Jenglot

Jenglot
Kemarahan Trisno kepada Surti


__ADS_3

Setelah mereka berdua berunding tentang bisnis batu bara itu, pak Arifin pun akhirnya berpamitan.


“Baiklah Pak Trisno besok lusa kita akan bertemu lagi, saya ijin pamit ada yang ingin saya urus,” ujar pak Arifin.


“Baiklah jika begitu pak Arifin terima kasih atas tawarannya, biar saya saja yang bayar semua makan ini.”


“Terima kasih pak Trisno, semoga bisnis kita berjalan dengan lancar.”


“Iya saya harap pun begitu pak Arifin.”


Pak Arifin pun meninggalkan Trisno lebih dahulu.


Setelah Trisno membayar semua makan yang ia pesan dan membungkus kan makan untuk orang rumah serta kedua anak buahnya Usup serta Iwan.


Trisno pun keluar dari restoran itu menuju parkiran mobil.


Sesampainya di pakiran mobil mereka pun masuk dan Iwan mulai menjalankan mobil meninggalkan restoran itu kembali ke rumah.


Di perjalanan pulang Iwan membuka obrolan kepada Trisno.


“Bos, boleh saya pinjam uang, soalnya tadi istri saya memberikan pesan chat, katanya anak saya terkena demam berdarah dan masuk ke rumah sakit,” ujar Iwan.


“Iya kamu memang butuh berapa?”


“Lima juta Bos,” ujar Iwan.


“Iya, aku tidak bawa uang nanti kalau sudah sampai di rumah akan aku kasih, dan ambil saja itu uang aku bantu kamu. Asal kamu bekerja itu benar dan menutup rapat-rapat, rahasia yang ada di diriku apa kamu mengerti Iwan?” ucap Trisno.


“Mengerti Bos, terima kasih banyak Bos, dulu saya bekerja di tempat Hendra tidak seperti Bos Trisno,” ujar Iwan mencerita masa lalunya kepada Trisno.


“Aku akan baik jika seseorang itu menurut denganku dan aku bisa menjadi jahat jika mereka menghianati aku, jadi kamu mengerti kan Wan?” ucap Trisno memperingati Iwan.


“Iya Bos saya mengerti,” sahut Iwan.


Tiga jam telah berlalu, Iwan serta Trisno yang berbincang-bincang sedari tadi tidak terasa telah sampai di depan rumahnya.


Iwan yang berada di depan pagar rumah Trisno pun menekan klakson mobil.


Mendengar klakson mobil Trisno berbunyi Usup pun segera membuka pintu pagar itu.


“Lama banget sih Usup buka pagarnya,” tegur Iwan sembari menjalankan mobil Trisno masuk ke dalam halaman rumah Trisno.


Setelah itu Trisno keluar dari mobilnya dan menanyakan kepada keadaan Surti kepada Usup.


“Bagaimana dengan Surti?” tanya Trisno.


“Surti tidak mau makan bos?” ujar Usup.

__ADS_1


“Dasar gila wanita itu membuat aku marah saja,” ucap Trisno yang marah.


Trisno pun dengan kesal menghampiri Surti di ruang bawah tanah.


Sesampainya di ruang bawah tanah, Trisno pun mendekati Surti yang sedang di pasung.


Dengan posisi jongkok Trisno mendekati Surti.


“Eh Surti kau tidak mau makan.”


“Lepaskan aku biadab!” ujar Surti yang sangat marah dengan Trisno.


“Aku tidak akan pernah melepaskanmu Surti, kau harus makan!” ucap Trisno dengan paksa.


Trisno mengambil sepiring makan di samping Surti yang tidak di sentuh olehnya sedari pagi.


Dengan sangat kasar Trisno memasukkan makan ke mulut Surti.


Namun Surti yang sangat kesal dengan perbuatan Trisno bukannya memakan makan yang di berikan Trisno malah menyemburkan makan itu keluar mengenai wajah Trisno.


Trisno yang di perlakukan seperti itu oleh Surti membuat dirinya naik pitam.


“Dasar kau wanita gila tidak berterima kasih baiklah jangan salahkan aku!” Ucap Trisno dengan sangat marah.


Trisno pun melepaskan sabuk pinggang yang di pakainya.


Setelah sabuk pinggang itu telah ia lepaskan, Trisno pun menghempaskan ke tubuh Surti


“Ampun pak Trisno, ampun!” Teriak Surti yang merasa kesakitan.


“Kau memang wanita tidak tahu di untung, kau ingin matikan, jika iya sebelum kau mati aku kan menyiksamu Surti,” kata Trisno dengan emosi.


Berulang kali Trisno mencambuk Surti melepaskan kekesalannya terhadap Surti.


Surti pun hanya bisa berteriak sembari menangis memohon kepada Trisno untuk tidak melakukan hal itu kepada dirinya.


“Maafkan aku pak Trisno, aku mohon jangan sakiti aku,” Surti yang memohon kepada Trisno dengan memegang kaki Trisno.


Merasa telah cukup meluapkan emosinya kepada Surti Trisno pun berhenti mencambuk Surti dengan sabuknya.


“Baiklah jika begitu, tapi aku ingin kau habiskan makan ini sekarang juga! Kalau tidak aku akan menyiksa mu lebih dari ini kau mengerti Surti!” ancam Trisno.


“Baik pak Trisno aku akan memakan makanan ini,” ujar Surti.


Surti mengambil makan di sampingnya dengan tangan yang gemetar, sedari kemarin memang Surti tidak makan tambah langi pendarahan, dan keinginan untuk tidak makan belum lagi Trisno yang menyiksa.


Membuat wajah Surti semakin pucat, Surti pun memakan makan itu dengan berderai air mata.

__ADS_1


“Bagus jika sedari tadi kamu menurutiku aku tidak akan memperlakukan mu seperti ini Surti, makan lah sampai habis anak pintar,” kata Trisno sembari membelai kepala Surti.


Surti pun memakan sepiring nasi itu hingga habis.


Selelah melihat makanan Surti telah habis, Trisno kembali keluar untuk memberikan Surti obat serta vitamin.


“Tunggu sebentar aku akan kembali lagi,” ujar Trisno yang keluar dari ruangan bawah tanah.


Trisno berjalan ke kamarnya untuk mengambil obat-obatan di kotak obat miliknya.


Sesampai di dalam kamar Lasmi menanyakan kepada Trisno apa yang cari sebenarnya.


“Mas kamu sedang mencari apa?” tanya Lasmi yang terbaring di kasur.


“Aku ingin memberikan obat-obatan kepada Surti,” ucap Trisno dengan singkat.


“Apa kamu masih sakit Lasmi.”


“Sudah agak mendingan Mas.”


“Baiklah jika begitu aku ingin mengobati wanita gila itu, gara-gara dia tidak tahu berbalas budi aku emosi dan menganiaya dirinya,” ujar Trisno yang menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.


“Lalu bagaimana kondisi Surti, Mas,” tanya Lasmi yang khawatir.


“Tidak apa-apa hanya dia terlihat pucat, aku akan mendatangi ibu meminta tolong untuk membatu mengobati luka Surti,” kata Trisno kepada Lasmi.


“Iya Mas.”


Trisno pun keluar dari kamarnya dengan membawa kotak obat, lalu Trisno menghampiri ibunya menceritakan semua yang terjadi kepada Surti.


Setelah itu Trisno mengajak ibunya untuk membatu dirinya mengobati Surti.


Trisno dan Tini mulai mengobati tubuh Surti yang saat itu berada di ruang bawah tanah.


Tini pun menghampiri Surti dan meminta Surti untuk melepas pakaiannya.


“Surti buka baju kamu biar Ibu obati,” pinta Tini.


Surti pun perlahan membuka bajunya terlihat jelas tubuh Surti membiru serta lebam akibat sabetan sabuk dari Trisno.


“Mengapa kau lakukan ini kepada Surti, kasihan dia Trisno,” ucap  Tini yang merasa iba terhadap Surti.


“Sudah lah Bu, Ibu obati saja dia itu,” sahut Trisno.


Tini mengoleskan salap ke tubuh Surti, Surti meringis menahan perih pada kulitnya, setelahnya Surti diberikan obat pereda nyeri serta vitamin.


Setelah mereka berdua telah selesai mengobati Surti mereka pun keluar dari ruangan bawah tanah.

__ADS_1


   


        


__ADS_2