengan tidak sadarkan diri.


Sontak saja Lasmi berteriak memanggil Trisno.


“Mas ibu! Mas!” Teriak Lasmi menghampiri Tini.


Sementara Trisno yang terkejut dengan teriakan Lasmi pun akhirnya terbangun dan bergegas menghampiri Lasmi.


“Ada apa dengan ibu?” tanya Trisno yang panik.


“Aku tidak tahu Mas, waktu aku keluar dari kamar ini ibu tiba-tiba sudah tergelatak tidak sadarkan diri,” Lasmi menjelaskan apa yang terjadi kepada Trisno.


 “Ayo kita bawa ibu ke kamarnya,” ucap Trisno.


Tini pun di angkat oleh Trisno ke kamarnya lalu di letakan di tempat tidurnya.


Saat Tini sudah berada di dalam kamar, Lasmi serta Trisno pun mulai menyadarkan Tini.


“Bu, Bangun Bu, bangun,” ucap Trisno menepuk-nepuk pipi ibunya.


 Tidak berselang lama Tini pun terbangun.


“Ibu kenapa ada di depan kamar itu tergelatak tidak sadarkan diri,” tanya Lasmi.


Tini pun mulai mengingat apa yang terjadi malam itu dan mulai menceritakan kepada Trisno berserta Lasmi.


“Sudah berulang kali Trisno beritahu ibu jauhi kamar itu,” ucap Trisno dengan kesal.


“Tapi ibu tidak pernah mendengarkan ucapan Trisno, jika terjadi apa-apa dengan ibu bagaimana!” ucap kembali Trisno dengan kesal.


 “Iya Trisno, maafkan ibu. Ibu tidak akan mengulanginya lagi,” Tini yang merasa bersalah.


 


  

__ADS_1


__ADS_2