
Lasmi yang masuk ke dalam kamarnya menunggu Trisno yang sedang berada di dalam kamar ritualnya.
Jam pun sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari.
Terdengar menggema tangisan anak bayi perempuan Surti di dalam kamar ritual Trisno.
Trisno meletakan bayi itu atas meja sesaji di dekat kotak yang berisi jenglot dalamnya.
Trisno mulai melukai jari telunjuknya untuk memanggil sang jenglot, darah yang keluar dari jari telunjuk Trisno pun di teteskan ke mulut sang jenglot.
Setelah itu Trisno pun membaca mantra untuk sang Jenglot.
“Jenglot, Jenglot, Jenglot, kula mbeluk sampeyan karo getihku teka mene lan tulungaken kula. Tulung kula kon dadi sugih lan tak ke’i cabang bayi iki, Teka ... Teka ... Teka ... (Jenglot, Jenglot, Jenglot, aku memanggilmu dengan darahku datanglah dan bantu aku. Bantulah aku untuk menjadi kaya dan tak beri bayi ini, datanglah ... Datanglah ... Datanglah)” Trisno yang membaca mantra.
Seketika setelah Trisno membaca mantara itu meja sesaji menjadi bergetar dengan sendirinya dan jenglot yang berada di dalam kotak kayu itu seperti terbang jatuh kelantai.
Jenglot yang tadinya kecil berubah menjadi sosok makhluk yang besar dan tinggi dengan taring yang panjang, kuku tangan yang panjang serta mata merah yang menyala.
“Mana tumbal untukku Trisno,” ucap sang jenglot dengan suara yang berat dan mengema.
Namun Trisno tidak sempat menjawab jenglot itu mendengar suara bayi yang menangis.
Bayi yang berada di atas meja sajen pun di angkat oleh Jenglot dengan menggunakan dua tangan serta kuku tangan yang sangat tajam.
Jenglot itu mengigit leher sang bayi lalu menghisap darahnya.
Terdebgar tangis hiteris kesakitan dari bayi tersebut hingga perlahan bayi tersebut berhenti menagis.
“Segar sekali darah bayi ini, sudah sangat lama aku tidak mengisapnya,” ujar Sang jenglot menikmati setiap darah yang menetes dari leher sang bayi.
Pemandangan mengerikan pun di saksikan oleh Trisno di dalam kamar ritual itu, cara sang jenglot memakan bayi itu hingga tidak tersisa lagi.
Setelah selesai menikmati tumbal yang di berikan Trisno kepada sang Jenglot.
Jenglot itu pun berkata kembali kepada Trisno.
“Karena kau telah melaksanakan perjanjian memberikan tumbal untukku, maka sebagai imbalannya aku akan membantumu menjadi semakin kaya Trisno,” ucap sang jenglot kepada Trisno menjanjikan kekayaan yang berlimpah.
Mendengar ucapan sang jenglot Trisno sangat bahagia.
“Apa itu benar jenglot,” ucap Trisno meyakinkan dirinya kembali.
“Iya Trisno aku akan membantu mu menjadi tambah kaya dan melindungimu dari pesaing-pesaing bisnismu jadi selama aku berada di dekatmu kau tidak perlu takut, asalkan tiga tahun sekali kau sediakan tumbal yang sangat lezat seperti ini,” ucap sang jenglot.
“Baiklah jenglot aku akan menuruti kemauanmu, setiap pertiga tahun sekali aku akan mempersiapkan tumbal bayi untuk mu kembali jenglot,” ucap Trisno menjanjikan kepada sang jenglot.
“Bagus Trisno, bagus,” ucap sang jenglot lalu menghilang dan sang jenglot berubah menjadi sebuah patung kecil yang berlunuran darah, bau amis darah tercium menyeruak di seluruh ruangan itu.
Trisno yang merasa sangat senang mendengar kata Jenglot itu akan membuat dirinya semakin kaya.
Setelah ritual selesai Trisno pun keluar dari kamar ritualnya dan kembali untuk tidur.
Saat tengah mengunci pintu kamar ritualnya, Tinah baru saja datang. Trisno yang melihat Tinah datang pun menanyakan sesuatu
“Bagaimana Bu?apakah ibu sudah membuang bayi itu?” tanya Trisno.
__ADS_1
“Sudah Trisno, ibu ingin pergi ke kamar mandi membersihkan badan ibu lalu kembali ke kamar,” ujar Tini
“Bagus Bu, aku tidak meragukan pekerjaan ibu, baiklah jika begitu aku juga ingin beristirahat kembali,” ujar Trisno pergi menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar Trisno mendekati Lasmi yang sudah sedari tadi berada di tempat tidur menunggu Trisno.
“Bagaimana Mas?” tanya Lasmu.
“Ritual kita telah berhasil, dan sang jenglot menjanjikan kekayaan yang lebih untukku, dan akan menjagaku dari rekan-rekan bisnis yang berniat akan menjatuhkan bisnisku,” Trisno menjelaskan kepada Lasmu ucapan sang Jenglot itu.
“Baguslah Jika begitu,” sahut Lasmi.
“Aku ingin menikmati liburan keluar negeri jika kau telah menjadi sangat kaya Mas,” kata Lasmi kepada Trisno.
“Tenang saja Lasmi, apa pun yang kamu inginkan akan aku kabulkan selama aku punya jenglot itu.”
Sikap Lasmi kini berubah 90%, Lasmi mulai sama seperti Trisno harta, ambisi, keserakahan yang ada di benak Lasmi berserta Trisno sekarang ini.
Setelah mereka berbincang santai di tempat tidur, Trisno berserta Lasmi pun mulai mengantuk dan melanjutkan tidur mereka kembali.
Suasana hening di rumah Trisno, para penghuni yang ada di rumah Trisno pun kembali tidur
***
Keesokan harinya Surti yang sedang di pasung pun mulai terbangun, dan berteriak-teriak.
“Lepaskan aku! Lepaskan aku!” teriak Surti.
Ucup yang mendengar teriakan Surti pun terbangun.
Tidak lama kemudian Iwan pun bangun.
“Apa sih Usup mengganggu orang sedang bermimpi indah saja,” eluh Iwan.
“Itu lihat Surti sudah siuman,” kata Usup menunjuk Surti yang berada satu meter di depannya.
“Oh iya baguslah jika begitu kita tidak kena semprot sama pak Trisno,” ujar Iwan yang terlihat senang.
“Lepaskan aku! Usup dan Iwan lepaskan aku!” teriak Surti kepada merek berdua sembari menangis.
“Maafkan kami Surti, kami tidak bisa jika hal ini kami lakukan taruhannya adalah nyawa kami berdua,” ujar Iwan.
“Setidaknya kau masih di beri kesempatan hidup sama pak Trisno Surti,” ujar Usup.
“Lebih baik aku mati jika hidupku seperti ini,” Surti yang meluapkan emosinya.
Usup yang mendengar ucapan Surti menjadi sangat marah, mendatangi Surti lalu memberi tamparan sangat keras.
“Kau wanita yang tidak bersyukur Surti kau tidak tahu kami berusaha sejauh ini agak kau tetap hidup tapi malah ucapanmu seperti ini, ayo Iwan kita pergi biar kita tinggalkan saja wanita ini,” ucap Usup yang di buat geram oleh Surti.
Mereka berdua pun keluar membiarkan Surti sendirian di dalam ruangan bawah tanah dengan kondisi kaki di pasung.
Sementara Usup serta Iwan keluar dari ruangan bawah tanah itu menghampiri Trisno berserta Lasmi yang sedang menikmati sarapan paginya.
“Bagaimana keadaan Surti?” tanya Trisno kepada mereka berdua.
__ADS_1
“Dia telah sadarkan diri Bos,” ujar Usup.
“Bagus jika dia baik-baik saja, kalian berdua bawakan makanan untuk Surti setelah kalian berdua sarapan pagi!” Perintah Trisno.
“Baik Bos,” ucap Iwan.
“Bos Surti sangat marah, dia malah ingin mati saja jika di perlakukan seperti ini,” ujar Usup melaporkan kata-kata dari Surti.
“Hahahahah, dia bicara seperti itu ke kalian, biarkan saja kita liat saja nanti,” ucap Trisno yang tertawa.
Setelah Usup berserta Iwan memberitahu kondisi Surti mereka pun kembali ke pos jaga tempat mereka berdua beristirahat.
“Bos kami berdua, ingin beristirahat kembali. Semalaman kami tidak dapat tidur di sana,” kata Usup
Usup dan Iwan pun bergegas meninggalkan mereka berdua pergi ke pos jaga tempat untuk mereka beristirahat.
Trisno berserta Lasmi melanjutkan sarapan pagi kembali.
Saat mereka tengah asyik menikmati makanannya, telepon Trisno pun berdering.
Trisno yang mendengar suara teleponnya yang berdering merogoh kantongnya guna untuk mengambil ponselnya.
Setelah Trisno berhasil mendapatkan ponselnya terlihat di layar ponselnya sebuah nomor yang tidak di kenal tanpa ragu Trisno pun mengangkat telepon dari nomor tidak di kenal itu.
“Hallo pak Trisno.”
“Iya, ini dengan siapa?”
“Ini pak Arifin, yang sering ikut judi sabung Ayam di tempat pak Trisno.”
“Oh iya saya ingat, ada apa ya pak?”
“Saya mau mengajak Pak Trisno bekerja sama dalam bisnis yang saya buat.”
“Bisnis apa itu Pak?”
“Bisnis batu bara pak Trisno, saya kekurangan modal, bagaimana jika pak Trisno menanamkan saham di perusahaan saya, keuntungan hasil akan saya bagi seadil-adilnya. Atau Pak Trisno bersedia membeli perusahaan saya jadi, saya yang hanya mengelolanya pak Trisno cukup di belakang layar saja.”
“Bisa kita bertemu pak agar lebih jelas lagi, saya bertemu bapak di mana?” tanya Trisno.
“Bagaimana saat makan siang kita bertemu di restoran Idaman, sembari makan Siang.”
“Restoran Idaman yang berada di kota itu.”
“Iya Pak Trisno.”
“Baiklah jika begitu saya akan ke sana siang nanti.”
“Baiklah jika begitu pak Trisno saya tunggu terima kasih atas waktunya,” ujar Pak Arifin memerikan ponselnya.
__ADS_1