
Tidak lama Usup dan Iwan pun datang menghampiri Trisno dan memberi tahukan jika Sobari memang benar akan membuka perkebunan.
Trisno pun meminta Usup dan Iwan untuk menemaninya menemui Sobari.
“Temani aku menemui si sobari itu,” ucap Trisno.
“Baik Bos.”
Beberapa Jam kemudian. Trisno beserta anak buahnya itu mendatangi kediaman Sobari, sebenarnya Trisno juga belum terlalu kenal dengan Sobari mengingat Sobari adalah orang yang sibuk, jarang bergaul dengan warga desa lain serta ia juga jarang berada di desa tersebut.
Saat Trisno datang le rumahnya, terlihat ada banyak penjaga di rumahnya. Tidak seerti rumah Trisno yang memiliki dua orang penjaga setia yaitu hanya Usup dan Iwan saja.
“Saya ingin bertemu dengan pak Sobari,” ucap Trisno pada penjaga.
“Siapa dan ada keperluan apa?” tanya si penjaga.
“Apa urusanmu mennyakan hal itu kepada Bos kami?” ucap Iwan.
Trisno pun menegur Iwan, “Sudah jangan marah-marah!” tegur Trisno.
“Tolong bilang ke pak Sobari, Trisno datang mengunjunginya.”
Mendengar nama Trisno penjaga itu langsung menunduk sopan padanya.
“Oh anda pak Trisno, pemilik kebun sawit itu. Baik saya akan sampaikan,” ucapnya.
Trisno pun di ajak masuk dan diminta untuk menunggu, sembari menunggu Trisno melihat ke sekeliling rumah Sobari. Rumah bernuansa putih emas berukuran besar dan cukup luas itu menarik perhatian Trisno.
‘Lihat saja rumah ini akan menjadi milikku,' batin Trisno.
Tidak berselang lama terlihat seorang pria berpakaian kaos oblong berwarna putih serta mengenakan peci putih menghampiri Trisno.
“Selamat sore Pak Trisno,” ucap Sobari sembari menjabat tangan Trisno.
“Selamat sore,” sahut Trisno.
‘Ini toh yang namanya Sobari, gayanya kampungan,' pikir Trisno.
“Selamat sore juga Pak Sobari,” sahut Trisno yang membalas jabat tangan dari Sobari.
“Suatu kehormatan saya bisa di kunjungi oleh Pak Trisno di rumah saya yang sederhana ini, kalau boleh tahu apa keperluan Pak Trisno?” tanya Sobari.
“Begini Pak Sobari, saya ingin menawarkan sesuatu. Saya lihat tanah Pak Sobari yang berada di dekat kebun sawit saya itu menganggur, bagaimana jika saya beli tanah itu?” ucap Trisno dengan angkuh.
__ADS_1
“Wah maaf sekali Pak Trisno, tanah itu akan saya jadikan lahan sawit, bahkan saya sudah melakukan pemibibitan sejak lama,” sahutnya.
Mendengar hal itu Trisno menjadi naik pitam namun ia masih menahannya, ia tidak ingin di pandang kampungan oleh Sobari.
“Saya akan menawarkan harga tinggi untuk tanah itu jika Pak Sobari mau,” ucap Trisno.
“Maaf Pak Trisno, sepertinya saya belum bisa menjual tanah itu,” sahut Sobari.
Merasa di rendahkan karena menolak penawaran Trisno, Trisno pun berpamitan pulang namun ia tidak lupa memberikan nomor kontaknya kepada Sobari.
“Baiklah kalau begitu, ini kartu nama saya, jika Pak Sobari berubah pikiran bisa langsung menghubungi saya,” ucap Trisno.
“Baik pak Trisno. Terima kasih karena sudah mau datang ke sini,” sahutnya.
“Ya sama-sama.”
Triano pun masuk ke dalam mobil, dan melaju menuju rumahnya. Sepanjang jalan Trisno mengomel karena Sobari menolaknya.
“Sialan! Sombong sekali si Sobari itu. Lihat saja sebentar lagi kamu akan memohon dan bertekuk lutut untuk meminta bantuanku,” ucap Trisno.
Sesampainya di rumah Trisno yang sudah terlanjur kesal itu pun menghiraukan Lasmi yang tengah menyapanya.
“Sudah pulang Mas,” ucap Lasmi.
“Bapak kenapa?” tanya Lasmi kepada Iwan.
“Bapak lagi kesel, tawarannya membeli tanah di tolak mentah-mentah oleh Sobari,” sahut Iwan.
“Pantas saja. Kalian makan saja dulu saya sudah masak,” ucap Lasmi.
“Kebetulan Bu Bos kami laper dari tadi,” sahut Iwan sambil berjalan menuju meja makan.
Dalam benak Lasmi ia sudah berpikir jika Trisno akan melakukan cara apa pun untuk mendapatkan keinginannya termasuk menggunakan jenglot tersebut.
Benar saja, malam harinya Trisno mulai melakukan ritual rutinnya, semalaman ia akan bermalam di kamar tersebut.
Di atas meja dalam kamar tersebut sudah terdapat beberapa sesaji, bunga tujuh rupa serta kelopak mawar yang di tabur di atas ranjang. Tidak lupa Trisno membakar kemenyan di kamar itu.
Bau kemenyan menyeruak hingga keluar ruangan, semua orang yang ada di rumah itu sangat paham jika sudah mencium aroma kemenyan tersebut.
Trisno membaca mantra lalu menyayat ujung telunjuknya lalu meneteskan darahnya ke mulut jenglot tersebut.
Sambil mengucapkan mantra darah yang di teteskan oleh Trisno itu pun di serap cepat oleh jenglot itu.
__ADS_1
Hingga tercium aroma wangi bunga melati. Di atas ranjang sudah ada nyai Asih duduk menghadap ke arah Trisno.
Dengan cepat Trisno naik ke ranjang tersebut, sebelumnya Trisno mengutarakan keinginannya kepada nyai Asih.
“Nyai aku ada satu permintaan,” ucap Trisno.
“Apa itu Trisno?”
“Aku ingin si Sobari pemilik tanah di dekat perkebunanku itu kamu santet nyai buat dia sakit-sakitan dan tidak kunjung sembuh sampai ia kehabisan hartanya untuk berobat,” pinta Trisno.
“Itu sangat mudah, yang terpenting sekarang kita nikmati dulu malam kita ini,” ucap nyai Asih sembari mengelus-elus lembut paha Trisno.
Dengan cepat hasrat Trisno terpacu oleh buaian lembut nyai Asih, mereka pun bersenggama dengan hebat di atas ranjang.
Mereka melakukannya cukup lama hingga hampir subuh, suara ******* dari nyai Asih itu membuat Trisno tidak bisa menahan dirinya.
“Tidak ada yang bisa menyaingi milikmu ini Nyai, aku benar-benar puas,” ucap Trisno.
Nyai Asih hanya tersenyum sembari terus menggoda Trisno, mereka terus memacu hasrat satu sama lain keringat akibat nafsu yang semakin memuncak itu terus mengalir keluar, hingga Trisno tidak sanggup lagi dan terkapar lemas di atas ranjang.
‘Memang nyai Asih ini melebihi wanita pada umumnya, milik Surti saja tidak seenak nyai Asih,' batinnya.
Hinggap pagi hari Trisno pun terbangun, ia dengan cepat memasang semua pakaiannya dan keluar dari kamar tersebut lalu masuk ke dalam kamar Lasmi.
Ia masuk ke dalam kamar mandi lalu mandi dan berganti pakaian.
Saat berada di meja makan bersana Usup dan juga Iwan, Trisno meminta kepada mereka berdua untuk memantau keadaan Sobari.
Usai sarapan pagi, mereka berdua pun berjalan menuju rumah Sobari dan memantau keadaan.
Cukup lama Iwan dan Usup memata-matai rumah Sobati, hingga terdengar suara ngiungan dari sirine mobil ambulan.
“Sup ada ambulan,” ucap Iwan.
“Mungkin di dalam sana ada yang sakit,” ucap Usup.
“Tapi kayaknya semua orang panik, apa jangan-jangan si Sobari yang sakit?”
“Bisa jadi Wan, kita lihat saja siapa yang di masukan ke mobil ambulan,” ucap Usup.
Tidak lama terlihat petugas ambulan membawa seseorang di ranjang daruratnya dan orang itu adalah Sobari.
Dengan cepat Iwan menghubungi Trisno untuk memberi tahukan jika Sobari di bawa oleh mobil ambulan. Mendengar hal tersebut Trisno tertawa terbahak dan bersorak senang.
__ADS_1
“Hahahah ... Lihatlah Sobari. Aku bisa dengan mudah membuatku menderita. Dan tinggu saja kamu pasti akan datang dan memohon bantuanku,” ucap Trisno.