
Setelah meminum ramuan dari mbah Minah kondisi Surti berangsur-angsur membaik dan Surti melanjutkan perkerjaannya lagi seperti biasa.
Dua bulan telah berlalu kandungan Surti sudah memasuki usia 9 bulan tinggal menunggu hari saja untuk dirinya melahirnya.
Dan di bulan ini pun sudah memasuki 3 tahun, Trisno memelihara jenglot itu.
Di malam Jumat di waktu Trisno sedang melakukan ritual memberi makan sang jenglot di tengah malam tanpa tidak sengaja Surti terbangun dari tidurnya. Dan Surti yang tidak bisa tidur karena selalu bermimpi menyeramkan.
Surti keluar dari kamarnya karena merasa bosan di dalam kamar, Surti berinisiatif pergi ke depan teras rumah Trisno untuk mencari udara segar.
Surti pun berjalan menuju pintu utama, secara kebetulan Surti melewati kamar ritual Trisno.
Surti yang secara tidak sengaja mendengar Trisno sedang berbicara dengan seseorang.
Suranya begitu besar dan berat, Surti yang merasa sangat penasaran pun mulai mengintip di celah pintu kamar ritual itu sembari mendengarkan Trisno berbicara dengan siapa.
Sepengetahuan Surti, di kamar itu tidak ada orang lain yang boleh masuk kecuali Trisno.
“Trisno mana tumbal bayi yang kau telah sepakati!” ucap jenglot menagih perjanjian Trisno.
“Tunggulah Jenglot, Surti masih belum melahirkan, jika Surti sudah melahirkan akan aku beri kedua bayi kembar itu untukmu, agar aku tetap menjadi orang terkaya di desa ini,” ucap Trisno kepada sang Jenglot.
“Ini sangat mudah Trisno semua yang kau inginkan akan aku kabulkan, asalkan kau menepati perjanjian yang pernah kita sepakati,” sahut sang jenglot mengingatkan Trisno.
“Tenang saja Jengkot, aku tidak akan melanggar perjanjian yang telah kita sepakati,” ujar Trisno.
“Aku sudah tidak sabar lagi Trisno,” ujar sang jenglot
Surti yang melihat Trisno berbicara dengan makhluk yang ia pernah lihat dan yang sering menggagu di dirinya di dalam mimpi pun begitu sangat terkejut.
‘Jadi selama ini makhluk yang mengganggu diriku itu adalah peliharaan pak Trisno, aku kira selama ini mereka baik denganku karena rasa iba dan tulus, ternyata aku salah menilai mereka, mereka semua hanya mengincar bayi yang aku kandung untuk di jadikan tumbal. Sebaiknya aku pergi dari rumah ini, sebelum mereka tahu,' batin Surti.
Tanpa pikir panjang Surti pun mengendap-endap ke luar dari rumah Trisno.
Surti yang sudah berada di teras rumah Trisno berjalan menuju pagar rumah Trisno.
Namun di saat dirinya ingin membuka pintu pagar itu, ternyata pintu pagar itu di kunci oleh Iwan serta Usup.
__ADS_1
Surti pun memberanikan diri mengendap-endap ke pos jaga tempat Iwan serta Usup.
Pos jaga itu juga terlihat Usup dan juga Iwan tengah tertidur pulas di atas ranjang yang ada di pos tersebut.
Dengan perlahan Surti melangkah masuk ke dalam pos itu, Surti mencari-cari di mana letak kunci tersebut.
Hingga ia melihat sebuah kunci tergantung di tembok dekat pintu, dengan cepat Surti mengambil kunci tersebut dan keluar dari pos jaga itu.
Surti yang berjalan secara mengendap-endap telah sampai di depan pintu pagar.
Surti yang panik membuka pintu pagar itu dengan kunci yang berhasil ia ambil, berulang kali salah memasukkan kunci itu dan sampai akhirnya Surti dapat membuka pintu pagar itu.
Surti mencoba berlari menjauhi rumah Trisno. Saat itu malam sudah semakin larut jam pun sudah menunjukkan pukul 01.00 malam tidak ada orang sama sekali yang Surti lihat.
Surti berjalan ingin keluar dari desa itu, karena jika dirinya tetap di desa itu dan meminta tolong kepada warga desa semua akan sia-sia, warga desa tidak akan ada yang percaya dengan ucapannya, sedangkan Trisno sendiri adalah seorang juragan kaya dan terpandang di desa itu, apa pun ia bisa lakukan itu yang ada di benak Surti saat itu.
Sementara Trisno yang tengah selesai ritual keluar dari kamar ritualnya.
Entah kenapa Trisno ingin sekali melihat kondisi Surti di kamarnya.
Saat Trisno berjalan ke kamar Surti dan membuka pintu kamar Surti terlihat Surti tidak ada di kamarnya.
Trisno mulai menjadi panik ia mencoba keluar rumah.
Saat Trisno keluar rumah dari kejauhan Trisno melihat pintu pagarnya terbuka dan ada kunci yang masih menempel di pintu pagar itu.
Trisno pun tidak melihat Iwan berserta Usup jaga saat itu.
‘Kurang ajar dia berhasil kabur rupanya, dan sudah tahu rencanaku. Ini tidak bisa di biarkan aku harus menemukan Surti,” gumam Trisno dengan sangat kesal.
Trisno pun lalu berjalan menghampiri pos jaga, sesampainya di sana Trisno di buat kesal kembali melihat kedua anak buahnya sedang tidur tidak berjaga malam ini.
“Iwan, Usup bangun!” bentak Trisno membangunkan mereka berdua.
“I-iya Bos ada apa?” tanya Usup yang terkejut.
“Bodoh kalian! Surti kabur kalian berdua tidak ada yang tahu!” ucap Trisno dengan begitu kesal.
__ADS_1
“Ah, tidak mungkin Bos, dia kabur kunci sendiri ada di-,” ucap Iwan yang terhenti melihat kunci di letakan di dinding hilang.
“Bodoh kalian semua! Pintu pagar terbuka Surti berhasil mengambil kunci saat kalian tidur, aku tidak mau tahu pokoknya kalian cari Surti malam ini sampai dapat, jika tidak riwayat kalian berdua akan tamat!” ancam Trisno kepada kedua anak buahnya.
“Ba-baik Bos,” ucap serentak Iwan serta Usup.
Iwan serta Usup pun langsung berlari keluar pagar guna mencari Surti yang telah kabur.
Sementara Trisno masuk kembali ke kamar ritualnya ia pikirannya sudah buntu dan panik saat mengetahui Surti yang kabur dari rumahnya.
Sesampainya Trisno di kamar ritual dirinya mencoba memanggil makhluk jenglot itu guna untuk meminta tolong menemui keberadaan Surti.
Sang jenglot pun muncul di hadapan Trisno. Trisno pun langsung mengutarakan keinginannya.
“Ada apa Trisno kau memanggilku,” ujar sang Jenglot.
“Aku meminta bantuanmu untuk membantu mencari Surti, karena Surti telah kabur dari rumah ini dan seperti telah mendengar percakapan kita berdua, aku mohon kau bisa membantuku,” ujar Trisno.
Sang jenglot pun sangat marah kepada Trisno.
“Kau sangat bodoh Trisno, jika aku tidak dapat tumbal kau berserta istrimu yang akan jadi gantinya!” ancam sang jenglot.
“Ja-jangan Jenglot aku mohon bantu aku mencari keberadaan Surti,” ujar Trisno yang duduk menundukkan kepalanya hingga mencium lantai, memohon sembari menyembah sang jenglot.
“Baiklah aku akan membantumu dan memberikan kau kesempatan,” ujar sang Jenglot lalu pergi.
Mendengar ada keributan di luar kamar Lasmi pun terbangun dari tidurnya ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Saat Lasmi keluar dari kamar kebetulan Trisno pun keluar dari kamar ritualnya, Lasmi yang mengetahui itu langsung menanyakan kepada Trisno apa yang sebenarnya terjadi.
“Ada apa Mas, aku dengan ribut-ribut,” ujar Lasmi yang tidak tahu apa-apa.
Trisno pun memberita Lasmi apa yang terjadi sebenarnya.
“Surti telah kabar dari rumah ini,” pungkas Trisno.
“Apa kabur, kok bisa Mas?” ujar Lasmi.
__ADS_1
Lasmi entah merasa senang atau tidak mendengar kabar Surti telah kabur.
Karena di sisi lain nyawa bersama Trisno akan terancam jika mereka berdua tidak menyediakan tumbal untuk sang jenglot.