Jenglot

Jenglot
Hilangnya kandungan Ningsih.


__ADS_3

Berbulan-bulan telah berlalu Ningsih masih sering bermimpi hal yang sama.


Ningsih pun sering bercerita kepada Trisno perihal mimpi buruknya itu sesosok makhluk menyeramkan menginginkan anaknya yang ia kandung.


Namun Trisno yang memang telah mengetahui calon anaknya akan di ambil oleh jenglot tidak bisa berbuat apa-apa, Trisno hanya bisa mencoba menenangkan Ningsih.


Hingga kandungan Ningsih memasuki usia tujuh bulan, di mana saat itu Ningsih dan Trisno sedang tidur bersama di kamarnya.


Ningsih mengalami mimpi buruk kembali.


Di dalam mimpinya Ningsih yang merasa dirinya telah melahirnya dan sedang memberi ASI kepada anaknya di kamar di datangi kembali oleh sosok menyeramkan.


Awalnya Ningsih yang sedang sangat bahagia karena telah melahirkan anak pertamanya, Ningsih pun memberikan ASI kepada anaknya yang sangat kehausan.


Saat Ningsih tengah asyik memberikan ASI sembari menyanyikan lagu untuk buah hatinya.


Sosok bayangan hitam muncul di pojok kamar Ningsih.


Ningsih yang melihat sesosok bayangan hitam itu pun memeluk erat sang buah hati.


“Siapa kamu!” tanya Ningsih sembari memeluk buah hatinya.


Sosok bayangan hitam pun menampilkan wujud aslinya menjadi sosok jenglot.


“Berikan bayi itu!” kata sang jenglot dengan suara yang berat.


“Tidak! Aku tidak akan memerikan anak ini kepadamu!” Bentak Ningsih sembari memeluk erat bayinya.

__ADS_1


Namun sang jenglot tidak memedulikan ucapan Ningsih, ia tetap mendekati Ningsih dan merampas anak yang di peluk oleh Ningsih.


“Kembalikan anakku!” pekik Ningsih sembari menangis.


“Tidak anak ini milikku.”


Ucap Sang jenglot lalu tiba-tiba menghilang.


Ningsih yang tidak mau anaknya kembali berdiri dari tempat tidurnya dan berteriak-teriak kepada sang jenglot yang telah hilang.


“Kembalikan anakku, kembalikan anakku,” pekik Ningsih di dalam mimpi.


Terikkan Ningsih pun membangunkan Trisno yang sedang tertidur di sampingnya.


“Ning, Ning, bangun Ning,” ujar Trisno sembari menggoyang-goyangkan tubuh Ningsih.   


Melihat Ningsih yang telah terbangun Trisno menanyakan kepadanya.


“Kamu kenapa Ning?” tanya Trisno.


“Aku mimpi makhluk itu lagi Mas, mengambil bayiku,” sahut Ningsih sembari mengusap perutnya.


Namun alangkah terkejutnya Ningsih saat meraba perutnya tidak lagi membuncit melainkan rata.


Hal tidak di masuk nalar di alami oleh Ningsih.


“Mas perutku Mas,” ucap Ningsih yang bingung.

__ADS_1


Trisno pun membuka selimut yang di kenakan oleh Ningsih dan sontak saja Trisno pun kaget melihat perut Ningsih yang tidak lagi membuncit.


Ningsih yang mengetahui hal tersebut pun menangis.


“Anakku Mas, anakku tidak ada Mas?” ucap Ningsih yang menangis.


“Iya Ning, iya sabar,” ujar Trisno yang mencoba menenangkan Ningsih.


Ningsih pun menangis histeris mana kala anak yang ia kandung sedang berjalan tujuh bulan kini hilang secara aneh.


“Bagaimana ini Mas, aku bermimpi makhluk itu mengambil anakku dan ternyata benar anakku hilang di kandunganku Mas,” ujar Ningsih yang masih saja menangis.


“Itu tidak mungkin Ning, hal tidak masuk akal?” sahut Trisno berpura-pura tidak tahu apa-apa.


“Tapi nyatanya semua ini terjadi Mas, mimpi itu benar,” ujar Ningsih yang menegaskan kepada Trisno.


“Bagaimana jika besok kamu aku antar pergi ke dokter saja kita periksa,” kata Trisno.


Ningsih tidak terlalu mendengarkan ucapan Trisno ia masih saja menangis dan bersedih melihat bayi yang ia kandung hilang secara tiba-tiba.   


Sementara sang jenglot yang telah berhasil mengambil tumbalnya pun sedang menikmatinya bayi yang telah ia ambil.


Dengan sangat beringas jenglot menikmati setiap tubuh sang bayi hingga tidak tersisa sedikit pun.


Karma buruk sedang di alami Trisno, akibat persekutuannya bersama jenglot itu membuatnya menerima imbasnya bahkan anaknya yang masih di dalam perut menjadi korban keberingasan makhluk tersebut.


 

__ADS_1


       


__ADS_2