
“Ya sudah kalau begitu, Trisno ingatkan lagi sama ibu jangan pernah mendekati kamar itu apa pun yang ibu dengar abaikan saja, Trisno tidak mau ibu kenapa-kenapa. Ibu mengertikan!” Trisno yang memperingati Tini agar tidak mendekati kamar tempat ritual itu.
Setelah semua beres Trisno pun pergi mandi.
Beberapa menit kemudian Trisno yang telah selesai mandi ingin pergi ke rumah mbah Minah.
“Mas kamu tidak sarapan dahulu?” Tanya Lasmi.
“Tidak usah Lasmi,” ucap Trisno pergi meninggalkan Lasmi.
Trisno yang berjalan keluar rumahnya menghampiri Iwan di pos jaga.
“Woi bangun! Bangun! Tidur saja!” pekik Trisno membangunkan ke dua anak buahnya.
“Eh, Bos Trisno ada apa bos pagi-pagi gini sudah rapi?” tanya Iwan.
“Pagi? Ini sudah siang Wan. Ayo cepat bangun dan ikut aku!” Perintah Trisno.
“Ke mana Bos?” tanya Iwan yang penasaran.
“Sudah tidak usah banyak tanya ujar Trisno, ayo cepat ikut!”
“Iya Bos.”
Iwan berserta Trisno berjalan menuju mobilnya, mereka berdua menaikinya dan meninggalkan rumah Trisno.
Di dalam perjalanan Iwan yang belum mengerti tujuannya mau ke mana akhirnya menanyakan kembali.
“Ini kita mau ke mana sih Bos?”
“Ke rumah mbah Minah,” ujar Trisno.
“Oh, ada apa lagi Bos kita ke sana?”
“Udah tidak usah banyak tanya!”
“Iya Bos.”
Beberapa menit telah berlalu Trisno berserta Iwan telah sampai di rumah mbah Minah.
Iwan yang memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah mbah Minah.
Setelah itu mereka berdua pun keluar dari mobil lalu menuju rumah mbah Minah.
“Mbah Minah! Mbah!” pekik Trisno memanggil mbah Minah sembari mengetuk pintu rumahnya.
Tidak lama kemudian mbah Minah pun membukakan pintu rumahnya.
“Ada apa Trisno, ayo masuk,” ajak Mbah Minah.
Mereka berdua pun masuk ke rumah mbah Minah dan duduk di kursi yang terbuat dari bambu di ruang tamu.
“Ada apa Trisno?” tanya mbah Minah kembali.
“Ada yang ingin aku tanyakan kepada mbah ini sangat penting,” kata Trisno dengan raut wajah yang sangat serius.
__ADS_1
“Apa itu Trisno?” tanya kembali mbah Minah.
“Kira-kira kapan aku bisa mendapatkan bayi Nilam mbah?”
“Oh itu ya sabar dulu, Nilam kan masih mengandung dan belum melahirkan Trisno.”
“Iya aku tahu hal itu, aku hanya ingin memastikan saja, soalnya aku hanya di beri waktu tiga bulan saja, dan selama tiga bulan aku tidak mendapatkan bayi bahaya aku akan celaka,” kata Trisno yang menjelaskan tidak secara detail kepada Mbah Minah.
Mbah Minah terdiam mengingat-ingat usian kandungan Nilam saat ini.
“Seperti kau akan mendapatkan bayi itu sesuai perjanjianmu, tiga bulan lagi Nilam akan melahirkan Trisno,” ujar mbah Minah.
“Syukurlah jika begitu, aku tidak perlu khwatir jika begitu,” sahut Trisno.
“Sudah jika begitu nanti aku akan ke rumah mbah kembali untuk mengambil bayi itu,” kata Trisno kembali.
“Iya Trisno kamu tidak perlu risau dan khawatir, mbah akan mengusahakannya,” kata Trisno.
“Ya sudah jika begitu aku ingin pulang terlebih dahulu.”
Trisno pun berpamitan pulang kepada mbah Minah.
Iwan berserta Trisno keluar dari rumah mbah Minah menuju mobil Trisno, setalah itu Trisno berserta Iwan pun masuk ke dalam mobil.
Lalu meninggalkan rumah mbah Minah menuju rumahnya.
Sesampainya di rumah terlihat Lasmi yang sudah menunggu kedatangan Trisno di ruang tamu bersama Gendis.
Lasmi ingin mengetahui kabar dari Trisno.
Trisno menghampiri Lasmi dan duduk di sampingnya.
“Kata mbah Minah, aku akan mendapatkan. Menurut perhitungan mbah Minah Nilam, akan segera melahirkan dalam waktu tiga bulan?” sahut Trisno.
“Syukurlah jika begitu Mas, kita tidak perlu khawatir kembali,” tutur Lasmi yang merasa tenang mendengar kabar dari Trisno.
“Iya Lasmi, aku tidak ingin Gendis menjadi mangsa sang jenglot itu. Aku menyayangi anak ini,” ucap Trisno yang sedang menatap wajah lucu Gendis.
“Iya Mas, aku pun sama seperti, walau pun aku tidak melahirkannya namun aku sangat menyayanginya seperti anak kandungku sendiri.”
“Oh iya bagaimana jika dia sudah besar Gendis anak menanyakan siapa Surti.”
“Aku sudah memikirkan pertanyaan itu Mas.”
“ Ya sudahlah jika begitu setidaknya aku sudah merasa tenang.”
***
Tiga bulan telah berlalu Trisno pun kembali mendatangi rumah mbah Minah untuk mengambil bayi Nilam.
Namun di saat Trisno telah berada di rumah mbah Minah, ternyata mbah Minah belum juga mendapatkan bayi dari Nilam.
“Apa mbah Nilam belum melahirkan, bagaimana ini katamu dalam tiga bulan. Tapi setelah tiga bulan kenapa Nilam belum juga melahirkan?” Trisno yang mulai panik.
“Sabar Trisno, tunggu saja dahulu, dalam waktu-waktu ini.”
__ADS_1
“Sabar! Bagaimana aku bisa tenang seperti ini jika aku belum mendapatkan bayi itu mbah,” sahut Trisno yang mulai khawatir.
“Baiklah jika begitu aku akan menunggu di rumahmu sampai aku mendapatkan bayi itu, jika aku tidak mendapatkan bayi itu. Kau akan aku bunuh Mbah,” ancam Trisno yang mulai kesal.
Trisno pun menunggu di rumah mbah Minah sampai larut malam
Terlihat Trisno yang sudah mulai panik karena sampai larut malam Nilam tidak kunjung datang ke rumah Minah.
Trisno mulai menghampiri mbah Minah.
“Bagaimana ini jika Nilam belum kunjung untuk melahirkan,” tanya Trisno yang mulai panik.
“Bersabarlah Trisno, biasanya prediksiku tidak pernah lepas,” ujar mbah Minah mencoba menenangkan Trisno.
“Baiklah jika begitu, kita lihat saja mbah. Jika prediksi mu tidak terbukti aku tidak segan-segan membunuhmu mbah,” ancam Trisno kembali.
Sementara di rumah Nilam, di saat Nilam sedang tidur di kamarnya tiba-tiba Nilam merasakan rasa sakit yang sangat hebat di perutnya serta pinggangnya.
Nilam yang tidak kuasa menahan rasa sakit itu memanggil ibunya.
“Bu! Bu! Perut Nilam sakit Bu,” pekik Nilam di dalam kamarnya yang merasakan sakit di bagian perutnya.
Mendengar teriakan Nilam, Yuli ibu dari Nilam pun terbangun.
“Pak! Nilam berterik-teriak sakit perut apa dia mau melahirkan Pak!” Yuli yang membangunkan suaminya.
“Seperti Bu, ayo kita lihat keadaan Nilam,” ujar Agus ayah dari Nilam.
Yuli berserta Agus pun pergi dari kamar menuju kamar Nilam.
Sesampainya di dalam kamar terlihat Nilam yang merintih-rintih kesakitan.
Yuli berjalan menghampiri Nilam yang sedang berada di tempat tidurnya.
“Bu sakit sekali perut Nilam,” ujar Nilam yang merintih kesakitan
“Pak sepertinya Nilam akan segera melahirkan, kita harus secepatnya pergi ke rumah mbah Minah,” ujar Yuli yang memberikan saran.
“Iya Bu, sepertinya Nilam akan segera melahirkan, ayo Bu bantu bapak memapah Nilam masuk ke dalam mobil.”
“Iya Pak.”
Nilam pun di bantu berdiri oleh kedua orang tuanya menuju mobil.
Sesampainya di mobil Nilam langsung menaikinya, sementara Agus segera menjalankan mobilnya menuju rumah mbah Minah.
Di perjalanan menuju rumah mbah Minah, Nilam selalu merintih kesakitan.
__ADS_1