
Beberapa jam telah berlalu suara lonceng pun telah di bunyikan petanda jam sekolah telah berakhir semua murid pun tengah bersiap-siap untuk pulang.
Gendis berserta Bayu berjalan bersama menuju pakiran motor mereka sembari mengobrol.
“Gendis, nanti kalau ada apa-apa dengan mu kabari aku ya,” kata Bayu sembari tidak sadar memegang tangan Gendis.
“Iya Bayu santai aja udah kaya apa aja kamu,” sahut Gendis melihat Bayu memegang tangannya.
“Eh maaf aku refleks,” sahut Bayu tersipu malu.
“Kamu khawatir ya sama aku,” tanya Gendis memancing Bayu.
“I-iya, aku tidak mau kamu kenapa-kenapa,” ujar Bayu yang menunduk.
Mendengar ucapan Bayu Gendis pun tersenyum malu.
Sebenarnya Gendis sudah lama menaruh hati dengan Bayu, namun karena sikap Bayu yang dingin membuat dirinya enggan menaruh harapan kepada Bayu di tambah lagi bayak para murid perempuan yang sangat mengidolakan Bayu membuatnya menjadi tambah minder dengan Bayu.
Akan tetapi akhir-akhir ini Bayu berubah kepadanya sikapnya lebih perhatian dan sangat cemas jika hal buruk terjadi kepadanya.
“Udah santai aja aku enggak apa-apa kok, jangan terlalu di pikirin Bayu,” kata Gendis yang mencoba agar Bayu tidak terlalu khawatir dengannya.
‘Sebenarnya aku suka sama kamu Gendis aku tidak mau kamu kenapa-kenapa,' batin Bayu.
“Woy malah ngelamun ayo kita pulang,” tegur Gendis.
Sontak saja ucapan Gendis membuat Bayu menjadi kaget dan menghentikan lamunannya.
Mereka berdua pun telah sampai di parkiran motor dan menaiki motor masing-masing bersiap-siap untuk pulang.
Saat sampai di rumah, Gendis pun masuk ke dalam kamarnya dan berganti pakaian, setelahnya Gendis keluar kamar lalu menghampiri Tini yang berada di meja makan.
“Nenek ngambil makann buat siapa?” tanya Gendis.
“Buat bibi Surti dia belum makan,” ucap Tini.
Saat usai memasukan makanan ke dalam piring, Tini melupakan sesuatu yang masih ia masak di atas kompor.
__ADS_1
“Astagfirullah,” ucapnya sembari menepuk jidatnya.
“Kenaa Nek?” ucap Gendis yang kaget mendengar ucapan Tini secara tiba-tiba.
“Nenek lupa angkat masakan, kompornya juga belum di matikan. Gendis Nenek minta tolong berikan makanan ini ke bibi Surti ya,” pinta Tini.
“Ya sudah Nek nanti Gendis kasih,” sahut Gendis.
Tini pun berlari kecil menuju dapur saat aroma sedikit gosong mulai tercium sampai ke meja makan.
Gendis berdiri dan membawakan makanan tersebut ke kamar Surti.
“Bi Surti, Gendis masuk ya.”
Saat Gendis membuka pintu terlihat Surti seperti lemas dan pucat, Gendis pun memeriksa keadaan Surti.
“Bi, apa Bibi sakit?” tanya Gendis sembari meletakkan punggung tangannya ke kening Surti.
“Astagfirullah, panas banget,” ucap Gendis.
Gendis pun berdiri lalu serta merta memanggil Tini.
Tidak lama Tini berlari menghampiri Gendis. “Ada apa?” tanya Tini.
“Nek Bi Surti mukanya pucat terus badannya panas banget,” ucap Gendis.
Tini pun memeriksa kesadaan Surti dan memang benari kondisi Surti dalam keadaan deman.
“Kamu telpon bapakmu Gendis,” ucap Tini.
“Baik Nek.”
Gendis pun membuka ponselnya dan menghubungi Trisno hingga telepon pun tersambung.
“Halo Pak,” ucap Gendis dalam telepon.
“Ada apa sih ganggu aja,” omel Trisno.
__ADS_1
Dari balik telepon terdengar suara seorang wanita tengah tertawa lalu bicara.
“Pak bibi Surti sakit Pak, Bapak cepat pulang,” pinta Gendis.
“Bapak sibuk! Suruh usup sama Iwan saja sana panggil mantri. Kamu ini ganggu saja!”
Telepon pun langsung di matikan oleh Trisno, Gendis pun kembali masuk ke dalam kamar Surti dan memberi tahu Tini jika Trisno menyuruhnya untuk memanggil mantri.
Tini pun bergegas ke pos jaga dan meminta Iwan serta Usup memanggil Mantri.
Di dalam kamar, Gendis merasa iba melihat Surti itu pun berinisiatif untuk mengompres demanya.
Ia mengambil sebaskom air dingin untuk mengompres Surti.
“Bi sabar ya tadi Nenek sudah suruh Usup sama Iwan buat panggil mantri,” ucap Gendis.
Surti terlihat mengeluarkan senyum kecil, ia menatap mata Gendis lalu mengusap wajah Gendis dengan lembut.
“Apa bibi pusing?” tanya Gendis.
Surti pun menganggukkan kepalanya.
Seakan ada kontak batin, mereka berdua merasa seperti sangat dekat satu sama lain, Gendis pun tidak canggung berdekatan dengan Surti malah ia merasa nyaman.
Surti kembali mengelus pipi Gendis, “anakku cantik,” ucap Surti tersenyum.
“Pasti Bibi teringat anaknya ya, ini Gendis Bi Bukan anak Bibi,” ucap Gendis.
“Gendis?” ucapnya tersenyum.
“Bibi berbaring saja biar Gendis gampang kompresnya,” ucap Gendis.
Tidak lama mantri pun datang bersama Usup serta Iwan, Surti di periksa oleh mantri lalu di berikan racikan obat.
“Dia deman dan sepertinya kurang tidur juga. Saya akan berikan obat serta vitamin untuknya,” ucap mantri tersebut.
“Minumkan ini tiga kali sehari, untuk vitamin hanya dua kali sehari. Di minum sesudah makan,” sambung mantri itu.
__ADS_1
“Baik Pak mantri terima kasih,” ucap Tini.