
Dari arah belang terlihat seseorang yang menepuk bahu Trisno.
“Seperti Pak Trisno tertarik akan Sari si biduan cantik itu,” celetuk Arifin yang tiba-tiba menghampiri Trisno dari belakang.
“Eh Pak Arifin,” celetuk Trisno yang terkejut.
“Iya pak Arifin seperti saya tertarik dengan Sari dari pertama kali saya memandang dirinya,” sambungnya
“Tapi sayangnya Sari sudah mempunyai suami pak Trisno, sebaiknya impian pak Trisno untuk menyukainya tidak ada harapan,” ujar Pak Arifin mengingatkan Trisno.
“Hahahah, pak Arifin tahu siapa saya kan? Bukan Trisno namanya jika tidak bisa mendapatkan Sari,” balas Trisno dengan tawa sombongnya.
“Iya pak Trisno saya tahu benar siapa Bapak, tidak ada yang bisa menghalangi kemauan Bapak,” sahut Arifin memuji Trisno.
Malam mulai semakin larut Arifin pun menghentikan obrolannya dengan Trisno lalu berpamitan pulang.
“Pak saya duluannya, istri saya sedari tadi menelepon saya trus,” eluh Arifin.
“Ya sudah pak kalau begitu saja juga mau pulang,” kata Trisno.
“Baik kalau begitu pak Trisno lain waktu kita bersenang-senang kembali,” sahut Arifin.
Akhirnya mereka berdua pun berjalan menuju mobil mereka masing-masing dan pulang ke rumah masing-masing.
Sesampainya di rumah Trisno berjalan memasuki kamarnya.
Terlihat Ningsih yang belum tertidur menunggu Trisno pulang.
“Malam sekali kamu pulang Mas?” tanya Ningsih.
“Iya banyak pekerjaan yang harus di bicarakan,” ujar Trisno yang merebahkan tubuhnya di samping Ningsih.
“Aku masih bersedih Mas atas hilangnya anakku tapi kamu malah tidak peduli,” eluh Ningsih kepada Trisno.
“Aku cape mau tidur,” sahut Trisno membalikkan badannya membelakangi Ningsih.
Ningsih yang bersedih melihat Trisno tidak seperti dulu lagi yang sangat perhatian kepadanya.
__ADS_1
Ningsih yang tidak mau berdebat dengan Trisno mencoba untuk diam dan kembali tidur.
Sedangkan Trisno yang sedari tadi di benak dan pikirannya hanya terdapat bayangan wajah serta tubuh Sari.
‘Aku sangat tergila-gila kepadamu Sari, kamu harus menjadi milikku,' batin Trisno sembari membayangkan wajah Sari.
Sayup-sayup mata Trisno mulai mengantuk dan Trisno pun akhirnya tertidur.
Sementara di sisi lain Gendis yang tengah tertidur dengan nyenyaknya bermimpi bertemu nyai Asih.
Di dalam mimpinya Gendis yang sedang bermimpi di tengah hutan sedang di kejar-kejar oleh sosok jenglot.
Gendis terus berlari hingga dirinya tidak berhati-hati tersandung akar pohon yang terlihat keluar dari dalam tanah.
Gendis yang terjatuh membuat si jenglot lebih mudah untuk mendekati dirinya.
“Jangan dekati aku! jangan dekati aku!” pekik Gendis di dalam mimpi.
Saat jenglot semakin dekat dengan Gendis secara tiba-tiba datang sesosok wanita entah dari mana datangnya.
Wanita itu mengenakan kebaya berwarna hijau dan berbicara kepada jenglot.
“Maaf Nyai, aku tidak tahu kalau wanita ini milikmu, aku sangat lapar,” kata sang jenglot.
“Pergilah kembali ke kotak kayu.”
“Baik Nyai,” sahut sang jenglot lalu menghilang.
Nyai Asih pun mendatangi Gendis yang terjatuh dan membantunya untuk berdiri.
“Terima kasih Bu,” sahut Gendis dengan polosnya.
“Panggil aku nyai Asih.”
“Iya Nyai Asih kalau boleh tahu siapa nyai sebenarnya?” tanya Gendis yang bingung.
“Aku pemilik makhluk yang mengejarmu tadi.”
__ADS_1
Gendis yang terkejut dengan pengakuan nyai Asih pun menanyakan kembali siapa dirinya.
“Siapa sebenarnya dirimu!” tanya Gendis dengan lantang.
“Hahaha, kamu anak bau kencur sudah berani kepadaku. Ingat Gendis di usia 17 tahun aku akan kembali lagi untuk menjemputmu karena kau telah terpilih menjadi abdiku untuk selamanya,” kata nyai Asih.
“Aku tidak mau!”
“Percuma saja kau menolak karena tidak ada yang bisa membantumu, hahahah,” sahut nyai Asih.
“Aku tidak mau! Tidak!” Teriak Gendis di dalam kamarnya.
Tini yang mendengar Gendis sedang mengigau pun bergegas menghampiri Gendis di kamarnya.
Tini membangunkan Gendis dari mimpi seram menurutnya.
Setelah itu Tini menanyakan perihal mimpi yang membuat Gendis sampai mengigau seperti itu.
Gendis pun mulai menceritakan akan teror mimpinya dengan nyai Asih.
“Gendis bermimpi wanita yang bernama nyai Asih akan datang kembali menjemput Gendis nek, di saat usia Gendis berinjak 17 tahun,” pungkas Gendis kepada Tini neneknya.
Seketika mendengar ucapan Gendis, Tini pun kaget mendengarnya lalu Terdiam.
“Nek, Nenek kok diam?” tegur Gendis.
“Ti-tidak apa-apa Gendis itu hanya mimpi sebaiknya kamu tidur kembali nanti pagi Gendis sekolah,” ujar Tini menutupi semuanya dari Gendis.
“Iya Nek,” sahut Gendis.
“Jangan
Tini sebenarnya mengetahui semua rahasia Trisno, namun karena ancaman dari Trisno anaknya akhirnya Tini merasa takut dan enggan menceritakan semua yang dia tahu kepada Gendis.
Tini yang sangat sayang kepada Gendis sehingga ia tidak mau Gendis mengetahui semua perbuatan buruk Trisno ayahnya.
__ADS_1