Jenglot

Jenglot
Keinginan Trisno kawin lagi


__ADS_3

Surti pun mendengar ucapan Gendis di balik pintu kamarnya mencoba menghibur Gendis.


“Iya Gendis tidak apa-apa bi Surti baik-baik saja, jangan melawan apa kata bapakmu,” kata Surti di dalam kamarnya.


Surti sangat mengerti sikap jahat Trisno dan tidak mau jika terjadi apa-apa kepada Gendis darah dagingnya sendiri.


“Iya Bi,” sahut Gendis di balik pintu Surti.


Dari kejauhan Gendis melihat Iwan yang masuk ke dalam rumah, Gendis mengetahui jika Iwan dan Usup di suruh Trisno untuk mengawasi Gendis agar tidak mengunjungi Surti kembali.


“Bi Surti, nanti kita lanjut mengobrolnya ya, ada om Iwan masuk ke rumah ini Gendis mau ke kamar dulu pura-pura tidur,” ujar Gendis yang berbicara di balik pintu kamar Surti.


“Iya Gendis,” sahut Surti.


Gendis pun berjalan dan kembali masuk ke dalam kamarnya, setelah itu Gendis menaiki tempat tidurnya lalu merebahkan tubuhnya memejamkan matanya berpura-pura untuk tidur.


Iwan yang telah masuk ke dalam rumah pun mulai mengecek keadaan Gendis di kamarnya dan terlihat Gendis sedang tertidur.


Melihat Gendis yang tertidur Iwan menutup kembali pintu kamar Gendis dan kembali ke pos jaga.


Saat Iwan tengah sampai di pos jaga ponsel Iwan pun berbunyi, Iwan dengan cepat langsung mengambil ponselnya yang berada di meja, setelah mendapatkan ponselnya Iwan  melihat panggilan masuk dan ternya itu dari Trisno.


“Hallo Bos,” ucap Iwan di dalam teleponnya.


“Bagaimana keadaan Gendis apa dia masih menemui Surti.”


“Aman Bos, tadi saya baru mengeceknya dan ternya Gendis sedang tidur di kamarnya.”


“Bagus jika begitu, awasi terus anak itu jangan sampai Gendis mendekati Surti kalian mengerti!”


“Siap Bos, kami mengerti.”


Trisno pun mematikan teleponnya.

__ADS_1


Sementara di sisi lain Trisno yang sedang berada di dalam mobil bersama seorang wanita.


“Ada apa Mas, Sari lihat Mas khawatir,”  ujar Sari sang biduan yang membaut Trisno jatuh hati.


“Tidak papa Sari, kita mau ke mana?” kata Trisno.


“Terserah mas Trisno saja,” sahut Sari.


“Oh iya Sari, aku mau kamu menikah denganku dan tinggalkan suamimu itu.”


“Sebenarnya, aku ingin menikah dengan mu Mas dan meninggalkan suamiku tapi aku tidak bisa Mas,” ucap Sari yang bingung.


“Memangnya kenapa?” tanya Trisno yang sangat antusias.


“Waktu dahulu ibuku sangat berhutang budi dengan suamiku Mas, dan bagaimana pun keadaan kami ibu tidak mau kami bercerai, itu alasannya Mas,” Sari menjelaskan kepada Trisno.


“Lalu bagaimana cara agar aku bisa menjadikanmu istriku Sari,” tanya Trisno.


Ucapan Sari yang tidak sengaja membuat rencana jahat muncul di pikiran Trisno.


‘Baiklah jika begitu Sari aku akan menghabisi suamimu dengan bantuan Jenglot dan aki dapat menjadikanmu sebagai istriku,' batin Trisno.


“Mas, Mas, kok malam diam, hati-hati Mas mengemudikan mobil jangan tidak fokus” kata Sari menasihati Trisno.


“Iya sayangku,” ucap Trisno sembari mencubit dagu Sari.


Beberapa jam kemudian Trisno telah sampai di parkirkan Mall. Trisno pun mematikan mobilnya dan mengajak Sari keluar dari dalam mobil.


“Ayo Sayang,” kata Trisno sembari menggandeng tangan Sari.


Trisno berserta Sari pun berjalan memasuki mall, sesampainya di dalam mall Trisno mengajak Sari ke toko baju yang mempunya brand ternama.


“Sari kamu boleh ambil apa saja yang kamu sukai,” kata Trisno.

__ADS_1


“Serius Mas,” sahut Sari yang sangat bahagia.


“Iya aku serius ambil saja yang kamu mau,” kata Trisno dengan tersenyum.


“Terima kasih, Mas memang terbaik,” puji Sari sembari mencium pipi Trisno.


 Sari pun mengambil beberapa baju yang ia sukai dengan harga yang terbilang cukup menguras kantong.


Tapi tidak dengan Trisno, karena bisnis ilegal Trisno berada di mana-mana di tambah lagi kebun karet serta sawit yang tiap bulan menghasilkan untuknya, belum lagi bisnis batu baranya yang mencapai omset yang sangat fantastis.


Setelah Sari merasa cukup Trisno pun membayar semua baju yang di ambil oleh Sari, setelah itu Trisno mengajak Sari untuk makan siang barulah Trisno mengantar Sari pulang.


“Mas aku turun di sini saja,” pinta Sari.


“Kenapa tidak sampai rumah saja,” kata Trisno.


“Mas ingat aku masih berstatus menjadi istri orang, maafkan aku mas,” sahut Sari.


“Ya aku mengerti” kata Trisno yang kesal.


Sari pun turun dari mobil Trisno, setelah itu Trisno meninggalkan Sari, Sari yang melihat mobil Trisno sudah menjauh akhirnya berjalan kaki menuju rumahnya yang tidak terlalu jauh dari jalan raya.  


Sementara di sisi lain Trisno sangat menginginkan Sari menjadi istrinya kedekatan Trisno dengan Sari membuat hasrat ingin memiliki Sari semakin menggebu-gebu.


Kini di benak Trisno hanya Sari semata, sementara Ningsih sekarang tidak terlalu di pedulikan oleh Trisno bahkan Trisno pun jarang pulang ke rumah Ningsih kembali.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2