
Di malam harinya Trisno kembali pulang ke rumahnya untuk menjalankan ritual memberi makan Jenglot.
Trisno sudah mempersiapkan perlengkapannya terlebih dahulu saat sore hari dirinya menelepon Iwan serta Usup untuk membelikan segala perlengkapan ritualnya.
Seperti biasa Trisno telah masuk ke kamar khususnya di dalam kamarnya itu Trisno mulai memberikan makan sang jenglot dengan meneteskan darahnya dan juga darah ayam cemani.
Setelah ritual memberikan makan Jenglot telah selesai Trisno memanggil Jenglot dan meminta tolong kepadanya.
Sontak saja jenglot yang berada di kotak kayu pun bergetar dengan kerasnya lalu menghilang berubah menjadi sosok makhluk yang besar.
“Ada apa kau memanggil diriku Trisno?” tanya Jenglot dengan suara berat serta menggema.
“Aku ingin meminta tolong kepada mu Jenglot.”
“Apa yang kau minta Trisno?”
“Aku ingin suami Sari mati, karena aku sangat mencintai Sari dan ingin menjadikannya istri, jika suaminya hidup aku tidak akan bisa menjadikannya Sari istriku. Apa kau bisa membunuhnya jenglot.”
“Hahahah apa kamu meragukanku Trisno, hal yang sangat mudah untukku, besok mungkin kau akan mendengar kabar yang membuatmu sangat gembira,” ujar jenglot.
“Baguslah jika begitu jenglot aku tidak pernah meragukanmu,” puji Trisno.
Setelah itu makhluk jenglot pun hilang di hadapan Trisno.
Trisno yang merasakan bahagia mendengar ucapan dari jenglot pun keluar kamar dan kembali ke kamarnya.
Sesampainya di kamarnya Trisno kembali berjalan menuju tempat tidurnya, setelah itu Trisno merebahkan dirinya di atas tempat tidur.
Sayup-sayup mata Trisno mulai mengantuk sampai dirinya pun mulai tertidur dengan lelap.
Sementara di sisi lain Sari sedang ada panggilan manggung di malam itu dan acaranya pun telah selesai.
Seperti biasa Sari menelepon suaminya untuk menjemputnya, Sari pun merogoh tasnya dan mengambil ponselnya.
__ADS_1
Setelah ponselnya ia dapatkan Sari pun langsung menelepon suaminya.
“Hallo Bang, kamu di mana?” tanya Sari dalam telepon.
“Iya sayang, aku di rumah kamu sudah selesai?”
“Sudah Bang, baru saja selesai.”
“Oke kalau begitu aku jemput kamu ya sayang.”
“Iya Bang, aku tunggu ya, jangan lama-lama ya.”
“Iya sayang,” ucap sang Suami sembari menutup telepon dari Sari.
Haris suami Sari pun tengah bersiap-siap pergi menjemput Sari, Haris mengambil jaketnya yang di gantung di kamarnya lalu memakainya.
Setelah itu Haris yang tengah terburu-buru keluar dari rumahnya mendatangi motor kesayangannya.
Haris mulai menaiki motornya lalu menjalankannya meninggalkan rumahnya menuju tempat Sari.
Awalnya saat Haris sudah berada di jalan raya tidak ada sesuatu yang mengganggunya namun beberapa menit kemudian Haris mulai merasakan hawa tidak enak bulu kuduknya mulai berdiri hawa dingin mulai ia rasakan saat berkendaraan.
Karena kaget Haris mencoba menoleh di belakangnya tapi tidak melihat apa-apa.
‘Ah mungkin itu hanya halusinasiku,' batin Haris sembari tetap fokus mengemudikan motornya.
Haris pun mencoba mengabaikan apa yang ia lihat dan mencoba berpikir positif dan tetap fokus mengemudikan motornya.
Hingga ia tidak sengaja melihat kembali di kaca spion motornya makhluk itu berada di belakangnya.
Haris kembali panik dan mulai takut, makhluk itu pun mulai menyerangnya dengan cara mencekik Haris dari belakang.
Haris pun merasa tidak dapat bernafas, ia merasa sesak dan Haris mencoba melepaskan cekikan makhluk itu yang berada di belakangnya.
Haris mulai tidak fokus berkendaraan sesekali dirinya ingin menabrak mobil namun Haris tetap berusaha untuk fokus mengemudikan motornya sampai akhirnya.
__ADS_1
Haris mulai benar-benar kesusahan bernafas dan mulai tidak fokus mengemudikan motornya sampai akhirinya Haris mulai oleng dan menabrak truk yang sedang menyelip dirinya.
Bruk
Suara benturan keras
Haris terpental dari motornya dengan helm yang terlepas dari kepalanya.
Cairan berwarna putih bercampur darah keluar dari kepala Haris yang retak akibat benturan di aspal jalan.
Haris pun sempat kejang-kejang di aspal jalan sampai akhirnya menembuskan nafas terakhirnya.
Jalan mulai macet karena tubuh Haris yang berada di tengah jalan raya.
Para pengendara motor dan para warga yang melihat pun tidak berani untuk memindahkan tubuh Haris yang tergeletak di jalan.
Hingga salah satu warga ada yang menelepon polisi serta ambulans, jasad Haris di biarkan begitu saja di tengah Jalan dengan di tutup oleh koran bekas di bagian kepala para warga pun tidak ada yang berani menyentuh jasad hingga polisi datang ke TKP.
Beberapa menit kemudian suara sirene ambulans dan polisi bersahut-sahutan.
Jasad Haris pun langsung di angkat dan di masukkan ke dalam ambulan sedangkan polisi mengamankan sopir truk berserta truknya, setelah itu pihak polisi pun menelepon Sari istri Haris, bahwa suaminya. mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat.
“Hallo selamat malam dengan ibu Sari.”
“Iya Pak ini dengan siapa.”
“Kami dari pihak kepolisian ingin mengabarkan bahwa suami ibu mengalami kecelakaan dan sekarang sedang berada di rumah sakit Harapan Kita.”
Mendengar hal itu membuat Sari syok dan langsung mematikan ponselnya Sari tidak percaya dan mulai menangis Sari meminta tolong kepada rekan timnya bernyanyi untuk mengantarkannya ke rumah sakit.
Rekan kerjanya pun sangat terkejut mendengar cerita Sari dan akhirnya mereka membantu mengantarkan Sari ke rumah sakit.
__ADS_1