
Dari alamnya, nyai Asih sangat marah karena melihat perwujudan jenglotnya yang penuh luka serta berbau gosong.
Ia pun langsung mendatangi Trisno, saat itu Trisno tengah tidur berbaring di kamarnya.
“Trisno!” ucap nyai Asih yang tiba-tiba muncul.
“Nyai. A-ada apa mendatangiku tumben sekali,” sahut Trisno langsung bangkit dari tempat tidurnya.
“Jangan berlagak bodoh! Kau apakan jenglotku?” tanya nyai Asih.
“Aku tidak tahu nyai. Aku hanya memintanya untuk kembali menyantet Anwar,” sahut Trisno.
“Kurang ajar! Gara-gara hal ini energi jenglot menjadi lemah.”
“Lalu apa yang harus aku lakukan nyai?” tanya Trisno.
“Kau tidak bisa memakainya untuk sementara waktu. Aku akan memberimu satu cara,” ucap nyai Asih.
“Apa itu nyai? Apa pun itu akan aku lakukan,” ucap Trisno.
“Darah gadis perawan. Kau cari itu maka kau bisa melawan musuhmu itu,” ucap nyai Asih.
“Darah? Berarti aku harus membunuhnya?”
“Kenapa tidak. Ini demi kejayaanmu sendiri, kau cari itu dan jika sudah mendapatkannya kau panggil aku,” ucap nyai Asih.
Nyai Asih pun menghilang, Trisno sedikit berat dengan persyaratan tersebut. Namun, ambisinya untuk menjadi lebih kaya sangat besar dan mengalahkan ketakutannya itu.
Keesokan harinya Trisno memanggil Iwan dan juga Usup untuk mencari seorang gadis perawan.
“Iwan, Usup kemari!” pinta Trisno.
“Ada apa Bos?” tanya Iwan.
“Aku punya tugas untuk kalian, jika kalian berhasil maka akan aku beri upah dengan harga setara satu buah mobil untuk kalian,” ucap Trisno.
Mendengar upah yang begitu mahal, Usup dan juga Iwan pun dengan senang hati menerima perintah dari Trisno.
“Baik Bos, apa yang harus kami lakukan?” tanya Iwan.
“Kalian cari gadis yang benar-benar perawan kalau sudah dapat bawa gadis itu ke hadapanku!”
“Dan ingat, jangan sampai ada yang tahu masalah ini mengerti,” sambung Trisno.
“Baik Bos laksanakan, kami akan carikan gadis itu untuk Bos,” ucap Iwan.
Usup dan Iwan pun pergi menggunakan mobil yang sebelumnya di berikan oleh Trisno untuk mereka berdua, dalam perjalanan Usup bertanya-tanya untuk apa gadis tersebut.
“Wan, Bos kok mintanya yang aneh-aneh sih?” tanya Usup.
“Udah gak usah dipikirin yang penting dapat duit,” sahut Iwan.
“Tapi untuk apa? Apa untuk tumbal pesugihan?” pikir Usup.
“Buat di jadiin istri muda mungkin,” sahut Iwan.
“Ah ... Itu gak mungkin. Pasti buat tumbal.”
__ADS_1
“Sudahlan gak usah di pikirin, sebentar lagi kita bakala dapat duit banyak,” ucap Iwan.
Mobil pun melaju ke sebuah desa, Iwan dan Usup memulai pencariannya dari desa tersebut. Saat di depan pintu masuk, Iwan memarkirkan mobilnya jauh masuk ke dalam hutan.
Mereka berdua berjalan menyusuri desa hingga duduk di sebuah warung kopi. Di sana terdapat beberapa pemuda yang tengah mengobrol santai sambil memetik gitar.
“Bu kopi dua ya,” ucap Iwan.
Tidak lama dua gelas kopi pun datang dan di taruh di depan meja Usup dan Iwan.
“Kita harus cari kemana?” bisik Usup.
“Kita keliling aja nanti juga dapat,” sahut Iwan sambil menyeruput kopinya.
Saat mereka tengah bersantai, tiba-tiba seorang pemuda bersiul girang dan memanggil sebuah nama.
“Sari mau kemana?” goda pemuda itu.
Iwan dan Usup pun menoleh, terlihat seorang wanita muda berpakaian sederhana berparas cantik tengah berjalan sambil membawa beberapa barang belanjaan.
“Mau pulang,” sahutnya ketus.
“Mau abang antarin gak?” ucap pemuda itu.
“Gak usah Bang, udah dekat juga,” sahutnya.
Wanita muda itu pun berlalu pergi dan lebih memilih tidak menghiraukan para pemuda yang menggodanya tersebut.
“Si Sari memang gadis tercantik kalau saja aku kaya raya mungkin aku akan di terima oleh orang tuanya buat jadi mantu,” ucap pemuda itu.
“Jangan kebanyakan mimpi kamu Dir,” sahut kawannya.
Mendengar ucapan tersebut, Iwan dan Usup saling bertatapan. Mereka rupanya sudah mendapatkan target incaran.
Namun mereka tidak boleh gegabah, mereka memilih waktu yang pas untuk menjebak wanita yang bernama Sari tersebut.
Mereka berdua pun mengontrak sebuah rumah kecil untuk tempat tinggal sementara mereka.
Usup dan Iwan berdalih ingin mencari kerja di desa tersebut mereka bahkan sampai berkeliling untuk dan bertanya pada warga.
Hingga mereka mendapat informasi jika ada juragan yang membutuhkan buruh ladang jagung. Mereka berdua pun langsung pergi ke sana untuk melamar pekerjaan.
“Sup ingat kita di sini juga untuk memantau situasi dan mencari jalan pintas menuju mobil kita,” ucap Iwan.
“Iya aku paham.”
Sesampainya di rumah juragan itu, mereka di sambut hangat bahkan di suguhi minuman.
Mereka berdua pun memberi tahukan alasan mereka mendatangi rumah juragan tersebut yaitu untuk melamar pekerjaan.
Melihat postur tubuh Usup dan Iwan yang tegap dan kekar juragan yang bernama Kodir itu pun langsung menerima mereka untuk bekerja.
Kodir pun membawa mereka untuk melihat lokasi ladang miliknya yang luasnya kurang lebih 20 hektar tersebut.
Mereka diajak masuk ke dalam mobil bak terbuka untuk menuju ladang, mobil terus melaju hingga keluar dari desa.
Lokasi ladang tersebut berada di pinggir jalan dan berdekatan dengan hutan tempat mereka menyembunyikan mobilnya.
__ADS_1
“Sepertinya keberuntungan sedang berpihak pada kita,” bisik Usup.
Usai melihat-lihat serta menjelaskan apa yang harus Iwan dan Usup lakukan, Kodir pun mengantar mereka pulang ke kontrakannya.
“Kalian jangan lupa besok pagi sudah harus ada diladang,” ucap Kodir.
“Baik juragan,” sahut Iwan.
Kodir memacu mobilnya itu lalu pergi meninggalkan Usup dan juga Iwan.
Mereka berdua pun masuk ke dalam dan mulai mengatur strategi.
Sebelumnya Iwan menghubungi Trisno untuk memberi tahukan jika mereka menemukan gadis itu.
“Halo Bos,” ucap Iwan di telepon.
“Bagaimana?” tanya Trisno.
“Kami sudah dapat targetnya, tapi kami harus susun rencana dulu Bos,” ucap Iwan.
“Kalian atur saja, yang penting jangan sampai ada yang tahu.”
“Siap Bos.”
Iwan menutup teleponya dam mulai berdiskusi dengan Usup.
“Wan kenapa kita harus kerja sih? Kita kan punya banyak duit,” ucap Usup.
“Ini biar posisi kita di desa ini tidak mencurigakan. Kita juga harus sering berbaur dengan warga jangan sampai tertutup nanti ada yang curiga,” ucap Iwan.
“Kamu benar juga Wan,” sahut Usup.
“Besok kita kerja saja, sekalian kita cari informasi tentang wanita yang namanya Sari itu.”
“Dan nanti kalau si Sari itu sudah kita bawa ke rumah Bos, kita jangan langsung menghilang dulu dari desa ini kita harus pantau pergerakan warga,” ucap Iwan.
“Ya sudah kalau begitu. Untungnya ini desa kecil jadi hilang satu orang saja mungkin mereka akan menganggap orang itu hilang di gondol buto ijo,” sahut Usup.
Keesokan paginya Usup dan Iwan siap untuk bekerja, di sana ternyata bukan hanya mereka saja tapi juga ada beberapa pekerja dari desa lain.
Sambil menyelam minum air, itulah peribahasa yang cocok untuk menggambarkan keadaan Iwan dan Usup saat ini. Sambil bekerja mereka mengumpulkan informasi tentang Sari. Siapa dan dimana rumah sari informasi itu telah mereka kantongi.
Hingga suatu hari Usup dan Iwan mencoba mengintai Sari dari rumahnya. Rupanya Sari adalah orang yang berada memiliki rumah yang bagus ketimbang warga desa kebanyakan.
Terlihat Sari keluar rumah untuk pergi ke suatu tempat, Usup dan Iwan terus mengamati aktivitas Sari sehari-hari, jalan mana saja yang sering Sari lewati serta apa saja yang Sari lakukan setiap harinya.
Dua minggu sudah Usup dan Iwan memantau Sari dan berada di desa tersebut. Para warga juga sudah mengenal baik mereka Iwan dan Usup juga aktif dalam ronda.
Mereka berdua tidak pernah bertanya langsung pada warga tentang Sari, mereka lebih suka menguping pembicaraan antar warga dimana pun itu.
Setelah mengumpulkan informasi secara lengkap, Usup dan Iwan mulai menyusun rencana penangkapan Sari.
“Sup kita bagi tugas, biasanya jam delapan malam desa ini sudah sepi. ronda juga mulainya jam sembilan. Waktu kita cuma satu jam,” ucap Iwan.
“Lalu aku harus apa?” tanya Usup.
“Kamu pura-pura jadi nenek-nenek, karena aku dengar si Sari itu suka membantu jadi kita manfaatkan saja itu,” ucap Iwan.
__ADS_1
“Aku sudah siapkan kostumnya, aku ambil ini kemarin dari rumah Bos,” sambung Iwan sambil menenteng baju jadul yang ia pinjam pada Tini.
Iwan juga menyiapkan sebuah rambut palsu. Malam hari pukul tujuh Iwan dan Usup keluar dari kontrakannya.