Jenglot

Jenglot
Rencana tumbal bayi kembar


__ADS_3

10 menit Iwan telah sampai di rumah Trisno dengan membawa mbah Minah.


“Ayo mbah kita sudah di tunggu,” ujar Iwan kepada mbah Minah.


Mereka berdua bergegas masuk ke rumah Trisno.


Sesampainya mbah Minah di dalam kamar Surti, ia langsung membuka perut Surti selayaknya bidan mbah Minah mengecek perut Surti, keahlian mbah Minah sebagai dukun beranak bertahun tahun tidak dapat di pungkiri  dengan sekali meraba perut Surti mbah Minah tahu dengan jelas kondisi bayi di dalam perut Surti.


Trisno yang masuk ke dalam kamar Surti menanyakan kepada mbah Minah. 


“Bagaimana mbah apakah bayinya baik-baik saja?” ujar Trisno yang panik.


“Untung saja bayi di dalam kandungan Surti sangat kuat, jadi tidak ada masalah. Mbah minta satu buah gelas?” ucap Minah.


“Ya mbah tunggu sebentar aku ambilkan,” ucap Lasmi.


Lasmi pun ke dapur untuk mengambilkan sebuah gelas kaca yang di minta oleh mbah Minah.


Setelah mendapatkan apa yang di minta oleh mbah Minah, Lasmi kembali ke kamar Surti sembari memberikan gelas yang di minta oleh mbah Minah.


“Ini mbah gelasnya, oh iya tadi darahnya sudah di bersihkan oleh ibu Tini, tapi kok masih keluar ya Mbah?”  tanya Minah.


“Aku akan memberikan ramuan ini, ramuan ini berfungsi memberhentikan pendarahan,” ujar mbah Minah yang menjelaskan kepada mereka.


Mbah Minah pun membuka kantong plastik yang di dalamnya berisi botol ramuan dan satu plastik kecil yang berisi bahan ramuan yang telah di haluskan atau di tumbuk oleh Iwan.


Mbah Minah menungkan air yang ramuan yang berada di dalam botol ke gelas kaca.


“Minum ramuan ini Surti habiskan, niscaya pendarahanmu akan cepat berhenti. Dan rasa sakit akan hilang,” kata mbah Minah memberikan segelas ramuan yang telah ia buat bersama Iwan.


Surti pun mengambilnya dan segera meminumnya.


5 menit setelah meminum ramuan dari mbah Minah pendarahan Surti pun berhenti dan rasa sakit di perutnya berangsur-angsur hilang.


“Bagaimana Surti apa perutmu masih merasakan sakit?” tanya mbah Minah.


“Alhamdullilah mbah sudah tidak lagi,” ujar Surti yang merasa baikkan.


“Sukurlah jika begitu, ini ada satu ramuan lagi yang telah mbah haluskan, mbah akan olehkan di perutmu agar perutmu tidak merasakan sakit,” ujar Mbah Minah.


Minah pun mengoleskan ramuan yang telah di tumbuk tadi ke perut Surti.

__ADS_1


Setelah cukup mengoleskan ke perut Surti, Surti pun merasakan dingin di perutnya dan benar-benar tidak merasakan sakit lagi.


Surti yang merasa mbah Minah telah berhasil menolongnya akhirnya berterima kasih kepada mbah Minah.


“Terima kasih Mbah, Mbah sudah menolong saya dan bayi ini,” ujar Surti.


“Itu sudah kewajibanku Surti sebagai dukun beranak, oh iya Mbah rasakan bayi yang ada di dalam kandunganmu tidak hanya satu melainkan kamu sedang mengandung anak kembar,” kata mbah Minah yang menjelaskan kepada Surti.


Mendengar ucapan mbah Minah Surti sangat senang sekali dan bertanya kembali kepada mbah Minah.


“Apa itu benar Mbah,” tanya Surti yang sangat bahagia mendengarnya.


“Iya Surti, biasanya prediksi tidak pernah salah,” ujar mbah Minah.


“Surti sangat senangnya mendengarnya mbah.”


“Ya sudah kalau begitu mbah mau pamit dahulu ini sudah jam 2 malam, mbah mulai ngantuk.”


“Ayo semuanya bubar biarkan Surti beristirahat, Lasmi minta tolong gantikan baju Surti yang terkena darah dan juga tempat tidurnya,” perintah Trisno.


“Iya Mas,” ujar Lasmi.


Setelah semua kembali ke kamar masing-masing Trisno pun berjalan mengantar mbah Minah ke depan pintu.


“Mbah tunggu,” ucap Trisno sembari merogoh kantong celananya mencari dompet miliknya.


“Iya Trisno,” sahut mbah Minah.


“Ini ada ucapan sebagai tandan terima kasih kepada mbah Minah,” ujar Trisno memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu kepada mbah Minah.


“Ini banyak sekali, Trisno,” celetuk mbah Minah yang tidak pernah menerima uang sebanyak itu.


“Ambil saja mbah ini belum seberapa jika mbah siap membantuku aku akan memberikan uang dalam jumlah besar apa Mbah mau?” tanya Trisno.


“Iya mbah bersedia, jika kamu butuh bantuan mbah jangan sungkan-sungkan, oh iya itu ramuan yang mbah kasih kepada Surti tolong di habiskan beritahu dia,” pungkas mbah Minah kepada Trisno.


“Baik mbah,” ujar Trisno.


Trisno pun melanjutkan langkah kakinya mengantar mbah Minah sampai di depan pintu.


Saat Trisno membuka pintu rumahnya terlihat Iwan yang tengah duduk di teras menunggu mbah Minah.

__ADS_1


“Wan antarkan mbah Minah Pulang,” kata Trisno.


“Baik Bos, ayo mbah Iwan antarkan pulang,” ucap Iwan yang menuntun mbah Trisno sampai depan motornya. 


Iwan pun akhirnya mengantar mbah Minah pulang dengan membonceng mbah Minah  Iwan mengantar mbah Minah.


Setelah itu Trisno kembali ke kamarnya terlihat Lasmi yang sudah di atas tempat tidur.


Trisno pun menghampiri sang istri ke tempat tidur untuk melanjutkan kembali tidurnya yang terganggu.


Namun Trisno teringat akan ucapan mbah Minah tentang bayi dalam kandungan Surti, Trisno pun menjelaskan kepada istrinya.


“Lasmi apa kamu ingat tadi ucapan mbah Minah jika Surti mengandung anak kembar,” ujar Trisno yang telah merencanakan niat jahatnya.


“Iya mas aku mendengarnya kenapa Mas?” tanya Lasmi.


“Ini sesuatu yang bagus, anak itu akan aku tumbalkan sekaligus, jika aku menumbalkannya dua sekali gus maka sang jenglot akan merasa senang dan aku akan tetap kaya selamanya di desa ini,” ujar Trisno tersenyum dengan jahat.


“Tapi Mas, kenapa ya perbuatan ini di hati kecilku sangat biadab sekali, aku merasa kasihan kepada Surti dan bayi yang ada di dalam kandungannya,” ujar Lasmi yang mulai tersadar perbuatannya tidak baik.


“Ah kau tahu apa Lasmi, kamu mau kita miskin lagi dan terlilit hutang kaya dulu, dan mau makan pun susah.” 


“Memang tapi kamu tidak seperti ini Mas, sekarang kamu punya rasa tega dan keji tidak seperti dulu,” Lasmi yang mulai protes kepada Trisno.


“Ah diam kau Lasmi,” bentak Trisno sembari melayangkan tamparan kencang ke pipi Lasmi.


Sontak saja Lasmi menangis, selama mereka menikah Trisno tidak pernah berbuat kasar kepada Lasmi apa lagi menampar dengan keras Lasmi.


Lasmi mulai tersadar bahwa Trisno yang dulu sudah, berubah tidak seperti dulu lagi.  


“Mas kamu sudah berubah Mas,” ucap Lasmi sembari menangis.


Lasmi memalingkan tubuhnya membelakangi Trisno.


Lasmi hanya bisa menangis namun tidak berani membantah terhadap Trisno.


Tidak ada yang berani membantah Trisno di rumah ini. 


Harta dapat merubah Trisno yang dahulu baik menjadi Trisno yang sangat keji bahkan rasa iba pun ia tidak punya.


Yang dalam benak Trisno hannyalah bagaimana dirinya akan terus menerus menjadi kaya dan kekayaannya harus selalu bertambah setiap tahun    

__ADS_1


 


   


__ADS_2