
Setelah memberikan obat kepada Surti, pak mantri pun diantar pulang oleh Iwan.
Sementara Gendis membantu Tini merawat Surti.
“Bi Surti minum obatnya ya biar cepat sembuh,” ujar Gendis yang memberikan Surti segelas air putih dan juga obat.
Surti pun mengambil obat dari tangan Gendis lalu meminumnya, setelah itu Surti pun kembali beristirahat.
Gendis yang melihat Surti tertidur pun menyelimuti tubuh Surti dengan selimutnya, Tini yang berada di belakang Gendis melihat perhatian Gendis ke Surti membuat Tini terharu mata Tini pun berkaca-kaca dan sesekali mengusapnya agar Gendis tidak mengetahui kesedihannya.
‘Maafkan Nenek, Gendis. Nenek tidak bisa memberitahukan kebenarannya semua ini kepadamu,' batin Tini sembari memperhatikan Gendis dan juga Surti.
Setelah Gendis selesai merawat Surti, ia pun mengajak Neneknya untuk keluar dari kamar Surti.
“Nek ayo kita keluar, biarkan bi Surti beristirahat,” kata Gendis yang tersenyum.
“Iya Gendis,” sahut Tini membalas senyuman Gendis.
Mereka berdua pun keluar dari kamar Surti.
__ADS_1
Beberapa hari telah berlalu Surti pun berangsur-angsur membaik, kini Gendis pun dekat dengan Surti terkadang setelah Gendis pulang sekolah Gendis menyempatkan waktu ke kamar Surti.
Surti pun kini mulai kembali tersenyum, senyum yang telah lama tidak pernah di lihat oleh Tini.
Sesekali di dalam kamar Surti, Gendis mengajak Surti bercanda. Terlihat pancaran kebahagiaan di mata Surti ketika dirinya bertemu dengan Gendis.
Namun kebahagiaan Surti itu tidak berangsur lama, Trisno yang secara tiba-tiba pulang ke rumahnya melihat Gendis di kamar Surti dan mereka mulai akrab membuat Trisno sangat murka, Trisno takut Surti akan membuka semua kepada Gendis.
Saat itu Trisno masuk ke kamar Surti dan menarik Gendis keluar dari kamarnya lalu kamar Surti pun kembali di kunci gembok dari luar.
“Pak, lepaskan tangan Gendis. Jangan kunci bi Surti kasihan bi Surti, Pak. Gendis mohon,” ujar Gendis memohon kepada Trisno.
“Tapi pak, bi Surti tidak salah apa-apa kenapa harus di kunci terus pak,” ucap Gendis sambil menahan tangan Trisno.
“Aaarghhh! Minggir!” ucap Trisno sambil mendorong Gendis.
Seketika itu Gendis terjatuh ke lantai, Tini yang meligat hal itu pun langsung menolong Gendis.
“Ada apa ini Trisno?” tanya Tini.
__ADS_1
“Bu! Jangam biarkan Gendis dekat-dekat dengan Surti.”
“Dan kamu Gendis Bapak peringatkan kamu. Jangan datang ke kamar ini lagi, kalau tidak bi Surti akan Bapak pindahkan ke ruang bawah tanah mengerti kamu!” ucap Trisno sambil mengunci kamar tersebut.
Di dalam kamar itu Surti yang mendengar ucapan Trisno itu merasa sngat sedih, tak sadar air matanya menetes.
“Nek kenapa Bapak jahat sekali sana bi Surti?” tanya Gendis.
“Sudah ya Gendis, kamu masuk ke kamar saja.”
Sambil menangis Gendis masuk ke dalam kamarnya ia merenung di kamar, terkadang terbesit di hatinya ada rasa rindu yang begitu dalam terhadap Surti, padahal mereka baru saja selesai bertemu.
Saat rumah sedang sepi Gendis kembali menghampiri kamar Surti dan berbicara di balik pintu.
“Bi Surti apa sudah merasa baikan?” tanya Gendis.
“Iya sudah,” sahutnya singkat.
“Maaf ya Bi, Gendis gak bisa melawan bapak. Tapi Gendis janji Gendis balakan sering-sering ke sini walaupun pintunya terkunci, kita masih bisa saling mendengarkan satu sama lain,” ucap Gendis.
__ADS_1