
Sementara di sisi lain Bayu yang sedang tertidur bermimpi akan Gendis.
Di dalam mimpinya Bayu bertemu dengan Gendis di sekolah Bayu pun menegur Gendis.
“Gendis tunggu,” pekik Bayu.
Gendis yang berjalan mendengar ada yang memanggilnya pun menghentikan langkah kakinya.
Gendis mulai menoleh ke arah belangnya.
Terlihat Bayu yang sedang menghampiri dirinya.
“Ada apa Bayu?” Tanya Gendis.
“Tunggu aku, kita pulang bareng,” sahut Bayu.
“Iya Bayu,” ujar Gendis.
Namun di saat Bayu melihat di belakang Gendis ada sesosok makhluk yang mengerikan di belakang tubuh Gendis.
Mahluk dengan tubuh besar, gigi taring yang panjang serta kukunya yang panjang di tambah dengan mata yang merah.
Mahluk itu menyeringai ke arah Bayu, seolah-olah marah ketika Bayu ingin mendekati Gendis.
“Gendis di belakangmu!” pekik Bayu yang menunjuk makhluk jenglot itu.
Namun Gendis tidak melihat apa-apa akhirnya jenglot itu mendekati Bayu dan ingin mencekiknya.
Perlahan Jenglot itu mendekati Bayu, namun Bayu yang sangat ketakutan berlari sekencang mungkin.
Sambil berlari Bayu mencoba menoleh ke belakang. Saat ia melihat sosok jengkot itu tidak mengejarnya Bayu berhenti berlari sampai akhirnya ternyata sang jenglot berdiri di depan dirinya lalu mencekik Bayu.
“To-tolong,” ucap Bayu seperti susah bernafas.
Bayu meronta-ronta ingin melepaskan cekikan sang jenglot itu namun karena jenglot itu lebih kuat ketimbang dirinya Bayu pun tidak bisa melepaskannya.
Sampai akhirnya Bayu mulai lemas ada cahaya putih yang datang cahaya itu membantunya melepas cekikan sang jenglot.
Lama kelamaan cahaya putih itu berubah menjadi sosok kakek berjubah putih dengan menggunakan sorban di kepalanya dan memegang tongkat serta tasbi di tangan kanannya.
“Jangan mengganggu keturunan!” ancam sang kakek.
“Mengapa kau ikut campur, pergi kalu tidak kau akan mati!” ucap Jenglot mengancam kakek berjubah putih.
__ADS_1
Dengan menghafalkan doa, tubuh jenglot itu merasakan panas.
“Panas! Panas!” teriak sang jenglot lalu menghilang.
Bayu yang melihat jenglot telah hilang berterima kasih kepada sang kakek yang telah menolongnya.
“Terima kasih kek sudah membatu Bayu, kalau boleh tahu kakek siapa?”
“Aku leluhurmu Bayu, aku akan datang di kala kau membutuhkan bantuan, berhati-hatilah dengan makhluk itu. Dia akan mencoba untuk melukaimu lagi cucuku,” ujar sang kakek lalu menghilang.
“Kek tunggu kek, tunggu!” pekik Bayu lalu terbangun dari tidurnya.
‘Astagfirullah mimpi apa aku, mimpi itu sangat menyeramkan sekali, nanti kalau bertemu Gendis di sekolah aku akan menceritakannya,' Bayu yang bermonolog.
Bayu yang terbangun dari tidur melihat jam yang ada di meja, jam menunjukkan pukul 05.00.
Bayu bergegas bangun dari tempat tidurnya untuk mandi dan mengerjakan sholat subuh.
Bayu berjalan keluar kamar menuju kamar mandi, selesai mandi Bayu pun langsung mengerjakan sholat subuh bersama sama ibu dan ayahnya.
Sekarang Anwar mengajak keluarganya untuk lebih fokus beribadah, semenjak diri hilang dan di tolong oleh kakek berjubah putih Anwar lebih mendalami agama dan tidak ingin menyekutukan Tuhan.
Selang beberapa menit mereka semua telah selesai melaksanakan ibadah, Bayu kembali ke kamarnya untuk memakai seragam sekolahnya dan mempersiapkan buku-buku yang akan di bawa.
Mereka bertiga pun sarapan bersama sembari berbincang-bincang santai.
“Bagaimana sekolahmu Nak?” tanya Anwar.
“Alhamdulillah lancar Yah,” ujar Bayu.
“Alhamdulillah kalau begitu Nak, ayah dan ibu berharap bayak kepadamu Nak, kamu harus fokus sekolah jangan mengecewakan ayah dan ibu,” Anwar yang memberi nasehat kepada anaknya.
“Iya Yah, Bayu janji tidak akan mengecewakan ayah dan ibu,” kata Bayu.
Setelah berbincang cukup lama di meja makan jam sudah menunjukkan Pukul 06.35
“Yah, Bu. Bayu berangkat sekolah dulu,” ujar Bayi yang mencium kedua tangan orang tuanya.
“Ia Nak hati-hati,” ucap Rini ibu dari Bayu.
“Iya Bu,” sahut Bayu.
Bayu pun meninggalkan mereka berdua menuju garasi tempat di mana motor besarnya berada.
__ADS_1
Sesampainya di garasi Bayu pun menyalakan motor besarnya lalu menjalankan menuju sekolahnya.
10 menit Bayu memakan waktu untuk sampai di sekolahnya. Saat Bayu ingin berjalan menuju kelas dari arah belakang ada yang memanggilnya.
“Bayu tunggu!” pekik Gendis.
Langkah Bayu terhenti mana kala mendengar seseorang memanggilnya.
“Eh Gendis,” ucap Bayu yang menoleh ke belakang.
Gendis pun menghampiri Bayu.
“Oh iya Gendis tadi malam aku mimpi buruk tentang kamu,” ujar Bayu yang ingin menceritakan mimpi buruknya kepada Gendis.
“Nanti jangan cerita dulu, di kelas aja ceritanya,” sahut Gendis.
Merek berdua pun berjalan menuju kelas mereka.
Sesampainya di kelas Bayu dan Gendis berjalan menuju bangku mereka. Barulah Bayu menceritakan mimpi buruknya kepada Gendis.
“Kamu mimpi apa Bayu?” tanya Gendis.
“Oh iya, aku mimpi ada makhluk di belakangmu sangat menyeramkan, dan makhluk itu seperti tidak suka aku dekat denganmu Gendis. Mahluk itu mencekikku tapi anehnya ada cahaya putih yang menolongku cahaya putih itu berubah menjadi sosok kakek-kakek berjubah putih, sang kakek itu yang menolongku dan kakek itu bilang kalau dia sebenarnya leluhurku,” ujar Bayu yang bercerita kepada Gendis.
“Terus bagaimana kelanjutannya Bayu?” tanya Gendis yang sangat penasaran.
“Ya setelah kakek itu bilang seperti itu dia hilang Gendis dan aku terbangun dari tidurku.”
“Bayu semoga saja mimpimu tidak menjadi sebuah peringatan buruk ya,” Gendis yang berharap.
“Iya aku takut kamu kenapa-kenapa Gendis.”
“Maksudmu Bayu?”
“Tidak apa-apa,” ujar Bayu yang menyembunyikan perasaannya kepada Gendis.
Tidak berselang lama lonceng pun berbunyi menandakan waktu pelajaran akan segera di mulai.
__ADS_1