
Setiap malam tepatnya tengah malam saat semua orang telah tertidur pulas Trisno berjalan mengendap-endap mendatangi Surti di ruangan bawah tanah.
Trisno yang mulai ketagihan tidak dapat membendung hasratnya kepada Surti.
Saat dirinya telah berada di ruang bawah tanah Trisno melihat Surti yang sedang tertidur.
Tanpa ragu Trisno memulai aksinya kembali.
Surti yang terbangun melihat Trisno sangat ketakutan dia tahu apa yang akan Trisno perbuat pada dirinya.
“Jangan pak saya mohon jangan,” ucap Surti yang hanya bisa memohon.
“Tenang Surti aku tidak melukaimu.”
“Jangan lakukan itu pak, tolong lepaskan saya,” Surti kembali mohon.
Namun Trisno tidak memedulikan Surti, Trisno kembali mendekati Surti dan melakukan aksi bejatnya.
Sampai akhirnya selesai. Trisno kembali memasang celana dan meninggalkan Surti begitu saja.
Trisno yang telah puas menikmati tubuh Surti pun kembali masuk ke kamarnya, kembali tidur dengan sang Istri.
Lasmi tiba-tiba terbangun dari tidurnya menanyakan Trisno.
“Dari mana kamu Mas,” ujar Lasmi yang bertanya.
“Aku tidak bisa tidur, aku duduk di ruang tamu untuk mengisap roko,” ujar Trisno yang berbohong.
Lasmi yang tidak curiga pun kembali melanjutkan tidurnya.
Merasa Lasmi tidak curiga kepadanya Trisno pun kembali tidur.
Malam itu menjadi malam kelam bagi Surti, ia tidak menyangka Trisno sampai hati melakukan hal bejat itu kepadanya.
Surti terisak di ruangan bawah tanah yang pengap itu, suara tangisnya menggema. Kesedihan serta rasa hancur di hatinya tak terbendung.
‘Jika seperti ini lebih baik aku mati!’ batin Surti.
Sepanjang malam Surti tidak tidur, matanya terbuka namun menatap kosong ke arah dinding. Hingga Tini datang membawakan makanan untuknya.
“Surti ini makann untuk kamu, dimakan ya,” ucap Tini lalu beranjak pergi.
__ADS_1
Surti menatap ke arah piring makan itu serta segelas air putih.
Surti meraih gelas itu lalu memecahkannya, Surti kemudian mengambil pecahan gelas itu lalu menyayat pergelangan tangannya.
Sambil meringis menahan sakit Surti terus menyayat pergelangan tangannya hingga mengenai urat nadinya.
Darah mengalir keluar begitu banyak hingga membasahi lantai, perlahan Surti mulai lemas dan tidak sadarkan diri.
Beberapa menit kemudian Tini kembali menghampiri Surti, saat Tini masuk ia terkejut melihat Surti sudah bersimbah darah.
“Trisno! Trisno!” teriak Tini.
Berkali-kali Tini memanggil Trisno, hingga terdengar oleh Usup.
Usup pun berlari menghampiri Tini.
“Ada apa Bu?” tanya Usup.
“Surti ... Surti!” pekik Tini.
Usup pun langsung melihat keadaan Surti, Usup pun berdiri lalu berlari untuk menghampiri Trisno yang tengah santai di ruang tamu.
“Bos ... Bos!” ucap Usup.
“Surti Bos, motong tangannya sendiri.”
Trisno yang terkejut langsung beranjak dari tempat duduknya lalu menyuruh Usup mencari mantri.
“Cari mantri sampai dapat, kalau tidak kalian jangan pulang mengerti!”
“Ba-baik Bos.”
Trisno menghampiri Surti, ia membuka pasungannya lalu mengangkat tubuh Surti dan membawanya ke kamar Surti dulu yang pernah ia gunakan.
Ia juga menyuruh Tini untuk menggantikan pakaian Surti dengan yang baru lalu membersihkan tubuh Surti yang kotor.
Hingga Usup dan Iwan datang membawa seorang mantri masuk ke dalam rumah.
Mantri itu langsung di ajak ke kamar Surti, Mantri itu memeriksa luka yang di alami Surti.
“Untungnya ini tidak terlalu parah, saya akan mengobatinya,” ucap Mantri itu.
__ADS_1
Ia pun mulai mengeluarkan perlengkapannya serta beberapa obat, menyuntikkan obat ke tubuh Surti.
“Pak Trisno, jika nanti mbak ini telah sadar berikan obat ini secara rutin ya pak,” ujar Mantri yang memeriksa Surti.
“Baik Pak Mantri,” sahut Trisno.
Setelah itu Iwan di tugaskan mengantar Mantri untuk pulang ke rumahnya, Sementara Usup di tugaskan Trisno untuk menjaga Surti.
“Usup tolong jaga Surti di kamarnya jangan sampai dia kabur kembali seperti waktu itu, kamu mengerti!” ujar Trisno ke pada Usup.
“Baik bos,” sahut Usup.
Trisno pun meninggalkan Usup di kamar Surti, dan ia menghampiri sang ibu untuk meminta tolong.
“Bu tolong nanti jika Surti telah sadarkan diri berikan obat yang telah di beri mantri tadi obatnya aku taruh di atas meja kamarnya. Untuk sentara dia aku taruh di kamar terlebih dahulu sampai benar-benar sehat baru aku kembalikan lagi ke ruangan bawah tanah,” ujar Trisno menjelaskan kepada sang ibu.
“Kenapa tidak kamu bebaskan saja Trisno, kasihan dia,” ujar Tini yang membela Surti.
“Jangan Bu akan bahaya nanti jika dia melaporkan ke pihak berwajib aku membunuh anaknya untuk di jadikan tumbal dan menganiayanya,” ujar Trisno yang menjelaskan.
“Ibu tidak tega melihat Surti seperti itu Trisno.”
“Sudahlah Bu, ibu jangan terlalu ikut campur dengan urusanku,” ucap Trisno.
Tidak lama terdengar suara Usup yang memanggil Trisno.
“Bos ada yang nyariin,” ucap Usup.
“Ya sudah suruh masuk,” pinta Trisno.
“Baik Bos.”
“Bu ingat pesan Trisno tadi. Trisno mau pergi dulu mau urus bisnis,” ucapnya.
Trisno pun beranjak dan berjalan menuju ruang tamu untuk menghampiri Arifin.
“Gimanq Fin kita langsung?” tanya Trisno.
“Iya langsung aja,” sahutnya.
“Usup Iwan, kalian jaga rumah baik-baik.”
__ADS_1
“Siap Bos.”
Trisno masuk ke dalam mobil bersama Arifin, mobil melaju menuju tempat dimana tambang itu berada.