
Sebulan telah berlalu namun Trisno belum bisa melupakan kejadian kiriman santet banas pati yang menghantam jendela kamarnya.
Di tambah lagi rasa penasaran dirinya di beritahukan oleh sang jenglot bahwa ada pesaing bisnisnya yang mengirim santet itu.
Trisno mulai sangat penasaran dan mulai menyelidiki siapakah dalang dari semua itu.
Di sore itu Trisno berserta Arifin pergi ke pertambangan batu bara hendaknya mengontrol para pekerjanya di sana.
Di saat di dalam mobil bersama Arifin yang sedang menyetir Trisno menceritakan pengalaman mistiknya kepada Arifin di saat dirinya di kirimi santet.
“Pak Arifin aki ingin tahu, menurut Bapak sendiri yang sudah terjun sangat lama di bidang batu bara ini, Bapak pasti tahu akan pesaing-pesaing bisnis Bapak sendiri bukan.
“Iya Pak Trisno saya sangat tahu sekali, kira-kira ada apa ya?” tidak biasanya Bapak Trisno menanyakan hal semacam ini?” tanya Arifin yang sangat heran.
“Begini, bulan lalu di saat aku sedang tidur di kamar tiba-tiba aku mendengar suara benda jatuh yang menghantam kaca jendelaku, tapi di saat aku keluar bersama dua anak buahku Iwan serta Usup. Mereka berdua aku perintahkan mencari benda yang menghantam kaca jendela kamarku Pak, setelah di cara tidak ada satu pun benda seperti batu atau semacamnya sama sekali tidak ada sampai kaca jendela saya retak,” Trisno yang mulai bercerita kepada Arifin.
“Pak Trisno apakah itu semacam santet?”
“Aku kira pun seperti itu soalnya aneh sekali, ada menghantam jendela kamar tap setalah di cari tidak ada apa-apa, coba pak Arifin pikir?”
“Iya benar pak Trisno, itu santet ada yang mengirim santet ke rumah Bapak, lalu bagaimana kelanjutannya pak Trisno?” tanya Arifin kembali.
“Ya, aku hanya mengira mungkin itu saingan bisnis kita, soalnya aku sendiri tidak punya masalah apa lagi musuh,” kata Trisno kepada pak Arifin.
Seketika Arifin terdiam mengingat siapa saja orang yang merasa iri dengan usahanya.
“Oh saya tahu pak, tapi ini baru firasat saya ya pak belum pasti kebenarannya. Kapan lalu, pak Anwar.”
“Bagaimana pak coba ceritakan?”
“Begini waktu kapan lalu kalau tidak salah sudah dua bulan yang lalu, pak Anwar menanyakan kepada saya mengenai perihal batu bara kita, awalnya saya berpikir biasa saja dan kebetulan pak Trisno sendiri bercerita saya baru ingat jika batu bara kita sedang mengalami peningkatan dan juga hampir semua langgan dari pak Anwar sekarang pesan ke kita, nah mungkin saja dari itu pak Anwar merasa iri dengan pak Trisno,” ujar Arifin yang mulai bercerita dengan Trisno.
Trisno terdiam menyimak setiap ucapan pak Arifin sampai ia juga menyimpulkan.
“Ya, aku tahu sekarang siapa yang bermain-main di belakangku,” ujar Trisno.
Tidak berselang lama Trisno berserta Arifin sampai di tambang, mereka turun dari mobil mereka dan mengecek pekerjaan para karyawan tambang.
Setelah beberapa jam di sana Trisno pun kembali pulang ke rumahnya dengan di antar oleh Arifin.
Setelah memakan 3 jam perjalanan menuju rumah akhirnya Trisno pun telah sampai di rumahnya.
“Terima kasih ya pak Arifin atas tumpangannya,” ujar Trisno yang turun dari mobil Arifin.
“Iya Pak Trisno, sama-sama nanti kabari saya jika pak Trisno perlu apa-apa,” ujar Arifin.
Arifin pun menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Trisno.
Sementara Trisno mulai masuk ke rumahnya.
Iwan yang mengetahui Trisno telah pulang pun membukakan pintu pagar.
“Iwan kamu sudah membeli ayam hitam pesananku tadi pagi?” tanya Trisno.
“Sudah Bos, ayamnya ada di kandang,” ujar Iwan.
“Baguslah jika begitu.”
__ADS_1
Trisno pun berjalan menuju rumahnya, saat Trisno mulai masuk ke dalam rumah gadis kecilnya Gendis menghampirinya dan menyambut kepulangannya.
“Bapak sudah pulang, pak lihat Gendis menggambar bagus tidak Pak?” ucap Gendis sembari memperlihatkan hasil gambarnya kepada Trisno.
“Nanti saja Gendis, Bapak capek,” sahut Trisno tidak memperdulikan Gendis.
Trisno pun masuk ke kamarnya dan menutup pintu kamarnya.
Gendis yang melihat ayahnya tidak terlalu memedulikannya pun duduk di depan pintu kamar Trisno sembari bersedih.
Sementara Tini ibu Trisno sangat sayang sekali kepada Gendis, semenjak kepergian Lasmi Gendis di urus oleh Tini dan tidur bersama Tini.
Tini pun menghampiri Gendis yang sedang duduk di depan kamar Trisno.
“Gendis sedang apa Nak? Kok duduk di sini?” tanya Tini.
“Gendis mau ngasih tahu bapak gambar ini Nek, dan mau main sama bapak. Tapi bapak cape ya sudah Gendis duduk di sini saja sampai bapak bangun,” ujar Gendis yang sangat polos.
“Yuk main sama Nenek saja, bapak sedang capek. Nanti kalau bapak sudah tidak cape lagi pasti dia akan main dengan Gendis,” ucap Tini.
“Iya Nek,” sahut Gendis
Tini membawa Gendis ke kamarnya dan menemani Gendis bermain.
“Nek, itu siapa yang di kamar dekat dapur? Gendis takut, waktu lalu Gendis masuk ke kamarnya Eh wanita itu berteriak-terik lalu menarik tangan Gendis nih tangan Gendis luka kena kukunya Nek,” ucap Gendis yang sangat polos.
“Oh itu panggil saja bibi Surti, dia anak Nenek. Bibi Surti lagi sakit Gendis jadi tidak bisa di ajak bicara atau di dekati. Gendis jangan main ke kamar itu lagi ya,” ucap Tini yang tidak mau Gendis tahu siapa Surti sebenarnya.
“Iya Nek, pokoknya Gendis tidak mau ke kamar bibi Surti lagi, bibi Surti jahat dengan Gendis.”
“Bibi Surti tidak jahat dia baik kok, hanya saja bibi sedang sakit.”
“Iya, iya sayang.”
“Ayo Gendis tidur, Gendis belum tidur seharian sini tidur sama Nenek.”
Gendis kecil pun tidur bersama Neneknya.
Rasa sedih terlihat di raut wajah Tini saat dirinya sedang melihat Gendis yang tertidur nyenyak.
‘Kasihan kamu Gendis, harus menerima kenyataan pahit ini, maafkan Nenek. Nenek sayang kepadamu,' Batin Tini.
Dimalam harinya tepatnya tengah malam Trisno mulai melakukan ritual pemberi makan sang jenglot.
Tidak hanya ritual pemberian makan, Trisno juga ingin membalaskan dendamnya kepada Anwar yang telah mengirimkan santet untuknya.
Kali ini Trisno yang akan mengirimkan santet kepada Anwar melalui media jenglot.
Trisno yang telah memberikan darah ayam cemani kepada sang jenglot lalu membacakan mantara untuk memanggilnya.
Seperti biasa saat Trisno telah selesai membacakan mantra kotak kayu berisi jenglot itu bergetar dan jenglot itu berubah besar seperti makhluk yang menyeramkan.
“Ada apa Trisno kau memanggilku?” tanya Jenglot.
“Aku sudah mengetahui siapa orang yang pernah mengirimkan aku santet, aku ingin kau bunuh dia, orang itu bernama Anwar pesaing bisnis batu baraku,” ujar Trisno.
“Aku akan menjalankan perintahmu Trisno.”
__ADS_1
“Baguslah jika begitu pergilah ke rumahnya dan bunuhlah dia, hahahah kau Anwar beraninya bermain di belakangku,” sahut Trisno.
Sang jenglot pun pergi ke rumah Anwar.
Saat sang jenglot telah sampai di rumah Anwar dan ingin masuk ke kamarnya.
Sang Jenglot berteriak kepanasan, karena jenglot melihat Anwar sedang melaksanakan sholat tengah malam atau sholat tahajud.
Namun bukannya pergi sang jenglot malah mencoba mendekati Anwar. Anwar yang telah selesai melaksanakan sholat tahajudnya kembali membacakan lantunan ayat suci Al-Quran.
Mendengar hal tersebut membuat tubuh sang jenglot menjadi seperti terbakar dan karena sang Jenglot tidak sanggup menahan rasa panas dari lantunan ayat suci yang di bacakan Anwar.
Akhirnya sang jenglot itu pergi tanpa melukai Anwar sedikit pun.
Pembalasan Trisno terhadap Anwar pun gagal.
Semenjak kejadian Anwar di tolong oleh seorang kakek berjubah putih dan mengenakan sorban.
Anwar benar-benar seperti mendapatkan hidayah ia bertobat tidak lagi melakukan hal bersekutu dengan jin atau sebangsanya.
Di tambah lagi kini Anwar lebih fokus menjalankan ibadahnya dan juga kepada keluarganya.
Karena setelah Anwar sadar, harta yang dia miliki itu hannyalah sementara.
Sementara sang jenglot yang tadi berubah menjadi makhluk besar kini berubah kembali menjadi jenglot kecil dan kembali ke kotak kayu.
Keesokan paginya sebelum Trisno pergi bekerja.
Ia menyempatkan diri ke kamar ritualnya hendak mengetahui apakah tugas sang jenglot berhasil atau tidak.
Saat Trisno ingin memanggil sang jenglot dengan darahnya dan juga mantra.
Begitu sangat terkejutnya Trisno melihat tubuh jenglot yang berada di dalam kotak kayu itu luka-luka.
Dengan sangat penasaran Trisno pun tetap memanggil sang jenglot.
Sontak saja Jenglot itu berubah menjadi sosok makhluk yang besar kembali di sertai luka-luka goresan yang mengaga di tubuh sang jenglot.
“Ada apa denganmu Jenglot,” ucap Trisno yang sangat keheranan.
“Aku tidak bisa mengabulkan apa yang kau mau Trisno. Anwar orang sangat taat dengan ibadahnya aku tidak bisa untuk mencelakkannya, ini lah hasilnya, di saat aku ingin membunuhnya dia tidak tidur dan sedang melakukan ibadah, aku tidak bisa mendekatinya tubuhku seperti terbakar dan tenagaku melemah Trisno,” sang jenglot menjelaskan apa yang terjadi sebenar dengan dirinya.
Setelah menjelaskan itu sang jenglot pun berubah menjadi kecil dan berada kembali di dalam kotak kayu.
“Kurang ajar kau Anwar, kau sampai membuat jenglot peliharaanku terluka-luka seperti ini, tunggu saja nanti Anwar. Aku akan mencari cara untuk menjatuhkanmu bahkan membunuhmu,” ucap Trisno dengan sangat kesalnya kepada Anwar.
Hal ini membuat Trisno menjadi sangat kesal kepada Anwar namun ia tidak bisa membalaskan kepada Anwar dan baru kali ini misinya gagal.
__ADS_1