
Di malam harinya Trisno yang telah berpakaian sangat rapi pun ingin pergi menemui pak Arifin yang memang sedari siang tadi mereka sudah janjian ingin bertemu.
“Mau ke mana Mas?” tanya Ningsi.
“Aku mau ke tempat pak Arifin, Ning”
“Pulangnya jangan malam-malam Mas,”
“Iya Ning, aku pergi dulu,” ujar Trisno.
Ningsih pun mencium tangan Trisno sebelum dirinya pergi dari rumah.
Trisno yang telah berada di dalam mobil pun mengemudikan mobilnya pergi menemui Arifin.
Di dalam perjalanan Trisno menelepon pak Arifin untuk mengetahui di mana di mana ia harus menemui pak Arifin.
“Hallo pak Arifin di mana kita ketamuan?”
“Di bala desa saja Pak Trisno kebetulan di sana ada acara.”
“Oke kalau begitu saya meluncur ke sana.”
__ADS_1
“Siap pak Trisno, oh iya pak Trisno tidak membawa istrikan?”
“Hahah, pak Arifin baru mengenal saya. Dari dulu jika bertemu dengan pak Arifin saya tidak pernah membawa istri saya.”
“Baiklah jika begitu pak Trisno, saja mau mengenalkan biduan cantik kepada pak Trisno, saya yakin pasti pak Trisno suka.”
“Hahah tahu aja nih pak Arifin baik kalau begitu saya akan sampai secepatnya,” ujar Trisno yang mematikan teleponnya.
Triano pun memperlaju kecepatan mobilnya, hingga akhirnya Trisno telah sampai di tempat pak Arifin.
Triano pun memarkirkan mobilnya, setelah itu menghampiri pak Arifin yang tengah berjoget ria dia tas panggung sembari menyawer artis biduan.
Melihat Arifin yang sedang berjoget ria di atas panggung Trisno pun tidak mau kalah, ia menghampiri Arifin di atas panggung dan ikut berjoget ria sembari memberikan saweran kepada biduannya yang menyanyi saat itu.
Keseruan Trisno saat itu membuat ia lupa akan masalah-masalah yang menghampirinya.
Sesekali sang biduan pun menggoda Trisno dengan goyangannya di atas panggung.
“Ayo Mas Trisno sawerannya,” ucap si biduan sembari bernyanyi.
Trisno pun menuruti ucapan sang biduan ia merogoh kantong celananya dan mengeluarkan lembaran uang untuk menyawer sang biduan itu.
__ADS_1
Hingga beberapa jam telah berlalu Trisno pun masih asyik bergoyang di atas panggung itu dengan sang biduan, hingga malam pun semakin larut acara pun telah selesai Trisno menghampiri sang biduan itu yang telah turun di atas panggung menunggu dirinya di jemput.
“Mau Mas antar pulang mbak,” ujar Trisno yang mulai melancarkan rayuan mautnya.
“Emm, sebenarnya mau sih Mas, tapi suami saya sudah di jalan mau menjeput,” kata Si biduan.
“Wah mbaknya sudah punya suami?” tanya Trisno yang kaget.
“Iya sudah Mas, tapi ya gitu suami saya tidak kerja, kerjaannya hanya di rumah dan mengantar jemput saya.”
“Kalau begitu kapan-kapan saya ajak makan malam bisa kan, boleh minta nomor Hp mbaknya.”
“Bisa saja kok Mas, tulis namanya Sari dan ini nomor HP saya 0812XXXXX,” ujar Sari.
“Baik kalau begitu, ini hadiah buat mbak Sari untuk beli baju,” kata Trisno yang memberikan Sari beberapa lembar uang ratusan.
Tidak lama suami Sari pun datang.
“Mas Trisno, Sari duluan ya terima kasih hadiahnya nanti kapan-kapan kita bertemu kembali,” ujar Sari yang berjalan meninggalkan Trisno.
Trisno pun terkesima melihat kemolekan tubuh dari belakang saat Sari berjalan menghampiri suaminya.
__ADS_1
Tidak hanya kemolekan tubuh Sari yang membuat Trisno terkesima paras serta gunung kembar Sari yang ukurannya sangat besar membuat Trisno berkali-kali menelan salivanya.