Jenglot

Jenglot
Kelicikan Trisno terhadap Sobari


__ADS_3

“Jadi mbah tidak bisa membantu saya?” Anwar yang bertanya kepada Kusno.


“Maaf, Mbah tidak bisa membantumu, makhluk yang melindungi Trisno sangat tinggi ilmunya jika mbah tetap menyerang Trisno kemungkinan besar mbah yang akan mati di tangan makhluk itu. Mbah tidak mau ambil risiko Anwar,” ujar Kusno memberitahukan Anwar.


“Lalu saya harus bagaimana mbah?” tanya Anwar.


“Mbah punya teman yang lebih sakti tingkatannya di atas mbah, kalau kamu mau minta tolong mungkin dia bisa menolong kamu Anwar, tapi mbah tidak yakin dia mau menolong atau tidak. Karena Mbah pernah ketemu dia, dan dia tidak mau memakai lagi ilmu hitam.”


“Di mana tempatnya mbah? Saya akan mencoba ke sana dan meminta tolong kepadanya?” ucap Anwar yang sangat antusias.


“Dia berada di hutan terlarang.”


“Siapa nama teman Mbah itu?” tanya Anwar.


“Namanya Ki Agung, datangilah siapa tahu dia dapat membatumu atau memberikanmu solusi dari masalah yang kamu hadapi,” ujar Mbah Kusno.


“Baik Mbah, terima kasih atas informasinya. Kalau begitu saya pamit pulang terlebih dahulu.” 


“Iya Anwar, maafkan Mbah tidak bisa membantumu.”


Anwar pun berpamitan pulang.


Anwar pun kembali masuk ke dalam mobil. Pak Ujang selaku sopir pribadinya Anwar pun menjalankan mobil Anwar meninggalkan rumah mbah Kusno.


Di dalam perjalanan menuju ke rumah Anwar bertanya kepada Pak Ujang.


“Pak, Bapak tahu tidak di mana hutan terlarang itu berada?” tanya Anwar.


“Hutan terlarang, Bapak yakin mau ke hutan terlarang itu?”


“Iya Pak memangnya kenapa?” mbah Kusno menyaran aku pergi ke sana untuk bertemu dengan temannya yang bernama ki Agung, karena mbah Kusno sendiri tidak bisa menyantet Trisno jadi aku di sarankan pergi ke sana teman mbah Kusno itu lebih tinggi ilmunya ketimbang dirinya,” ujar Anwar yang menjelaskan kepada pak Ujang


“Sepengetahuan saya hutan itu terkenal angker pak Anwar, jika kita masuk ke hutan itu lebih dalam maka akan sangat bahaya karena di dalam hutan itu perbatasan antara alam manusia dan alam dunia lain pak Anwar. Dan sebaiknya bapak pikir-pikir dahulu sebelum bapak mengambil tindakkan yang sangat berisiko kepada Bapak,” Pak Ujang yang memberikan pengarahan kepada Anwar.


Sontak saja Anwar pun terdiam mendengar ucapan dari pak Ujang.   


Sementara di sisi lain Trisno bertanya kembali ke pada sang Jenglot.


Di saat itu Trisno yang sedang berada di dalam kamar ritualnya memanggil sang jenglot guna sangat penasaran ingin mengetahui siapa yang berani bermain-main dengan diri.


Dengan membacakan mantra lalu memberikan darah kepada si Jenglot tiba-tiba jenglot yang berada di dalam kotak kayu itu bergetar dan berubah menjadi sosok makhluk.


“Ada kamu memanggilku Trisno?” tanya Trisno.


“Aku ingin mengetahui siapa yang berani bermain di belakangku Mbah?” 


“Aku tidak tahu siapa orangnya, tapi yang aku ketahui dia itu pesaing bisnismu Trisno,” ujar sang jenglot memberitahukan Trisno.


“Pesaing bisnisku?” ucap Trisno yang sangat terkejut.


“Tapi kau tenang saja Trisno aku sudah memberi pelajaran kepada si dukun itu dan dia tidak akan berani menggagumu lagi,” ujar sang jenglot.


“Baiklah jika begitu jenglot, aku percayakan kepada dirimu.”


Setelah selesai bertanya kepada sang jenglot Trisno pun kembali ke kamarnya untuk beristirahat.


Beberapa hari berlalu, Trisno mulai kembali mencari tahu kabar dari saingannya yang bernama Sobari, ia kembali menyuruh Iwan dan Usup untuk mencari tahu tentang keadaan Sobari.

__ADS_1


Usup dan Iwan pun mencari informasi mengenai Sobari, mereka menanyai beberapa orang yang bekerja di pembukaan lahan Sobari dengan berpura-pura ingin melamar pekerjaan.


“Maaf pak apa saya boleh bertemu dengan pemilik lahan ini?” ucap Iwan.


“Memangnya ada keperluan apa?” 


“Kami mau ikut bekerja di sini pak,” sahut Usup.


“Pemilik lahan ini sedang sakit kalau mau kalian temui saja mandor yang ada di sana,” ucap pekerja itu sambil menunjuk seseorang yang tengah berdiri di samping ekskavator.


“Sakit apa Pak kalau boleh tahu?” tanya Iwan.


“Nah kalau itu saya kurang tahu, yang pasti sudah beberapa hari pemilik lahan ini di rawat di rumah sakit,” ucapnya.


“Baik Pak kalau begitu terima kasih,” sahut Usup.


Mereka pun pergi dan bergegas memberi tahu masalah itu kepada Trisno, saat sampai di rumah mereka langsung memberi tahukan informasi tersebut kepada Trisno.


“Bos kami sudah menanyai pekerja di sana, katanya si Sobari masih di rawat di rumah sakit,” ucap Iwan.


“Lalu pembukaan lahannya bagaimana?” tanya Trisno.


“Masih berlanjut Bos, bahkan kami berpura-pura mau melamar pekerjaan dan sepertinya mereka masih menerima pekerja,” sahut Iwan.


“Ya sudah kalian lantau saja terus!”


“Siap Bos.”


Di tempat lain Sobari tengah terbaring lemah di rumah sakit, beberapa dokter kebingungan karena tidak menemukan penyakit serius di tubuh Sobari.


Padahal beberapa hari yang lalu Sobari sempat muntah darah berkali-kali. 


Di atas ranjang pasien itu Sobari terus memanjatkan doa serta tidak henti-hentinya berdzikir. Hal itu membuat Jenglot kesulitan untuk mencelakai Sobari.


Hingga di saat tengah malam, saat Sobati tengah beristirahat jenglot itu mulai melancarkan aksinya lagi.


Dengan energi negatifnya yang begitu kuat Jenglot mulai membuat Sobari semakin merasa sakit di beberapa bagian tubuhnya.


Dan Jenglot pun berhasil, ia berhasil mengambil celah kesempatan. Hingga Sobari merasa putus asa dan hampir menyerah di saat itu lah jenglot kembali bisa melancarkan aksinya.


Dua minggu sudah Sobari di rawat di rumah sakit, berbagai macam perawatan intensif di lakukan namun tidak membuahkan hasil, hingga keluarga memutuskan untuk merujuk Sobari ke rumah sakit yang lebih bagus yang ada di Singapura.


Di rumah sakit itu Sobari ditangani dengan serius, para dokter menemukan ada kerusakan di beberapa organ vitalnya hal itu membuat keluarga kaget karena di rumah sakit sebelumnya mereka tidak menemukan penyakit apa pun.


Saat di lakukan pemeriksaan menggunakan peralatan yang lebih canggih, para dokter menemukan seperti ada bercak berwarna hitam di bagian hati serta paru-paru Sobari.


“Ini seperti racun yang menyebar,” ucap sang dokter kepada salah seorang keluarga Sobari.


Perlu di ketahui, Jenglot memiliki energi negatif yang sangat tinggi. Energi negatif yang di salurkan ke tubuh Sobari menjadikannya sebuah racun yang akan membuat Sobari sakit perlahan-lahan.


Keluarga tidak menyangka jika hal ini akan terjadi pada Sobari, sekitar satu minggu di rawat intensif di rumah sakit itu Sobati sudah menghabiskan banyak uang untuk perawatannya.


Ditambah lagi para keluarga yang ikut menjaga Sobari harus menyewa tempat untuk menginap selama Sobari di rawat.


Satu per satu harta Sobari dijual untuk membayar perawatan Sobari.


Pihak keluarga mulai kesusahan untuk membayar gaji para karyawan serta pekerja pembuka lahan, beberapa dari mereka bahkan ada yang mengundurkan diri karena gaji yang tidak di bayar.

__ADS_1


Protes demi protes mereka terima dari para pekerja hingga akhirnya proses pembukaan lahan yang hampir rampung itu di hentikan oleh mandor karena biaya operasional serta gaji yang tak kunjung di berikan.


Beberapa bulan berlalu, lahan yang masih setengah jadi itu menjadi terbengkalai banyak semak dan ilalang yang menumbuhi lahan tersebut.


Trisno yang mengetahui hal tersebut pun sangat girang dan senang karena sebentar lagi ia akan menjadi orang terkaya di desanya.


Hingga ada seseorang yang bertamu ke rumahnya.


“Permisi Pak, apa saya bisa bertemu dengan bapak Trisno?” ucapnya kepada Iwan yang saat itu berada di pos jaga.


“Ada keperluan apa?” tanya Iwan.


“Saya hanya ingin meminta bantuan kepada pak Trisno.”


“Tunggu sebentar,” sahut Iwan.


Iwan pun berjalan menuju rumah dan memberi tahukan kepada Trisno jika ada seseorang yang datang dan ingin meminta bantuan.


“Suruh dia masuk,” ucap Trisno.


“Baik Bos.”


Orang itu pun di persilahkan masuk oleh Iwan, ia membukakan pagar agar mobilnya bisa masuk ke dalam.


Saat di depan rumah Trisno orang itu langsung keluar mobil dan menghampiri Trisno.


“Selamat pagi Pak Trisno,” ucapnya sembari mengulurkan tangan.


“Selamat pagi, silahkan duduk,” sahut Trisno sambil menjabat tangan orang tersebut.


“Saya Basir, adik dari pak Sobari. Kakak saya Sobari sekarang sedang berada di rumah sakit Singapura.” 


“Sakit apa si Sobari?” tanya Trisno yang seolah tidak tahu.


“Entahlah saya juga tidak mengerti, dokter sana bilangnya ada bercak hitam di bagian hati dan paru-parunya dan komplikasi serius,” tutur Basir.


“Saya turut prihatin atas musibah yang menimpa Sobari,” ucap Trisno.


“Kedatangan saya kemari adalah untuk menyampaikan keinginan kakak saya untuk menjual tanahnya. Dia bilang beberapa bulan lalu Pak Trisno sempat menawar tanah milik kakak saya.”


Trisno pun tersenyum kecil, “Bukankan kemarin Sobari menolak saya lalu kenapa sekarang malah mendatangi saya?” ucap Trisno.


“Saya mewakili kakak saya memohon maaf saat itu memang kakak saya ingin membuka perkebunan. Tapi sekarang ceritanya lain, kakak saya malah terbaring di rumah sakit dan membutuhkan biaya besar setiap harinya,” tutur Basir.


“Sebenarnya saya sempat kecewa karena saya di tolak saat itu, tapi saya juga kasihan dengan Sobari.”


“Baiklah saya akan membelinya.” 


Seakan bersimpati dengan sakitnya Sobari, Trisno berakting layaknya menjadi orang yang telah di kecewakan oleh Sobari. 


Ia kemudian mau membeli tanah tersebut, dalam hati Trisno. Perasaan puas serta merasa paling hebat pun tercipta.


Trisno merasa dirinya tidak terkalahkan dan menjadi juragan terkaya di desa tersebut, padahal ia tidak tahu jika ada yang tengah mengintainya dan berusaha menjatuhkannya juga.


Trisno menjadwalkan pengukuran tanah akan di lakukan besok, ia akan membawa beberapa orang untuk memastikan tidak ada sejengkal tanah pun milik Sobari yang terlewat.


Harga tanah pun telah di tetapkan, Trisno akan membayarnya cash tanpa mencicilnya. Usai bernegosiasi Basir pun pergi meninggalkan rumah Trisno.

__ADS_1


Saat Basir pergi Trisno langsung tertawa senang.


“Hahaha ... Akhirnya aku akan menjadi juragan terkaya di desa ini. Tidak ada yang bisa menandingi kekayaanku,” ucapnya.


__ADS_2