
“Lasmi ....”
Trisno terkejut melihat Lasmi terjatuh di lantai, dengan cepat ia mengangkat Lasmi masuk ke dalam kamar.
“Usup! Iwan!” teriak Trisno memanggil kedua anak buahnya.
Mendengar teriakan Trisno Usup berserta Iwan pun menghampiri Trisno yang sedang berada di dapur bersama Lasmi yang tidak sadarkan diri.
“Bos ibu kenapa?” Tanya Usup.
“Sudah cepat telepon ambulan!” Perintah Trisno.
“Baik Bos,” ucap Usup.
Usup pun melaksanakan perintah Trisno menelepon ambulan.
Beberapa menit kemudian terdengar Iungan suara sirene ambun di depan pagar rumah Trisno.
Dengan cepat Iwan berlari membukakan pintu pagar rumah Trisno.
Setelah ambulan itu telah berada tepat di halaman rumah Trisno.
Para tim medis pun segera keluar dari mobil ambulan,
Setelah itu para tim medis memasukkan Lasmi ke dalam mobil bulan.
Lasmi pun di bawa ke rumah sakit untuk segera di tangani.
Trisno yang mengetahui Lasmi akan di larikan ke rumah sakit segera menyusul Lasmi di temani oleh Iwan.
“Bu, aku titip Gendis dulu aku mau menyusul Lasmi di rumah sakit,” ujar Trisno ingin bergegas pergi ke rumah sakit.
“Ia Nak, tidak usah kamu khawatirkan Gendis. Gendis biar ibu yang jaga Trisno.
Mendengar hal itu membuat Trisno sedikit tenang untuk meninggalkan gendis.
Bersama Iwan Trisno pergi ke rumah sakit.
“Ayo cepat Wan!” ucap Trisno yang sudah berada di dalam mobil.
“Baik Bos,” sahut Iwan masuk dalam mobil.
Setelah Iwan masuk ke dalam mobil, Iwan pun mulai menjalankan mobil Trisno menuju rumah sakit.
Di dalam perjalanan menuju rumah sakit Trisno mengajak Iwan untuk mengobrol mengurangi kegelisahannya terhadap Lasmi.
“Wan semoga ibu tidak apa ya Wan, aku sangat khawatir dengan keadaan Lasmi,” ucap Trisno berharap Lasmi tidak sampai parah.
“Ia Bos, semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan Ibu Bos, oh Iya kalau boleh saya tahu sebenarnya ibu sakit apa sih Bos?”
“Kanker serviks Iwan, stadium tiga.”
“Kenapa tidak di rawat Bos, itu bisa semakin parah jika di biarkan,” kata Iwan yang sangat terkejut.
__ADS_1
“Aku sudah berulang kali menyuruhnya menjalankan operasi tapi Lasmi tetap saja bersikeras dengan pendiriannya sampai akhirnya aku melihatnya tergeletak di dapur,” ucap Trisno menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Iwan.
“Semoga saja tidak ada apa-apa dengan ibu Bos,” ucap Iwan.
Beberapa jam kemudian Trisno telah sampai di parkiran rumah sakit.
Trisno pun keluar dari dalam mobil menuju ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit Trisno menghampiri bagian informasi menanyakan di mana istrinya berada.
Setelah mengetahui bahwa Lasmi berada di ruang operasi, Trisno pun segera menghampiri mendatangi Lasmi di ruang operasi itu.
Namun saat Trisno sudah di depan ruangan operasi. Dokter pun tidak kunjung keluar, Trisno pun harus bersabar menunggu hasil Dokter.
Setelah menunggu sekian lama akhirnya Dokter pun keluar dan memberi tahukan kabar duka kepada Trisno.
“Dok bagaimana keadaan Istri saya,” tanya Trisno yang sangat Khawatir.
Dokter mengela nafas panjang dan mengusap-usap pundak Trisno.
“Bapak yang sabar, saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menolong Istri Bapak, tapi rupanya Tuhan berkata lain. Istri bapak tidak bisa kami tolong dan selamatkan.”
Mendengar hal Itu Trisno sangat terpukul dan belum bisa terima.
Trisno pun meneteskan air mata saat mendengar kabar duka dari Lasmi.
Lasmi pun langsung di bawa kembali ke rumah dengan ambulan.
Trisno yang di samping jasad Lasmi pun menangis dan belum percaya jika Lasmi telah pergi lebih dahulu.
“Maafkan aku Lasmi, aku belum bisa menjadi suami yang baik untukmu,” ujar Trisno.
“Sekarang kamu dapat telah pergi dengan tenang tanpa merasakan rasa sakit lagi, kini tinggal aku berserta Gendis anak kita Lasmi,” ucap Trisno di samping jasad Lasmi.
Kesedihan yang sangat dalam Trisno rasakan mana kala orang yang di cintainya kini pergi selamanya meninggalkan dirinya.
Beberapa jam kemudian Lasmi telah sampai rumah. Isak tangis kembali pecah saat jasad Lasmi di keluarkan dari mobil ambulan oleh para petugas medis dan di bawa masuk ke dalam rumah.
Tini tidak mengira Lasmi akan pergi secepat itu ketimbang dirinya.
Jasad Lasmi pun langsung di mandikan, lalu di kafani, setelah itu di sholatkan barulah akhirnya Lasmi di kuburkan tidak jauh dari rumahnya.
Setelah Lasmi selesai di makamkan Trisno berserta Gendis tidak pulang mereka berdua masih di kuburan Lasmi.
“Bapak ibu ke mana” Gendis dengan sangat lugu.
“Ibu sekarang sudah berada di surga,” ucap Trisno kepada Gendis.
“Lasmi, sekarang hanya aku saja yang barus berjuang untuk membesarkan Gendis,” tenanglah di sana Lasmi,” ucap Trisno meneteskan air matanya.
Setelah itu Trisno pun kembali ke rumah bersama Gendis.
Beberapa hari kemudian suasana rumah kian berbeda ketika ada Lasmi, kini Trisno mulai merasakan sepi tanpa Lasmi di rumah itu.
__ADS_1
Trisno pun di bantu oleh sang ibu untuk membesarkan Gendis. Dan mereka semua merahasiakan secara rapat-rapat siapa Surti kepada Gendis.
Di tengah kesedihan Trisno akan kepergian Lasmi.
Ada seseorang saingan bisnis Trisno yang sudah tidak suka kepadanya sejak lama.
Anwar adalah bos dari batu bara saingan Trisno. Karena batu bara milik Trisno terbilang cukup bagus.
Banyak konsumen dan relasi Anwar yang pindah kepada Trisno.
Melihat hal itu, Anwar tidak terima dan mencoba menjatuhkan Trisno dengan jalan magis.
Kali itu Anwar di temani oleh sopirnya ke rumah dukun yang di katakan orang sangat sakti.
“Di mana rumahnya pak Ujang?” tanya Anwar di dalam mobil.
“Tunggu sebentar Bos, sebentar lagi kita akan sampai,” ujar Pak Ujang.
“Sudah 3 jam kita berjalan tapi belum sampai juga,” sahut Anwar.
Tidak lama kemudian, mereka telah sampai di rumah Mbah Kusno.
Anwar pun keluar dari mobilnya menuju rumah mbah Kusno.
Tok ... Tok ...
Suara pintu di ketuk oleh Anwar.
Tidak lama kemudian mbah Kusno pun keluar membukankan pintu.
“Ada apa kalian ke rumahku,” tanya mbah Kusno.
“Kedatangan saya kemari ingin minta bantuan kepada Mbah,” kata Anwar.
“Ayo masuk!” perintah Mbah Kusno.
Awar masuk ke rumah mbah Kusno mengikuti mbah Kusno ke kamar ritualnya sementara ujang sopir Anwar menunggu di dalam mobil saja.
Sesampainya Anwar di kamar ritual mbah Kuncoro, barulah Anwar menceritakan maksud kedatangannya kepada mbah Kusno.
“Ada apa kamu ke rumah ku?” tanya mbah Kusno.
“Begini mbah kedatangan saya ke sini, ingin meminta tolong kepada mbah untuk menjatuhkan saingan bisnis saya yang bernama Trisno. Saya ingin Trisno bangkrut mbah,” ujar Anwar yang menjelaskan maksudnya kedatangannya kepada mbah Kusno.
“Hahah, itu gampang serahkan kepada mbah,” sahut dengan sombong mbah Kusno.
__ADS_1