
Keesokan pagi Trisno dan juga Ningsih yang telah selesai menyantap sarapan pagi bersiap-siap ingin pergi ke dokter untuk memeriksakan kandungan Ningsih yang hilang.
“Ayo Ning kamu sudah siap?” tanya Trisno.
“Iya Mas tunggu sebentar ujar Ningsih yang masih merias wajahnya.
Setelah selesai merias wajahnya Ningsih pun berjalan keluar kamar menghampiri Trisno yang sudah menunggu sedari tadi di ruang tamu.
“Ayo Mas, aku sudah selesai,” ucap Ningsih menegur Trisno.
“Lama sekali Ning, aku sampai ketiduran menunggumu,” ujar Trisno yang menggerutu.
“Aku masih dandan Mas, masa istri Pak Trisno pengusaha batu bara di liat orang jelek,” sahut Ningsih.
“Ayo Mas,” ajak Ningsih kembali.
Mereka berdua berjalan menghampiri mobil Trisno yang terpakir di garasi rumah.
Sesampainya di depan mobil Trisno beserta Ningsih pun masuk ke dalamnya, dan Trisno yang mengemudikan mobil.
Trisno mulai menjalankan mobilnya ke rumah sakit.
Di perjalanan menuju rumah sakit sesekali Trisno melihat Ningsih yang tampak diam saja tidak seperti biasanya.
Melihat Ningsih seperti itu Trisno pun menanyakan kepada Ningsih.
“Kamu kenapa Ning, kok diam saja?” tanya Trisno.
“Mengingat bayi ini hilang dalam kandunganku Mas, aku merasa sedih,” sahut Ningsih yang kembali melihat perutnya tidak lagi besar.
“Sudahlah jangan bersedih setidaknya kamu tidak apa-apa,” kata Trisno mencoba menenangkan Ningsih.
“Iya Mas, tapi aku sangat mengidam-ngidamkan menjadi seorang ibu tapi semua menjadi seperti ini. Mimpi itu Mas benar-benar terjadi dan membuatku takut.”
“Ning itu hanya mimpi tidak ada kaitannya dengan kandungan mu,” sahut Trisno menegaskan kepada Ningsih.
__ADS_1
“Tapi Mas mimpi itu terbukti nyata bukan.”
“Sudahlah aku malas membahas soal mimpi itu,” ujar Trisno yang menutupi kebenaran yang ia ketahui.
Berapa jam kemudian saat mereka berdua telah berdebat di dalam mobil tidak terasa Trisno telah sampai di parkiran mobil di rumah sakit.
Trisno pun mematikan mobilnya dan mengajak Ningsih untuk turun dari mobil.
“Ayo Ning,” ajak Trisno.
Hati Ningsih sebenarnya masih kesal dengan Trisno, karna Trisno tidak pernah mau percaya apa yang di katakan oleh Ningsih.
“Iya Mas,” sahut Ningsih dengan singkat.
Mereka berdua pun berjalan menuju ke rumah sakit. Sesampainya di dalam rumah sakit Trisno pun mendaftarkan Ningsih dan menunggu namanya di panggil.
Tidak menunggu waktu lama nama Ningsih pun di panggil dan segera masuk ke ruangan dokter di temani oleh sang suami.
Sesampainya di ruangan Dokter, Ningsih di tanyakan olah Dokter keluhan sebelumnya setelah itu Dokter memeriksa Ningsih.
Beberapa menit setelah Ningsih di periksa Dokter pun dapat menyimpulkan apa yang telah di alami oleh Ningsih.
“Menurut pemeriksaan saya dan saya telah menyimpulkan bahwa istri anda mengalami kehamilan palsu, ya gejalanya seperti orang hamil pada umumnya, tapi sebarnya janin itu tidak ada,” sahut Dokter yang menjelaskan kepada mereka berdua.
“Tidak mungkin Dok, saya sering periksa kehamilan dan baru seminggu USG. Bayi ada di foto USG dan sehat, tapi saat berusia tujuh bulan dan saya bermimpi tentang makhluk yang menyeramkan kandungan saya hilang Dok,” Ningsih yang menjelaskan kronologi kepada sang Dokter.
“Maaf ya Bu Ningsih dan bapak Trisno menurut pengamatan dan pemeriksaan saya seperti itu, dan di dalam hal medis sendiri bukannya saya tidak memercaya apa yang ibu Ningsih alami tapi di dalam hal medis sendiri hal mistik memang tidak ada,” pungkas Dokter kepada mereka berdua.
“Baik Dok, saya mengerti maafkan istri saya,” ujar Trisno.
Mereka berdua pun keluar dari ruangan Dokter, Sang dokter pun membisikan sesuatu kepada Trisno.
“Istri bapak butuh perhatian yang lebih mungkin ibu Ningsih sedang mengalami depresi,” bisik Dokter kepada Trisno.
“Baik Dok,” sahut Trisno lalu pergi meninggalkan sang Dokter.
__ADS_1
Trisno berserta Ningsi telah masuk ke dalam mobil. Trisno mulai menjalankan mobilnya meninggalkan rumah sakit dan kembali mengantar Ningsih pulang.
Di dalam perjalanan mereka berdua membahas apa yang di ucapkan oleh Dokter itu.
“Kamu sudah dengar sendiri Ning, yang di jelaskan oleh Dokter bahwa itu kehamilan palsu.”
“Mas, aku yang merasakan dan aku yang lebih tahu Mas,” ucap Ningsih.
“Udahlah aku cape sama sikapmu,” ujar Trisno yang enggan berdebat dengan Ningsih.
Tidak lama terdengar suara ponsel milik Trisno berbunyi.
“Hallo, pak Trisno.”
“Oh iya Pak Arifin ada apa ya?”
“Begini pak, saya mau mengajak pak Trisno mencari hiburan malam ini apa pak Trisno sibuk?”
“Seperti tidak Pak.”
“Baik jika begitu nanti malam kita ketamuan saja pak Trisno.”
“Oke pak atur saja.”
“Baik kalau begitu pak Trisno,” ucap Arifin mematikan teleponnya.
Mendengar ada yang menelepon Trisno Ningsih pun bertanya kepadanya.
“Siapa itu Mas?”
“Pak Arifin rekan kerja ku.”
“Oh,” sahut Ningsih dengan singkat.
Tidak lama kemudian mereka berdua pun sampai di rumah.
__ADS_1