
“Baiklah jika begitu mbah, saya percayakan kepada Mbah Kusno. Ini ada tanda sebagai ucapan terima kasih untuk Mbah,” ujar Anwar memberikan amplop coklat yang di dalamnya berisikan uang.
“Iya tenang saja, Mbah ini tidak pernah gagal dalam hal menyantet orang,” ucap Kusno dengan sombong sembari menepuk dadanya.
“Baiklah jika begitu, Mbah saya pamit terlebih dahulu, dan kalau bisa aku mau lihat Trisno sangan bisnisku bisa bangkut dalam tempo yang singkat,” kata Anwar kepada Kusno.
“Sebentar jangan pergi dahulu kamu punya fotonya.”
“Ada Mbah, kebetulan memang telah saya siapkan siapa tahu Mbah membutuhkan.”
“Kalau begitu bisa berikan foto sainganmu itu.”
“Tunggu sebentar Mbah.”
Anwar merogoh kantong celananya untuk mengambil foto Trisno yang telah Anwar persiapkan sebelum ke rumah mbah Kusno.
“Ini fotonya Mbah,” ucap Anwar memberikan kepada Kusno.
Kusno pun mengambil foto yang di berikan oleh Anwar.
“Baiklah, serahkan kepada Mbah, oh iya siapa nama pesaing bisnismu itu?” tanya kembali Kusno.
“Trisno Pratama mbah,” ujar Anwar.
Mbah Kusno pun menuliskan nama Trisno Pratama di balik foto.
“Baik semua sudah selesai nanti malam akan mbah kirim santet ke Trisno itu, agar dia tidak bisa bekerja kembali dan sesuai kemauan mu, pesaing bisnis mu akan bangkrut,” ucap Kusno yang menjanjikan kepada Anwar.
“Bagus kalau begitu Mbah,” ujar Anwar.
“Baiklah saya pamit dahulu Mbah.”
Anwar pun berpamitan kepada mbah Kusno, ia berjalan keluar dari rumah mbah Kusno dengan hati yang sangat gembira.
‘ Sebentar lagi kau akan bangkrut Trisno, dan aku akan menjadi nomor satu kembali,' batin Anwar.
Sesampainya Anwar di depan mobilnya, Anwar masuk ke dalam mobil.
“Ayo Pak Ujang kita pulang!” Perintah Anwar.
“Baik Pak,” sahut Ujang.
Setelah itu Ujang pun menjalankan mobil Anwar meninggalkan rumah mbah Kusno dan kembali ke rumahnya.
Di dalam perjalanan menuju rumah Ujang membuka obrolan ingin mengetahui secara detail bagaimana menurut mbah Kusno.
“Bagaimana Pak? Apa kata Mbah Kusno?” tanya Ujang.
“Katanya malam ini mbah Kusno akan mengirimkan santet ke rumah Trisno, agar Trisno tidak dapat bekerja lagi dan akhirnya bangkrut,” pungkas Anwar kepada Ujang.
“Oh begitu Pak.”
“Kira-kira mbah Kusno ini berhasil tidak ya pak Ujang,” ucap Anwar yang sedikit ragu.
“Tenang saja Pak, mbah Kusno itu sudah terkenal di kampung saya dan juga semua santetnya tidak perlu di ragukan lagi, mbah Kusno belum pernah gagal dalam mengirim santet untuk sang target. Itu sih yang saya dengar dari penduduk kampung saya pak,” Ujang meyakinkan Anwar tentang kehebatan Kusno.
“Baiklah jika begitu kali ini aku percayakan kepada Mbah Kusno itu,” sahut Anwar mencoba yakin kepada kesaktian mbah Kusno.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama ke rumah mbah Kusno akhirnya Anwar tiba di rumah.
Anwar pun masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu.
Seorang anak laki-laki berusia 6 tahun menghampirinya.
“Ayah sudah pulang,” ucap anak laki-laki itu dengan sangat gembira.
“Eh Bayu, sini Nak,” ucap Anwar mengendong anaknya yang bernama Bayu Anwari.
“Ayah nanti kita beli mainan mobil-mobilan lagi ya,” ujar Bayu yang sedang di gendong Anwar.
“Iya Nak, oh iya ibu mana?” tanya Anwar.
“Ibu ada di kamar yah,” sahut Bayu sembari menunjuk kamar ibunya.
“Ayo kita datangi ibu,” kata Anwar.
Anwar pun mengendong Bayu berjalan ke dalam kamar mereka.
Sesampainya di dalam kamar Rini istri Anwar pun menegurnya.
“Kamu sudah pulang Mas?” ucap Rini.
__ADS_1
“Iya sayang,” ucap Rian.
“Bayu main sama bibi ijah dahulu ya Nak, Ayah sama ibu mau istirahat dahulu,” ujar Anwar yang mengendong Bayu.
“Ya, Ayah,”
“Nanti Ayah temenin Bayu mainan ya.”
“Iya Yah.”
Anwar pun keluar dari kamar dan memanggil Bi Ijah untuk menjaga Anwar.
“Bi ijah! Bi ijah!” Pekik Anwar.
Bi Ijah yang mendengar panggilan dari Anwar pun segera menghampirinya.
“Iya Pak, ada apa?” tanya bi Ijah.
“Bi saya minta tolong jagakan Bayu sebentar.”
“Iya Pak, yuk Bayu main sama Bi Ijah yah,” ucap bi Ijah.
Bi Ijah pun mengambil Bayu dari gendongan Anwar setelah itu mengendong Bayu mengajaknya bermain.
Anwar pun kembali masuk ke kamarnya untuk beristirahat di temani oleh Rini.
Anwar menghampiri Rini yang berada di atas tempat tidurnya.
“Kamu terlihat lelah sekali Mas?” tanya Rini.
“Iya, bisnis batu bara ku sedang mengalami penurunan. Ini gara-gara Trisno pesaingku, semua relasiku ingin di ambilnya semua dan sekarang mereka berpindah mengambil batu bara milik Trisno. Memang harga lebih murah Trisno ketimbang harga yang aku berikan kepada mereka, tapi bisnis batu bara milik Trisno itu ilegal tidak seperti punya ku,” ucap Anwar menjelaskan kepada Rini.
“Kenapa tidak di laporkan saja Mas?”
“Susah sayang, tidak semudah itu aku harus punya bukti yang kuat jika tidak nanti mereka malah melaporkan aku balik pencemaran nama baik. Aku belum punya bukti yang kuat sayang,” Anwar yang menjelaskan kepada Rini.
“Sabar Mas, nanti pasti akan ada jalan keluarnya,” sahut Rini mencoba menenangkan Anwar.
“Iya sayang.”
***
Sementara mbah Kusno sedang duduk di kamar ritualnya memantau Trisno melalui mata batinnya.
Mbah Kusno menunggu Trisno tertidur untuk dapat mengirimkan santet kepadanya, karena menurut mbah Kusno di waktu tidurlah seseorang itu tidak sadar sukmanya tidak ada di dalam dirinya sehingga memudahkan kiriman santet itu masuk kepada sang target.
Beberapa jam telah berlalu malam pun mulai semakin larut, kini mbah Kusno melihat dengan mata batinnya Trisno tertidur.
Mbah Kusno pun mulai melakukan ritualnya ilmu hitamnya dengan media foto yang di berikan oleh Anwar.
Mbah Kusno memasang foto Trisno di depan boneka santet yang telah ia buat sebelumnya.
Dengan mengucap mantra, mbah Kusno mengelilingi foto Trisno dengan asap kemenyan lalu meletakkanya di atas kain hitam dengan taburan bunga tujuh rupa di atasnya.
Mbah Kunso menggigit ayam cemani dengan giginya hingga darahnya berhamburan dan mengenai seluruh bagian foto Trisno.
Bau amis darah menyeruak di seluruh ruangan bercampur dengan bau asap kemenyan, mbah Kusno lalu mengeluarkan botol kecil dari kantung yang terbuat dari kain berwarna hitam.
Minyak tersebut di oleskan ke foto Trisno.
Di sisi lain di kediaman Trisno, saat Trisno tengah terlelap pulas bersama Lasmi tiba-tiba terdengar suara yang mengejutkan Trisno.
Suara itu seperti sebuah batu yang dilemparkan ke kaca rumahnya saking kerasnya semua orang menjadi terkejut dan terbangun.
“Apa itu?” tanya Trisno yang bangkit dari tempat tidurnya.
“sebaiknya aku periksa,” ucap Trisno.
Trisno beranjak dari tempat tidurnya lalu keluar kamar menuju ruang tamu, di sana sudah ada Iwan, Usup serta Tini yang juga mendengar suara tersebut.
“Apa yang terjadi?” tanya Trisno.
“Gak tahu Bos tiba-tiba ada suara dan kami langsung bangun,” ucap Iwan.
Trisno pun berjalan menuju jendela yang ada di ruang tamu untuk memeriksa keadaan di luar, saat Trisno membuka gorgen berwarna coklat itu ia terkejut karena kaca jendela miliknya retak.
“Sialan siapa yang berani melempar rumahku,” ucapnya kesal.
“Kalian berdua periksa seluruh area rumah, cari orang itu sampai dapat,” ucap Trisno.
“Baik Bos.”
__ADS_1
Trisno yang sudah sangat kesal pun mengambil sebuah balok kayu dan keluar rumah untuk mencari orang yang melempar jendelanya.
Tini yang melihat hal itu juga merasa waswas, ia takut ada orang jahat yang ingin melukai mereka.
Trisno dan anak buahnya telah berkeliling mengitari sekitar rumah bahkan sampai keluar halaman namun tidak membuahkan hasil.
Mereka pun kembali masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa.
“Siapa yang berani-beraninya bermain-main dengan Trsino,” ucapnya kesal.
“Lihat saja dia akan tahu akibatnya,” sambungnya.
Trisno dengan keadaan marah masuk ke ruangan ritualnya, sedangkan Yang lainnya kembali ke kamar masing-masing.
Di sana ia memanggil Jenglot dan meminta petunjuk siapa yang telah bermain-main dengannya.
Seperti biasa Trisno menyayat jarinya lalu memberikan darahnya tersebut ke pada Jenglot.
Sambil mengucap matra Trisno memanggil jenglot tersebut.
“Ada apa kamu memanggilku Trisno?” ucap jenglot tersebut.
“Ada yang ingin bermain-main denganku, apa kamu bisa mencari tahunya jenglot?” ucap Trisno.
Jenglot itu terdiam sejenak seakan tengah mencari tahu apa yang Trisno maksud.
“Ada yang ingin mengirim santet untuk mu Trisno,” ucap jenglot itu.
“Apa? Santet?”
“Ini bukan dari dukun sembarangan, dia mengirim banas pati ke sini.”
“Kurang ajar! Lalu bagaimana? Apa kamu bisa membantuku dari segala hal seperti ini?” tanya Trisno.
“Tapi syaratnya beriakan aku tumbal selama satu tahun sekali,” pinta Jenglot.
“Itu terlalu singkat, apa tidak bisa dua tahun saja?”
“Mau atau tidak itu ada kepadamu, tapi aku tidak akan menjamin keselamatanmu!”
“Ba-baik Jenglot. Aku menyetujuinya.”
Layaknya sebuah kontrak baru, Jenglot itu langsung menghilang.
Keesokan harinya, Trisno beraktivitas seperti biasa, bersama dengan kedua ajudan setianya itu Trisno memantau perkembangan tambangnya.
Saat itu tidak sengaja Trisno berpapasan dengan Arifin, Arifin heran karena Trisno terlihat biasa-biasa saja tanpa ada cacat atau sakit apa pun. Bahkan Trisno terlihat tambah bugar dan sehat.
Hal ini membuat Anwar emosi, karena santet yang ia minta pada mbah Kusno tidak berguna.
“Sialan si Trisno, dia tidak terlihat sedang sakit atau apapun. Aku harus menemui mbah Kusno,” ucapnya.
Anwar melaju memacu mobilnya dengan penuh emosi.
Di tempat berbeda, mbah Kusno merasakan akan ada serangan balik dari Trisno. Belum sempat ia menghindar dan menyusun rencana, ia sudah di serang.
Dengan cepat mbah Kusno menahan serangan tersebut, saat ia melihat siapa yang menyerangnya ia langsung terkejut.
“Jenglot?”
‘Tidak aku sangka aku harus berhadapan dengan makhluk itu,' batin mbah Kusno.
Serangan demi serangan di terima mbah Kusno hingga ia lengah dan terkena serangan jenglot tersebut.
Mbah Kusno langsung memuntahkan darah dari mulutnya, ia mendapatkan serangan bertubi-tubi. Namun untungnya ia bisa menghindar.
Serangan jenglot itu menghilang, mbah Kusno langsung tersandar di dinding sambil meringis kesakitan.
Mbak Kusno berusaha mengobati lukanya dengan menggunakan tenaga dalamnya hingga tidak lama Anwar datang menghampirinya.
“Mbah tadi saya ketemu Trisno dan saya lihat dia baik-baik saja,” ucap Anwar.
Sambil menahan rasa sakit di dada dan perutnya mbah Kusno memberi tahu kepada Anwar.
“Lawan kita bukan orang sembarangan, dia memiliki jenglot yang dia gunakan sebagai penghalang banas patiku,” ucapnya.
“Jenglot? Si Trisno pelihara Jenglot?” ucapnya kaget.
“Pantas saja dia sangat kaya,” sambungnya.
“Kamu tenang saja, aku akan berusaha sebisaku untuk menjatuhkannya,” ucap mbah Kusno.
__ADS_1