
30 menit kemudian Nilam telah sampai di rumah mbah Minah.
Agus ayah dari Nilam keluar dari mobilnya.
“Mbah Minah! Mbah tolong bukaan pintunya,” pekik Agus sembari mengetuk pintu mbah Minah.
Mendengar ada yang mengetuk pintu rumah mbah Minah.
Trisno yang sempat tertidur di ruang tamu pun terbangun dan membangunkan mbah Minah.
“Mbah Minah sepertinya ada yang mengetuk pintu,” ucap Trisno mendatangi mbah Minah di kamarnya.
Mbah Minah yang mendengar ucapan Trisno pun terbangun lalu bergegas menuju pintu utama.
Setelah sampai di pintu utama, mbah Minah membukakan pintu rumahnya.
Terlihat, Agus, Yuli, serta Nilam di depan pintu rumah mbah Minah.
“Mbah tolong mbah, anak saya mau melahirkan,” ucap Agus.
“Ayo masuk dan bawa anakmu ke kamar persalinan,” kata mbah Minah.
Nilam di bopong menuju kamar persalinan di mana kamar tempat mbah Minah membantu persalinan warga kampung dan juga aborsi.
Nilam di bantu oleh ke dua orang tua menuju tempat tidur yang terbuat dari bambu beralaskan tikar.
Nilam yang sudah berada di atas tempat tidur itu pun merintih kesakitan.
“Tolong yang tidak berkepentingan tinggalkan ruangan ini,” ujar Mbah Minah.
“Nilam buka celanamu pakai sarung ini,” kata mbah Minah yang memberikan sebuah sarung di tangannya.
“Iya Mbah,” ucap Nilam.
Sementara Nilam mengganti celana dengan sarung mbah Minah mempersiapkan perlengkapan untuk membatu proses persalinan.
Setelah semua sudah siap mbah Minah pun mulai membantu persalinan dari Nilam.
“Nilam dengarkan aba-aba dari Mbah Ya,” ujar mbah Minah.
“Iya Mbah,” sahut Nilam.
Nilam pun mulai melakukan apa yang mbah Minah perintahkan hingga akhirnya terdengar suara tangisan bayi menggema di ruangan persalinan mbah Minah.
“Pak, anak Nilam sudah lahir,” kata Yuli yang terlihat senang saat mendengar tangisan seorang bayi.
“Iya Nilam sudah melahirkan,” celetuk Agus.
Sementara itu mbah Minah memberikan bayi itu kepada Nilam untuk di berikan Asi.
__ADS_1
“Nilam selamat, anakmu laki-laki lahir dengan selamat dan sehat,” ujar mbah Minah.
Nilam yang melihat anaknya pun sangat bahagia sampai ia pun meneteskan air mata kebahagiaan.
Namun Trisno yang telah mendengar anak Nilam lahir pun langsung masuk ke kamar bersalin itu, dan merampas bayi itu di tangan Nilam.
“Anakku, pak jangan ambil anakku,” ujar Nilam yang tidak mau anaknya di berikan kepada Trisno.
“Sesuai kesepakatan kita, setelah bayi ini lahir maka bayi akan jadi milikku,” ucap Trisno.
“Pak aku yang mengandungnya sembilan bulan dan melahirkannya. Kini aku sangat menyayanginya aku mohon jangan di ambil, aku akan mengembalikan semua pemberian bapak Trisno,” ucap Nilam.
Trisno yang tidak mau tahu dan tidak peduli dengan ucapan Nilam pun segera bergesa pergi membawa bayi itu bersama dengan Iwan.
Namun saat Trisno ingin pergi Yuli ibu Nilam mencoba menghalanginya.
“Pak Trisno, saya akan kembalikan semua uang yang bapak beri kepada kami asal kebalikan cucu ku,” ujar Yuli.
“Tidak ini sudah kesepakatan kita setelah anak ini lahir ini menjadi milikku, kenapa baru sekarang kalian berubah pikiran setelah anak ini lahir, kesepakatan tetap kesepakatan apa pun itu bayi ini sudah menjadi milikku,” gertak Trisno.
“Sudahlah Bu, benar kata pak Trisno kita sudah membuat kesepakatan dengannya jadi kita tidak boleh ingkar, lagi pula bayi itu tidak punya bapak kasihan nanti jika telah besar dia akan menjadi bahan bulian warga kampung sebagai anak haram Bu,” pungkas Agus kepada sang Istri.
Tanpa menunggu lama lagi Trisno berserta Iwan masuk ke dalam mobilnya membawa bayi itu meninggalkan rumah mbah Minah.
Di dalam perjalanan menuju rumah Trisno tampak kesal dengan Nilam berserta ibunya.
“Iya Bos, enak sekali mereka semua. Kesepakatan sudah di buat setelah itu mereka tidak jadi,” sahut Iwan yang membela Trisno.
Beberapa menit kemudian mereka berdua telah sampai di rumah Trisno.
Trisno yang turun dari mobilnya sembari mengendong bayi Nilam berjalan memasuki rumahnya.
Saat ia membuka pintu Lasmi telah menyambutnya.
“Kamu berhasil mendapatkan bayinya Mas,” ujar Lasmi.
“Iya Lasmi aku telah berhasil mendapatkan bayi untuk tumbal.”
“Baguslah jika begitu Mas, keluarga kita tidak di teror kembali oleh si jenglot itu.”
“Iya Lasmi, tunggu sebentar di sini aku akan memberikan tumbal ini kepada sang jenglot,”
“Iya Mas.”
Trisno pun berjalan menuju kamar ritualnya, sesampainya di kamar ritualnya Trisno mulai menjalan ritual pemanggilan sang jenglot.
Trisno mulai menyalakan dupa setelah itu barulah dirinya menusukkan jarum ke jari manisnya.
Darah segar pun keluar dari jari manisnya Trisno meneteskan darah itu ke mulut jenglot yang berada di kotak kayu sembari membacakan mantra untuk memanggil sang jenglot.
__ADS_1
Seketika kotak kayu tempat jenglot itu berada bergetar pun bergetar.
Dan sang jenglot yang berada di dalam kotak kayu itu berubah menjadi makhluk yang mengerikan.
“Ada apa Trisno kau memanggil diriku, apa tumbal bayi telah kau dapatkan?” tanya sang jenglot.
“Aku sudah mendapatkannya ini bayi yang kau inginkan,” ucap Trisno.
“Bagus Trisno, kau telah menepati janjimu.”
“Sekarang aku minta jangan ganggu keluargaku lagi, dan buat aku semakin kaya.”
“Tenanglah Trisno, aku akan mengabulkan semua permintaanmu asal kau dapat memenuhi tumbal yang aku inginkan. Mana makananku, aku sudah tidak sabar lagi.”
“Ini ambillah,” ucap Trisno yang menyerahkan bayi Nilam kepada sang jenglot.”
Seketika jenglot itu mengambil bayi dari tangan Trisno dan terjadilah fenomena yang sangat mengerikan.
Jenglot itu langsung menggigit leher bayi Nilam dan menghisap habis darahnya.
Tidak hanya itu jenglot itu mengambil jantu sang bayi dengan di bantu kuku tangan yang tajam menembus dada bayi itu dan berhasil mengambil jantung sang bayi.
Sepeti moster yang sedang sangat kelaparan sang jenglot menikmati setiap tubuh sang bayi.
Trisno yang sangat ngeri melihat hal itu pun meninggalkan sang jenglot.
Terkadang di benak kecilnya ada perasaan bersalah menumbalkan bayi-bayi yang tidak bersalah.
Namun karena Trisno sudah terikat kontak ia pun tidak bisa berbuat apa-apa.
Karena ancaman sang jenglot sendiri bukanlah main-main. Melainkan nyawa keluarga kecilnya yang akan di pertaruhkan.
Sebenarnya secara tidak langsung Trisno telah menjadi budak sang jenglot tanpa dirinya sadari.
Trisno harus memberikan makan setiap satu minggu sekali dengan ayam cemani di tambah pula tumbal bayi di pertiga tahun sekali.
Beberapa bulan kemudian setelah berhasil memberikan tumbal kepada sang jenglot kekayaan Trisno semakin meningkat.
Bisnis batu baranya yang ia jalankan kurang lebih setahun kini meningkat santa pesat.
Banyak negara asing yang ingin di ekspor batu bara Trisno. Karena menurut merekan kualitas batu bara milik Trisno itu sangat bagus sekali.
__ADS_1