
Surti yang tengah berlari meninggalkan rumah Trisno menuju kebun karet mencari tempat persembunyian untuk dirinya karena secara tiba-tiba Surti mengalami rasa sakit perut yang hebat.
Saat Surti merakan saat dan tidak mampu berjalan lagi dirinya pun bersandar di pohon karet.
‘Aduh perutku sakit sekali,' eluh Surti dengan meringis merasakan sakit pada perutnya.
Sementara Iwan serta Usup yang masih mencari keberadaan Surti.
“Usup, seperti kita harus masuk ke kebun karet ini,” Iwan memberikan saran.
“Iya Wan, seperti dia bersembunyi di dalam kebun karet ini,” ujar Usup yang setuju dengan pendapat Iwan.
Mereka pun berdua masuk ke perkebunan karet milik Trisno.
Surti yang merasa kesakitan karena dirinya mengetahui akan segera melahirnya meringis kesakitan menahan rasa sakit tersebut.
Surti hanya bisa terduduk sembari menyandarkan tubuhnya di pohon karet dan memegangi perutnya.
Penampakan menyeramkan pun datang di tengah Surti sedang merasakan kesakitan.
Sang jenglot tiba-tiba berada di depan Surti.
Surti yang melihat sang Jenglot di hadapannya pun berteriak,
“Pergi! Pergi! Jangan ganggu aku!” teriak Surti.
Sang Jenglot bukannya pergi malah semakin mendekat dengan Surti lalu mulai mendekati perut Surti dan mengendus-endusnya.
“Pergi! Pergi! Jangan ambil anakku,” pekik Surti.
Usup serta Iwan yang mendengar teriakan Surti pun menghampirinya.
“Wan itu teriakan Surti?” celetuk Usup memberitahukan Surti.
“Iya Usup, itu suara teriakan Surti ayo kita cari dia,” kata Iwan sembari berlari.
Tidak berselang lama Usup dan Iwan yang mencari keberadaan Surti pun menemukan Surti yang sedang duduk bersandar di pohon karet.
“Itu Surti Wan!” celetuk Usup menunjuk keberadaan Surti.
“Iya mari kita hampiri dirinya , untung saja kita dapat menemukannya jika tidak tamat riwayat kita Usup,” ujar Iwan.
“Iya Wan, benar katamu,” sahut Usup.
Mereka berdua dua pun berlari menghampiri Surti.
“Rupanya kau di sini Surti,” celetuk Iwan yang mengagetkan Surti.
“Jangan bunuh anakku, aku mohon,” ucap Surti yang memohon kepada mereka.
Sementara sang Jenglot telah hilang ketika Usup dan Iwan datang menghampiri Surti.
“Kami tidak akan menyakitimu Surti ayo kita pulang,” ujar Iwan yang berbohong kepada Surti.
Surti mulai merasakan sakit perut yang sangat hebat, air ketuban milik Surti pun telah pecah.
“Sakit sekali perutnya, sepertinya aku akan segera melahirkan,” Surti yang merintih.
__ADS_1
“Usup Ayo kita bawa, dia mau melahirkan,” tutur Iwan yang panik.
“Iya, Wan ayo kita bawa pulang,” ujar Usup.
Usup pun mengangkat tubuh Surti membopong Surti ke rumah Trisno.
Beberapa menit kemudian. Iwan memberitahukan Trisno bahwa Surti berhasil mereka temukan.
Surti di bawa masuk ke kamarnya oleh Usup sementara Trisno memerintahkan Iwan untuk mengambili mbah Minah.
“Wan cepat kamu bawa mbah Minah sekarang juga!” perintah Trisno.
“Ba-baik bos,” ujar Iwan yang juga ikut panik.
Iwan pun bergegas keluar dari rumah Trisno menuju rumah mbah Minah dengan menaiki kendaraannya.
Iwan yang mempercepat laju motornya tidak perlu waktu yang lama untuk sampai ke rumah mbah Minah.
Iwan telah sampai di depan rumah mbah Minah lalu bergegas mengedor rumah mbah Minah.
“Mbah Minah buka pintunya,” teriak Iwan sembari mengedor pintu kayu rumah mbah Minah.
Tidak lama kemudian mbah Minah pembukaan pintu rumahnya.
“Ada apa malam-malam seperti ini mengganggu orang tidur saja kamu Iwan.”
“Ini sangat penting mbah, ayo cepat mbah Surti akan melahirkan,” Iwan yang memberitahukan mbah Minah.
Mbah Minah yang mendengar kabar Surti akan segera melahirkan dari Iwan pun langsung bergegas berjalan menuju motor Iwan yang di parkit tepat di depan rumah Mbah Minah.
Setelah itu Iwan pun membonceng mbah Minah menuju rumah Trisno dengan mempercepat laju motornya.
Mbah Minah pun segera masuk ke rumah Trisno.
Kedatangan mbah Minah di nanti-nanti oleh Trisno.
“Ayo mbah cepat, Surti sudah mau melahirkan,” ucap Trisno.
Mbah Minah pun langsung bergegas masuk ke kamar Surti.
Di atas tempat tidur terlihat Surti yang sedang merintih menahan rasa sakit.
“Aku butuh air hangat serta kain handuk, dan juga sarung, dan yang tidak berkepentingan tolong di luar saja,” ucap mbah Minah.
Lasmi serta Tini mempersiapkan apa yang di perlukan mbah Minah, Tini mencari sarung dan memberikan kepada mbah Minah.
“Ini sarungnya Mbah,” ucap Tini.
“Kamu di sini saja, bantu mbah,” mbah Minah yang meminta di Tini menemani mbah Minah.
Setelah itu mbah Minah meminta Surti untuk mengganti celana yang di pakainya menggunakan sarung.
Setelah Surti mengganti celananya dengan sarung mbah Minah mulai membantu proses persalinannya.
Tidak lama Lasmi pun datang membawakan air hangat serta handuk.
“Ini air hangatnya mbah berserta handuknya,” ujar Lasmi.
__ADS_1
“Iya Lasmi terima kasih.”
Lasmi pun keluar dari kamar Surti.
Surti pun mulai mengeluh kesakitan kepada mbah Minah.
“Sakit sekali mbah,” Surti yang merintih kesakitan.
“Ya seperti ini rasanya kalau mau proses persalinan, nanti kalau si jabang bayi sudah keluar rasanya itu pelong gak sakit lagu,” ujar mbah Minah yang sangat berpengalaman.
“Ayo Surti ikutin aba-aba dari Mbah ya,” ujar Minah.
“Dorong Surti ayo terus, kepalanya sudah kelihatan,” ujar mbah Minah menyemangati Surti.
Tidak lama kemudian tersengar suara tangisan bagi yang menggema di kamar Surti.
“Selamat Surti anakmu perempuan,” ujar mbah Minah.
Sebelum mbah Minah memberikan bayinya kepada Surti, sang bayi yang masih penuh darah serta air ketuban di bersihkan oleh mbah Minah dengan ait hangat serta handuk barulah di berikan kepada Surti.
“Ini anak mu Surti dia sangat cantik seperti dirimu,” ujar mbah Minah yang memberikan bayi perempuan itu kepada Surti.
Surti yang mengendong bayinya pun menangis terharu, Surti pun mencium bayi perempuannya.
Setelah 10 menit Surti merasakan sakit perut yang sama, seperti ingin melahirkan kembali.
“Mbah perut Surti sakit lagi, seperti ada yang ingin keluar kembali,” ujar Surti memberitahukan mbah Minah.
“Iya Surti, sudah terlihat kepalanya kembali,” sahut mbah Minah memberitahukan Surti.
Mbah Minah mulai memberi aba-aba kembali, Surti pun mulai mengikuti perintah mbah Minah.
Tidak lama kemudian, bayi laki-laki Surti pun lahir memiliki tanda lahir hitam di bahunya, namun anehnya sang bayi yang di lahirkan Surti tidak menangis sama sekali.
Mbah Minah yang mengetahui hal itu pun memberitahukan Surti.
“Mbah bagaimana anak Surti, kenapa dia tidak menangis?” Surti yang mulai panik.
“Anak keduamu laki-laki Surti, tapi–“ seketika ucapan mbah Minah terhenti takut melukai hati Surti.
“Tapi kenapa mbah? Jawab mbah?” Surti yang memaksa mbah Minah untuk memberitahunya.
“Anakmu telah meninggal ujar Surti,” ujar Mbah Minah yang memberikan bayi laki-lakinya kepada Surti.
Seketika air mata Surti pun langsung pecah, ia menangisi anak laki-lakinya yang telah tiada.
“Maafkan Mbah, Surti. Mungkin itu 7 bulan kamu mengalami pendarahan anak ini lemah dan tidak bisa tertolong,” ujar mbah Minah yang menjelaskan penyebabnya.
Surti pun memeluk kedua anaknya dan menangis.
“Maafkan ibu ya, tidak bisa menjaga kamu saat dalam kandungan,” ujar Surti kepada bayi laki-lakinya sembari menangi.
Setelah itu mbah Minah pun keluar dari kamar Surti.
Trisno langsung menghampiri mbah Minah menanyakan perihal anak yang telah Surti lahirkan.
__ADS_1