
Keesokan paginya Trisno berserta Lasmi sedang menikmati sarapan paginya bersama Tini ibunya.
“Kalian berdua pagi ini mau ke mana ibu lihat sangat rapi?” tanya Tini.
“Mau ke rumah sakit Bu,” kata Lasmi.
“Kamu sakit Lasmi?” tanya Tini.
“Tidak Bu, hanya saja mas Trisno menyuruh Lasmi untuk periksa ke dokter sampai saat ini perut Lasmi masih sering sakit Bu,” ujar Lasmi menjelaskan kepada ibunya.
“Iya Bu, aku yang menyuruhnya periksa aku lelah mendengar rintihan kesakitannya,” kata Trisno sembari menyendok masuk makanan ke mulutnya.
“Ya sudah ibu hanya bisa mendoakan mu Lasmi agar tidak ada penyakit yang membahayakan Lasmi,” ujar Tini.
“Ya Bu semoga saja,” sahut Lasmi yang berharap.
Beberapa menit kemudian setelah mereka berdua telah selesai menikmati sarapan paginya.
Trisno berserta Lasmi pun segera bergegas menuju mobil.
Di dalam mobil Trisno terlihat Iwan yang sudah sedari tadi duduk di sana.
Trisno berserta Lasmi pun masuk ke dalam mobil lalu memerintahkan Iwan untuk menjalankan mobilnya pergi ke kota, karena rumah sakit sendiri hanya ada di kota.
“Wan ayo kita jalan!” perintah Trisno.
“Siap Bos.”
Iwan pun menjalankan mobilnya menuju ke rumah sakit.
Setelah tiga jam di perjalanan akhirnya mereka bertiga telah sampai di rumah sakit.
Iwan yang telah memarkirkan mobil Trisno menunggu mereka berdua di dalam mobil sementara Trisno berserta Lasmi keluar dari mobil berjalan menuju rumah sakit.
Sesampainya Trisno di rumah sakit ia pun langsung mendaftarkan Istrinya. Setelah selesai mendaftarkan Trisno pun menunggu panggilan Suster.
Setelah lama menunggu akhirnya nama Lasmi pun di panggil dan memasuki ruangan Dokter.
Lasmi pun di periksa secara intensif, dokter pun curiga jika Lasmi tidak menderita sakit perut biasa hingga dokter menyarankan untuk melakukan pap smear Lasmi pun diantar ke ruang dan melakukan pap smear dan menunggu hasilnya.
__ADS_1
Beberapa saat menunggu di ruang dokter, mereka pun diberi tahukan oleh dokter jika Lasmi menderita kanker serviks stadium tiga.
Lasmi yang mendengar hal itu begitu terpukul hingga menangis.
Sementara Trisno yang berada di samping Lasmi mendengar hal itu pun tidak percaya.
Dokter pun memberi saran kepada Trisno berserta sang Istri.
“Sebaiknya Istri bapak, secepatnya dioprasi kalau tidak kanker itu akan menyebar,” kata Dokter menyarankan agar Lasmi segera di rawat.
Lasmi menolak operasi tersebut karena Lasmi merasa sangat takut untuk menjalankan operasi.
Ia merengek kepada Trisno untuk membawanya pulang, akhirnya dokter hanya memberikannya obat.
Lasmi dan Trisno pun pulang ke rumah, di perjalanan Lasmi hanya terdiam seribu bahasa begitu pula dengan Trisno.
Sesampainya di rumah Trisno menanyakan masalah tersebut kepada Lasmi.
“Lasmi kenapa kamu tidak mau dioperasi?” tanya Trisno.
“Aku takut Mas, aku takut,” ucap Lasmi.
“Mas gak dengar apa yang dikatakan oleh dokter tadi? Rahimku akan di angkat Mas, dan aku gak bisa punya anak,” ucap Lasmi sembari menangis.
Trisno terdiam ia saat Lasmi berbicara seperti itu.
Lasmi pun berjalan menuju kamar untuk menenangkan dirinya, meninggalkan Trisno di ruang tamu.
Lasmi yang telah berada di kamar hanya dapat menangis di atas tempat tidur.
Sementara Trisno di ruang tamu hanya terdiam sembari menyalakan rokonya.
Tini yang tidak sengaja melihat Trisno berserta Lasmi bertengkar pun mendatangi Trisno, menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Tini pun mendekati Trisno dan duduk di sampingnya.
“Ada apa sebenarnya Nak, ibu lihat tadi kalian bertengkar?” tanya Tini
“Lasmi di vonis dokter terkena kanker Serviks Bu, dan harus segera di operasi pengangkatan rahim, agar kanker itu tidak menyebar. Tapi Lasmi menolaknya Bu,” Trisno mulai menjelaskan kepada ibunya apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
Tini pun mengusap-usap pundak Trisno mencoba menenangkan Trisno.
“Ibu mengerti apa yang di rasakan Lasmi, dia sangat terpukul sebagai seorang istri tidaklah sempurna jika dia tidak dapat mempunyai anak, mungkin Lasmi masih berharap dirinya dapat menjadi seorang Istri yang sempurna untuk mu Trisno,” Tini yang memberi pandangan kepada Trisno.
“Tapi jika tidak kanker itu semakin ganas dan menyebar bagaimana Bu, Trisno pun tidak ingin ada apa-apa dengan Lasmi,” ujar Trisno.
Di sisi lain Lasmi berjalan menuju ruang bawah tanah untuk menghampiri Surti.
Terlihat Surti tengah termangu, saat Lasmi datang matanya langsung menatap tajam ke arah Lasmi seakan menyimpan amarah terhadap Lasmi.
“Kenapa? Kamu marah sama saya?” tanya Lasmi.
“Terserah kamu ingin marah atau apa terhadap saya, karena saya tidak bisa melepaskan kamu.”
Lasmi pun mendekati Surti lalu mengelus perut Surti.
“Seandainya saja aku tidak sakit, aku pasti memiliki anak. Kamu beruntung Surti bisa dengan mudah mendapatkan anak,” ucap Lasmi.
Mendengar hal itu Surti terkekeh tertawa lalu kembali menatap tajam kembali ke arah Lasmi.
Lasmi pun merasa risih dengan tatapan Surti, ia beranjak pergi untuk meninggalkan Surti seorang diri.
Di dalam ruang bawah tanah yang pengap itu Surti tertawa nyaring seakan sangat senang.
Saat menutup pintu ruag bawah tanah itu Lasmi bertemu dangan Trisno.
“Kmu habis ke tempat Surti?”
“Iya Mas,” sahutnya singkat.
Dari balik pintu terdengar jelas suara Surti yang tertawa dan tiba-tiba histeris.
“Sudahlah Lasmi, kamu jangan membebani dirimu sendiri seperti ini,” pinta Trisno.
Lasmi hanya diam sembari melewati Trisno yang belum selesai berbicara.
Malam harinya, Lasmi kembali merasakan nyeri di bagian perut bawahnya. Ia bergegas meminum obat yang di berikan oleh dokter tadi siang.
Lasmi pun berbaring untuk meringankan rasa nyerinya tersebut.
__ADS_1